SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Rencana relokasi ratusan pedagang kaki lima (PKL) dari kawasan Jalan Kiasnawi dan Jalan Ahmad Yani, Kota Tangerang, ke Gedung Pasar Anyar batal dilaksanakan pada Rabu (14/10/2026) ini. Pemerintah Kota Tangerang menunda pemindahan lantaran proses sosialisasi kepada para pedagang dinilai belum optimal.
Penundaan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kesiapan infrastruktur pasar belum sepenuhnya diikuti dengan kesiapan komunikasi dan koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan penataan kawasan. Padahal, relokasi menjadi salah satu tahapan penting sebelum pemerintah memulai pembangunan fasilitas pedestrian di Jalan Kiasnawi pada November mendatang.
Saat ditemui di gedung DPRD Kota Tangerang, Direktur Perumda Pasar Tangerang, Dedy Ochen, mengatakan keputusan menunda relokasi diambil setelah pemerintah mengevaluasi hasil koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Menurut Ochen, komunikasi yang selama ini dilakukan baru menjangkau sejumlah koordinator pedagang. Sementara itu, sebagian besar pedagang yang akan terdampak belum memperoleh penjelasan secara langsung mengenai mekanisme pemindahan, pembagian tempat usaha, dan pelaksanaan relokasi.
“Intinya, relokasi pedagang di Ahmad Yani dan Kiasnawi seyogianya hari ini dilaksanakan. Tapi ditunda karena belum terbangunnya komunikasi secara intensif kepada para pedagang yang ada di Kiasnawi dan Ahmad Yani. Jadi, sementara ditunda sampai batas waktu yang ditentukan kemudian,” ujar Dedy, Rabu (14/10/2026).
Ochen menjelaskan, pihaknya sebelumnya telah mengundang sejumlah koordinator pedagang untuk membicarakan rencana pemindahan ke Gedung Pasar Anyar. Pertemuan tersebut berlangsung pada Senin (12/10/2026) sore. Dalam pertemuan itu, Perumda Pasar menyampaikan rencana penataan kawasan sekaligus mengimbau para pedagang agar bersedia menempati fasilitas pasar yang telah disediakan pemerintah.
Baca Juga: 200 PKL Jalan Kiasnawi Tangerang Direlokasi Mulai 14 Oktober 2026
Hasil pertemuan kemudian menjadi bahan koordinasi dengan perangkat daerah terkait. Pemerintah sempat menyepakati pelaksanaan relokasi pada Rabu. Namun, rencana tersebut akhirnya ditangguhkan karena sosialisasi belum menjangkau pedagang secara individual. “Sebelumnya memang beberapa koordinator kita undang ke Perumda Pasar untuk memberitahukan dan mengimbau bahwa pedagang Ahmad Yani dan Kiasnawi akan kita relokasi ke gedung pasar,” katanya.
Menurut Ochen, pemerintah tidak ingin proses komunikasi hanya berhenti pada perwakilan pedagang. Seluruh pihak yang akan dipindahkan perlu mengetahui secara langsung kebijakan tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman ketika relokasi dilaksanakan. Karena itu, Perumda Pasar berencana kembali mengundang para pedagang dengan membagi pertemuan berdasarkan jenis komoditas yang mereka jual.
“Karena kemarin baru dengan beberapa koordinator, kemungkinan kita akan undang masing-masing komoditasnya, jadi bergantian,” ujarnya. Meski demikian, Deddy belum dapat memastikan kapan relokasi kembali dilaksanakan. Jadwal baru akan ditentukan setelah proses komunikasi dengan para pedagang dianggap memadai. Di tengah penundaan tersebut, Perumda Pasar juga mengungkapkan perkembangan jumlah pedagang yang masuk dalam rencana relokasi.
Berdasarkan pendataan terakhir, sebanyak 273 pedagang yang beraktivitas di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Kiasnawi direncanakan dipindahkan ke Gedung Pasar Anyar. “Di data kita kemarin ada 273 pedagang dari Ahmad Yani sampai Kiasnawi. Itu berbagai macam komoditas. Ada basah, ada kering, macam-macam,” kata Deddy.
Ia memastikan seluruh pedagang yang telah terdata dapat ditampung di Gedung Pasar Anyar. Menurut dia, kapasitas ruangan yang tersedia dinilai mencukupi untuk mengakomodasi seluruh pedagang yang menjadi sasaran relokasi. Perumda Pasar juga mengklaim telah mempersiapkan pembagian lokasi berjualan berdasarkan karakteristik komoditas.
Pedagang yang menjual kebutuhan basah dan komoditas kering akan ditempatkan sesuai dengan zonasi yang telah disusun pengelola pasar. Selain itu, penomoran tempat berjualan dan fasilitas pendaftaran juga telah disiapkan untuk mendukung proses pemindahan. “Ruangnya cukup untuk menampung 273 pedagang itu. Kita sudah siapkan, sudah kasih nomor, sudah buka tempat pendaftaran. Masing-masing lantai sudah kita siapkan, pedagang basah dan kering sudah sesuai zonasinya,” ujarnya.
Baca Juga: Izin Kios Pasar Anyar Tangerang Kini Fleksibel, Maksimal Satu Tahun
Salah satu hal yang ditegaskan Deddy adalah kebijakan pembebasan biaya bagi pedagang yang bersedia menempati Gedung Pasar Anyar. Ia memastikan Perumda Pasar tidak akan memungut biaya penempatan lapak dalam proses relokasi tersebut. “Masih gratis. Tidak ada pungutan apa pun dari Perumda Pasar,” tegasnya.
Kebijakan itu, menurut Ochen, dimungkinkan setelah berakhirnya masa berlaku hak penggunaan sejumlah kios dan los yang sebelumnya dikuasai pihak lain dalam jangka waktu tertentu. Ia menjelaskan, selama ini sebagian kios dan los di Pasar Anyar masih terikat hak penggunaan dengan masa berlaku sekitar 20 tahun.
Masa berlaku tersebut, kata dia, telah berakhir pada 31 Agustus 2026. Kondisi itu membuka kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan penataan kembali ruang perdagangan di dalam pasar. “Waktu kemarin itu memang kios-kios dan losnya masih punya orang dengan batas waktu 20 tahun. Hari ini sudah selesai masa berlaku sertifikat hak guna pakainya pada 31 Agustus. Jadi sekarang ada rekomendasi dari Indag untuk penataan ruang yang ada di pasar, jadi kita gratiskan,” katanya.
Pedagang Khawatir Kehilangan Pelanggan
Sementara kekhawatiran mengenai keberlangsungan usaha sebelumnya juga disampaikan pedagang yang beraktivitas di Jalan Kiasnawi. Rahmat (51), pedagang ketoprak yang akrab disapa Amat, mengaku telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2012. Selama sekitar 14 tahun, ia menggantungkan penghasilan dari usaha makanan yang dijalankan di lokasi itu.
Rahmat berharap pemerintah tidak hanya menyediakan tempat pengganti, tetapi juga mempertimbangkan nasib pedagang setelah berpindah lokasi. “Mudah-mudahan pemerintah punya solusi yang benar-benar solusi. Soalnya kita mah dagang nyari penghidupan buat makan doang, bukan memperkaya diri,” ujarnya. (ari)

















