SATELITNEWS.ID, CIPUTAT—Indikator Politik Indonesia merilis survei Dinamika Elektoral Pilwakot Tangsel: Dilema Partisipasi Pemilih di Era Pandemi. Dari hasil survei pasangan Muhamad-Saraswati meraih suara 38,6 persen, unggul dibanding Benyamin-Pilar 33,2 persen dan Azisah-Ruhamaben 16,4 persen.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi memaparkan lembaganya menggunakan metode multistage random sampling sebanyak 820 orang. 820 responden memiliki toleransi kesalahan sekitar kurang lebih 3.5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh kecamatan yang terdistribusi secara proporsional.
“Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih. Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti, ujarnya.
Lanjut ia, dari sekian banyak daerah melaksanakan pilkada, Tangsel adalah salah satu yang menarik karena salah satunya figur dari keluarga Wakil Presiden Siti Nurazizah dan keluarga Prabowo Subianto serta keluarga tokoh yang berkuasa Pilar. Lanjut ia, untuk memberikan dinamika elektoral yang lebih komprehensif, rilis ini juga menyertakan perbandingan antar-waktu yakni survei di Tangsel yang diadakan pada Agustus dan Oktober 2020 dengan jumlah sampel sebesar 820 responden.
Dia menjelaskan Indikator menggunakan empat simulasi saat melakukan survei. Yakni, top of mind tanpa menyebut nama calon, simulasi semiterbuka, simulasi calon wali kota dan simulasi surat suara.
Pada simulasi top of mind, responden diberi pertanyaan ‘Seandainya pemilihan langsung Wali Kota Tangerang Selatan dilaksanakan pada hari ini, siapa yang akan Ibu/Bapak pilih sebagai Walikota?’. Hasilnya, nama Muhamad unggul dengan 22,6 persen.
Baca Juga: Kepuasan Terhadap Pemerintahan Prabowo Tinggi, Ekonomi Masih PR
“Per hari ini ada 22,6 persen sampai awal November yang secara spontan mengatakan akan memilih Muhammad, ada 19 persen yang secara spontan akan memilih Benyamin Davnie, ada 7,3 persen yang menyatakan secara spontan memilih Siti Nur Azizah,” kata Muhtadi dalam rilis survei, Selasa (17/11).
Pada simulasi top of mind, Burhan menyoroti masih banyaknya responden yang belum menentukan pilihan. Masih ada 48,1 persen responden yang belum menentukan pilihan meski hari-H pilkada kurang dari satu bulan lagi.
“Terus terang, jumlah undecided yang tidak bisa memutuskan kalau kita sodori dengan simulasi top of mind, itu mencapai angka yang besar, 48 persen. Padahal pemilu tinggal di depan mata. Ini berbeda dengan survei kami di banyak tempat, terutama di Sulawesi, kalau jelang pilkada seperti sekarang itu undecided berkurang drastis,” ujar Burhan.
“Di Tangsel yang bisa menyebutkan secara spontan itu baru sekitar 50-an persen. Jadi banyak pemilih Tangsel yang tidak bisa nyebut nama kalau pakai simulasi top of mind,” sambungnya.
Sementara itu, dalam simulasi semiterbuka, nama Muhamad juga menempati posisi teratas dengan 34,5 persen, disusul Benyamin Davnie dengan 31,8 persen. Azizah berada di posisi ketiga dengan 12,1 persen.
“Meskipun elektabilitas Muhammad dan Rahayu Saraswati mulai unggul, tapi keunggulannya tidak signifikan secara statistik. Karena selisih dua paslon masih dalam kisaran margin of error survei,” ujar Burhan.
Baca Juga: Survei LSI: Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD
Lalu dalam simulasi calon wali kota, nama Muhamad kembali unggul dengan 36,2 persen. Dalam simulasi surat suara, pasangan Muhamad-Sara pun menempati posisi teratas dengan 38,6 persen.
“Dari semua simulasi kita menemukan hasil konsisten, Muhamad-Sara itu mengalami kenaikan secara positif dibanding bulan Agustus. Sementara Ben itu mengalami stagnasi dibanding bulan Oktober, dan mulai ada cross, terutama di bulan awal November. Sementara Bu Siti-Ruhama itu mengalami kenaikan, tapi kenaikannya lebih landai dibanding kenaikan yang dialami oleh Muhamad dan Sara,” jelasnya.
Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini menyampaikan bintang pilkada ada di Tangsel, Solo dan Medan. Tahun 2017 bintangnya di DKI Jakarta. Tetapi Tangsel mewakili tiga nama besar sementara, Surakarta dan Medan tidak sehegemoni di Tangsel.
“Jangan sampai menyeret hegemoni politik identitas. Misalnya narasi tentang perempuan. Ini harus dicegah oleh kita. Jangan sampai politisasi isu SARA, meski tidak muncul di permukaan dan meski muncul di group WA tapi jangan sampai memburuk dalam narasi itu,”pesan warga Pamulang ini.
Pakar Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto mengatakan, Muhamad pernah jadi Sekda, Ruhamaben pernah jadi Wakil DPRD sehingga peta Tangsel sangat memadai. Termasuk Benyamin lama di birokrasi. Sehingga tiga pasangan calon ini menarik karena dari sisi figur dengan pola yang mirip.
“Faktor pertama penguasaan basis teori basis pengalaman oleh tiga pasangan, sehingga basis pendukung terbangun baik kultural dan struktural. Kedua kekuatan rujukan referensi power. Secara faktual baik melalui partai dan kultural seperti Banten tidak bisa diremehkan. Tantangan ada situasi tidak nyaman di pandemi membuat orang semakin malas datang ke TPS. Meski dari hasil survei hanya 16 persen tidak datang ke TPS. Tapi dikhawatirkan membesar. Ini perlu peran penyelenggaran harus lebih optimal lagi,” tutupnya. (din/bnn/gatot)
























