SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Pemerintah Kecamatan Batuceper bersama masyarakat menggelar doa dan ziarah bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan situs cagar budaya Makam Raden Aria Santika, Jalan Sempati, Kelurahan Batuceper, Kota Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan bertema “Meneladani Akhlak dan Menjaga Adab pada Warisan Budaya” itu diikuti ratusan warga, tokoh agama, elemen masyarakat, jajaran Pemerintah Kota Tangerang, serta anggota DPRD Kota Tangerang. Acara juga diisi penyerahan santunan kepada puluhan anak yatim dan piatu dari sejumlah pondok pesantren dan panti asuhan di Batuceper.
Anggota DPRD Kota Tangerang Teja Kusuma mengatakan, peringatan Maulid Nabi di kawasan cagar budaya menjadi momentum untuk melihat Islam sebagai bagian dari sejarah dan kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, jejak Raden Aria Santika dan Tiga Raksa bukan hanya menyimpan sejarah perjuangan, tetapi juga nilai keislaman dan keberanian yang relevan bagi generasi saat ini.
“Merawat cagar budaya bukan sekadar menjaga makam, tetapi juga menjaga ingatan dan nilai perjuangan di baliknya. Generasi muda harus memahami mengapa para pendahulu berjuang dan menerjemahkan nilai tersebut untuk menjawab persoalan zaman,” ujar Teja.
Berdasarkan catatan cagar budaya, Raden Aria Santika merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Tangerang. Bersama Raden Aria Wangsakara dan Raden Aria Yuda Negara, ia dikenal sebagai bagian dari Tiga Raksa yang memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Banten dan perjalanan pembentukan wilayah Tangerang. Raden Aria Santika tercatat gugur dalam pertempuran melawan kepentingan kolonial di Kebon Besar pada 1717.
Teja menegaskan, semangat perjuangan para pendahulu harus terus dihidupkan tanpa kehilangan akar sejarah. “Islam yang progresif mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan prinsip, sementara kebudayaan tetap berakar pada sejarah dan terbuka untuk maju,” katanya.
Baca Juga: Maulid Ath-Thohariyyah, Bupati Dewi Doakan 8 Orang Hilang di Anak Krakatau
Camat Batuceper Achsin Ghufron Falfeli mengatakan, peringatan hari besar keagamaan tidak semestinya berhenti sebagai ritual tahunan. Pemilihan Makam Raden Aria Santika sebagai lokasi kegiatan dimaksudkan untuk mempertemukan nilai keagamaan dengan kesadaran sejarah lokal.
“Tidak seperti biasanya, kami memilih Makam Raden Aria Santika, salah satu tokoh cikal bakal Tangerang, untuk mengajak masyarakat menghargai nilai sejarah dan keagamaan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Ghufron.
Menurutnya, agama dan sejarah memiliki peran yang saling melengkapi. Agama memberikan nilai, sedangkan sejarah membentuk identitas masyarakat. Keberadaan situs bersejarah juga dapat menjadi sarana edukasi agar generasi muda mengenal sejarah daerahnya.
“Anak-anak kita harus tahu bahwa di tempat mereka tinggal ada sejarah yang panjang. Jangan sampai mereka tumbuh di sebuah wilayah, tetapi tidak mengenal bagian dari identitas daerahnya,” tuturnya. Melalui doa, ziarah, dan pemberian santunan, Kecamatan Batuceper berharap kegiatan tersebut dapat mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan masyarakat. (ari)

















