SATELITNEWS.ID, KARAWACI–Kampung Tangguh Jaya Siaga Corona (KTJ-Sigacor) merupakan program pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19. Program ini pun diwajibkan bagi semua wilayah di Kota Tangerang. Tak terkecuali Kampung Wisata Markisa. Lantas apa saja yang sudah dilakukan oleh warga di Kampung tersebut ?
Kampung Markisa dulu sempat masuk dalam nominator Anugerah Pesona Indonesia dengan nominasi Destinasi Wisata Kreatif Terpopuler 2019. Pandemi Covid-19 memang telah mempengaruhi kepopulerannya sebagaimana kampung tematik lainnya. Dahulu, kampung yang menjadi objek wisata ramai dikunjungi oleh wisatawan. Kini menjadi sepi lantaran warga sengaja membatasi kunjungan wisatawan.
Kampung yang berlokasi di RW 2 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Karawaci bahkan sampai menghentikan sementara program inovasi penghijauan. Saat ini warga sekarang berfokus dalam percepatan penanganan Covid-19. Termasuk menggalakkan ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Terutama bagi warga yang terdampak Covid-19.
“Pengembangan inovasi kita off (hentikan) sementara, namun saya sampaikan kepada warga untuk menjaga penghijauannya jangan sampai tumbang,” kata Ketua RW 2, Muhammad Ali Nurdin kepada Satelit News, belum lama ini.
Protokol kesehatan di kampung ini pun diperketat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kampung KTJ Sigacor Markisa pun nampak jelas dengan sejumlah fasiltas yang disediakan. Hampir di setiap sudut kampung terdapat tempat cuci tangan. Warga bahkan tidak akan mengizinkan pengunjung masuk bila tak mengenakan masker.
Berbagai ikan dan tumbuhan pangan pun dibudidayakan di kampung yang terbentuk sejak 2018 ini. Ketahanan pangan digalakkan, mulai dari ikan lele, nila dan mas. Kemudian, berbagai jenis sayur caisim, sawi hingga cabai. “Budidaya ikan dan sayur di kampung ini memamng tidak kota jual tapi untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Nurdin.
Baca Juga: Kadin Banten Dorong UMKM Naik Kelas
Dia menuturkan pihaknya tak cuma-cuma memberikan hasil ketahanan pangan ini ke warga. Warga yang ingin memanfaatkan hasil ketahanan pangan untuk kebutuhan sehari-hari wajib menukarkannya dengan sampah yang memiliki nilai jual seperti botol.
“Jadi sekaligus mengubah perilaku buang sampah warga. Sehingga kampung ini bersih. Sampah yang terkumpul kita jual untuk kemudian dibelikan bibit lagi atau kita olah menjadi kerajinan,” tuturnya.
Sejatinya kata Nurdin, kampung Markisa sudah mendapat pengakuan dari Pemkot Tangerang. Dalam meningkatkan taraf hidup masyatakat di Kampung ini Pemkot Tangerang pun telah mengerahkan sejumlah organisasi perangkat daerah.
Seperti Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) untuk meningkatkan kreativitasnya masyarakat di sektor pariwisata. Lalu, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membantu pembinaan dalam mengolah air limbah yang kemudian dapat dipakai untuk menyiram pohon. “Pokoknya semua OPD diarahkan sama pak walikota ke kampung-kampung yang mandiri (KSM), dimana kami tidak hanya menata kampungnya tetapi juga sosial masyarakatnya” ujar Nurdin.
Tidak hanya itu, Kampung Markisa mempunyai beberapa UMKM di antaranya Sketsa Daun kering, Siluet lugot atau Lumpur got, bahan- bahan kreatif dari limbah daur ulang serta pembuatan Makanan atau minuman yang berbahan dasar buah Markisa. Namun untuk saat ini UMKM tersebut dihentikan sementara akibat Pandemi yang terjadi.
Meski fokus dalam penanganan Covid-19 roda perekonomian di kampung ini tetap berjalan. Kendati, sepi peminat. Sepeti UMKM yang mulanya mengandalkan pengunjung datang namun kini difokuskan secara daring. Demikian diungkapkan oleh Kepala Divisi Kreatif Kampung Markisa, Topik Romdoni.
Baca Juga: Gubernur Andra Soni Sebut UMKM Jadi Penggerak Perekonomian Masyarakat
“Kita jual secara daring juga karena pandemi Covid-19 yang dampaknya sangat kita rasakan,” katanya. Berbagai jenis UMKM mereka dijual. Mulai dari kerajinan hingga makanan ringan. Kerajinan yang banyak diminati di kampung ini adalah Sketsa Daun kering. Sketsa Daun kering memiliki keunikan tersendiri.
Dari namanya saja sudah dapat diketahui kalau kerajinan ini berbahan dasar dari daun kering. Daun-daun kering dikumpulkan yang kemudian ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah desain tertentu sesuai pesanan. Sehingga banyak para pejabat Kota Tangerang yang sudah memesan Sketsa Daun kering tersebut. Harga kerajinan ini bervariasi mulai dari Rp. 1.500.000 untuk ukuran 70x50cm tergantung dari tingkat kesulitannya. “Untuk kedepannya kita akan lebih mempersiapkan kembali Sketsa Daun kering dan siluet lugot,” jelas Opik sapaan Topik Romdoni. (irfan/made)



















