SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tangerang menegaskan insiden yang menewaskan dua siswa SMPN 34 Kota Tangerang di kawasan Jalan Sutera, Alam Sutera, Jumat (9/10/2026), bukan merupakan tawuran. Kedua korban diduga mengalami kecelakaan saat berusaha melarikan diri dari kejaran sekelompok pelajar yang membawa senjata tajam.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya kedua siswa tersebut. Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima, para korban sebelumnya menonton pertandingan futsal persahabatan sebelum mengalami insiden dalam perjalanan pulang.
Menurut Wahyudi, korban berpapasan dengan rombongan pelajar yang membawa senjata tajam. Dalam kondisi panik karena dikejar, kendaraan yang ditumpangi korban menabrak trotoar dan tiang hingga menyebabkan insiden fatal. “Perlu kami tegaskan, ini bukanlah peristiwa tawuran. Korban melarikan diri karena panik dikejar oleh oknum yang membawa senjata tajam, hingga akhirnya kendaraan yang dikendarai menabrak trotoar dan tiang,” ujar Wahyudi.
Ia menilai peristiwa tersebut menjadi peringatan penting bagi semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk di luar jam sekolah. Disdik Kota Tangerang, kata Wahyudi, akan memperkuat sinergi dengan TNI, Polri, serta masyarakat untuk memperluas pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar lingkungan sekolah.
Ia menekankan, upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Keterlibatan guru, orang tua, dan masyarakat diperlukan untuk mencegah kekerasan serta menjaga keselamatan para siswa.
“Di dalam budaya sekolah aman dan nyaman itu disyaratkan peran semesta, yaitu keterlibatan dari semua pemangku kepentingan, baik sekolah, guru, orang tua, maupun masyarakat sekitar, untuk berpartisipasi aktif menciptakan kondisi yang aman,” katanya.
Baca Juga: Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Mulai Sosialisasikan E-Ijazah SD
Wahyudi juga mengimbau para pelajar agar tidak memperpanjang persoalan yang terjadi dan menghindari aksi balas dendam. “Kami juga mengimbau kepada adik-adik semua, cukupkan sampai di sini. Tidak perlu memperpanjang persoalan ini dan tidak perlu ada dendam,” ujarnya.
Sementara, Kepala SMPN 34 Kota Tangerang Asep Maulana Hidayat mengatakan pihak sekolah bergerak sejak malam kejadian untuk mendampingi keluarga korban, memfasilitasi doa bersama dan tahlilan, serta meredam emosi siswa agar tidak berujung pada tindakan anarkis.
Sebagai langkah antisipasi, sekolah menerapkan pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas siswa. Siswa kelas IX diwajibkan diantar dan dijemput orang tua, sedangkan siswa kelas VII dan VIII mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah dengan pengawasan orang tua. “Kami sudah edarkan imbauan, untuk kelas IX wajib diantar jemput orang tua dan jangan diizinkan pulang sebelum dijemput. Sementara kelas VII dan VIII melaksanakan PJJ di rumah dengan pemantauan ketat dari orang tua,” kata Asep.
Selain aspek keamanan, sekolah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang terdampak peristiwa tersebut. Seorang siswa yang selamat dan menjadi saksi kejadian kini mendapatkan pendampingan psikologis serta konseling dari guru bimbingan dan konseling (BK).
Asep menegaskan, penanganan dampak kejadian membutuhkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ia meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama setelah jam sekolah. Adapun penanganan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Kepolisian.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kami memohon kerja sama para orang tua untuk memastikan pengawasan ketat terhadap aktivitas anak setelah jam sekolah. Terkait proses hukum terhadap oknum pelaku, sepenuhnya kami serahkan kepada pihak kepolisian,” pungkasnya. (made)
Baca Juga: Pemkot Tangerang Deklarasi SMPB 2026/2027 Berintegritas





















