SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Aktris Acha Septriasa membagikan pandangan realistisnya mengenai rahasia keutuhan rumah tangga, dengan menegaskan bahwa cinta saja tidak cukup sebagai modal pernikahan.
Pemeran serial Dalam Suka dan Dusta ini menyebutkan bahwa kompromi sehari-hari, kejujuran, dan keberanian menerima kekurangan pasangan adalah kunci utama agar hubungan tidak kandas di tengah jalan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak terlena dengan romantisasi awal pernikahan. Bagi perempuan berusia 37 tahun ini, fase awal rumah tangga memang terasa manis layaknya sebuah mainan istana-istanaan. Namun, ujian sesungguhnya adalah bagaimana pasangan mengelola konflik ketika rutinitas mulai menjemukan dan sifat asli masing-masing mulai terlihat.
Saat berbincang di kanal YouTube TS Media, ibu satu anak ini menyoroti kesalahan fatal yang sering dilakukan banyak pasangan, yaitu saling memaafkan tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.
“Ketika kita mulai beranjak ke fase rutinitas, terus habis itu mulai tahu ada weakness (kekurangan) masing-masing, kita mulai harus punya compromise (kompromi) tiap hari. Pastinya akhirnya ada hal-hal yang kita saling memaafkan tapi enggak dibenarkan masalahnya, enggak diklarifikasi,” ungkap Acha.
Bagi Acha, persoalan yang dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian tuntas dapat menjadi bom waktu yang siap menggerogoti hubungan secara perlahan.
Baca Juga: Kabar Duka: Pengacara Kondang Kamarudin Simanjuntak Meninggal Dunia
Lebih lanjut, Acha mematahkan anggapan umum bahwa perselingkuhan selalu menjadi penyebab utama perceraian. Menurutnya, perselingkuhan justru sering kali menjadi dampak akhir dari hubungan yang sudah lebih dulu retak akibat akumulasi masalah kecil yang diabaikan.
“Ya, yang retak pasti enggak selalu ada affair (perselingkuhan). Semuanya bisa muncul awalnya pasti karena ada faktor lain yang akhirnya leads to affair (mengarah pada perselingkuhan) begitu,” terangnya.
Acha menilai, salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan, termasuk keengganan untuk menerima perubahan sifat seiring berjalannya waktu. Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kunci sukses hubungan terletak pada kejujuran dan penerimaan yang tulus.
“Kalaupun sudah mengenal, kadang-kadang enggak cukup mengenal saja. Tapi paling enggak menerima kekurangan dan juga mengartikannya dengan kita mengerti dia, itu tanda cinta. Dengan kita jujur satu sama lain, itu adalah sebuah kunci hubungan yang sukses,” pungkasnya. (rm.id)

















