SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Kebiasaan masyarakat menjalani aktivitas fisik yang rendah atau malas bergerak (mager) masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Di tengah meningkatnya risiko penyakit tidak menular, olahraga masyarakat dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun pola hidup sehat yang lebih mudah dijangkau berbagai lapisan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 menunjukkan, sebanyak 95,8 persen peserta dewasa serta 60,1 persen peserta remaja dan pelajar masih kurang melakukan aktivitas fisik. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan bergerak aktif belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat.
Persoalan itu menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Festival Olahraga Rekreasi Provinsi (Forprov) II Banten 2026 yang berlangsung pada 7-10 November 2026 di Kota Tangerang. Kegiatan yang diselenggarakan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Provinsi Banten tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, antara lain hipertensi dan diabetes. Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan berolahraga secara rutin.
“Banyak penyakit-penyakit yang disebabkan kurang kegiatan fisik, salah satunya adalah darah tinggi, Diabetes, dan lain-lain. Sehingga kegiatan fisik ini bisa membantu untuk mengurangi dampak terhadap penyakit tersebut,” kata Andra saat membuka Forprov II Banten di Alun-alun Kota Tangerang, Sabtu (7/11/2026) malam.
Menurut Andra, olahraga masyarakat memiliki keunggulan karena dapat diikuti berbagai kalangan tanpa dibatasi usia, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial. Berbeda dengan olahraga prestasi yang memiliki standar kompetisi tertentu, olahraga rekreasi dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga kebugaran sekaligus membangun interaksi sosial.
Ia menilai, kebiasaan bergerak aktif perlu ditanamkan sejak usia dini. Salah satu perubahan yang menjadi perhatiannya ialah kebiasaan anak-anak ketika berada di sekolah. Tidak sedikit pelajar yang lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di kelas sambil bermain telepon seluler daripada melakukan aktivitas fisik atau permainan bersama teman-temannya. “Bergerak aktif adalah cara paling murah untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut,” ujar Andra.
Menurut dia, olahraga tradisional dan permainan rakyat juga memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas fisik. Berbagai permainan tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda.
Banten, misalnya, memiliki tradisi pencak silat serta beragam permainan rakyat yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari olahraga masyarakat. Dengan demikian, pengembangan olahraga rekreasi juga dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kebudayaan daerah.
Penyelenggaraan Forprov II Banten tahun ini melibatkan sekitar 50 induk olahraga (Inorga). Sebanyak 47 induk olahraga mengikuti berbagai perlombaan, sedangkan tiga lainnya tampil dalam kegiatan ekshibisi.
Ketua KORMI Provinsi Banten Nuraeni mengatakan, jumlah induk olahraga yang terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini bertambah dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Pertambahan tersebut mengikuti perkembangan organisasi olahraga masyarakat di tingkat nasional.
“Tentu, karena kan jumlah Inorga yang sudah bergabung di FORMI juga bertambah, mengikuti jumlah Inorga yang ada di nasional. Dan ini pun tentu harus kita sosialisasikan secara masif kepada kabupaten/kota,” jelas Nuraeni.
Baca Juga: TBM Planet Baca Rawarengas Kosambi Wisuda 90 Peserta Kursus Komputer dan Bahasa Inggris Gratis
Berbagai cabang olahraga masyarakat diperkenalkan melalui festival tersebut. Kegiatannya meliputi senam kesehatan, olahraga elektronik atau e-sport Mobile Legends, hingga olahraga tradisional seperti egrang dan panahan.
Penyelenggara menyebar pelaksanaan kegiatan ke 24 lokasi atau venue di sejumlah wilayah Kota Tangerang. Beberapa lokasi yang digunakan antara lain Al-Amanah, Tangcity, Nambo, dan MUI.
Nuraeni mengatakan, penyebaran lokasi pertandingan dilakukan agar pelaksanaan kegiatan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi setiap induk olahraga untuk memperkenalkan cabangnya. “24 venue itu ada satu venue itu bergantian empat inorga seperti di Al-amana, di Tangcity, maupun di Nambo dan MUI. Semua menyebar dan saya siang memantau, seluruhnya berjalan dengan lancar,” katanya.
Forprov merupakan agenda dua tahunan KORMI Provinsi Banten. Pelaksanaan pertama berlangsung di Anyer pada 2024. Penyelenggaraan kedua di Kota Tangerang menjadi kesempatan bagi organisasi olahraga masyarakat untuk memperluas pengenalan cabang olahraga sekaligus mengukur perkembangan komunitas di setiap daerah.
Nuraeni mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Tangerang yang bersedia menjadi tuan rumah serta perhatian Pemerintah Provinsi Banten terhadap pengembangan olahraga masyarakat. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan Forprov kedua ini, untuk Pak Wali Kota Tangerang yang telah mendukung sebagai tuan rumah dan Pak Gubernur Banten yang telah memberi perhatian kepada olahraga masyarakat ini,” ujarnya.
Wali Kota Tangerang Sachrudin mengatakan, penyelenggaraan Forprov perlu dimanfaatkan untuk memperluas keterlibatan warga dalam kegiatan olahraga. Menurut dia, olahraga masyarakat seharusnya hadir di tengah kehidupan sehari-hari, mudah dijangkau, menyenangkan, dan dapat diikuti siapa saja.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda rutin yang hanya berorientasi pada perlombaan dan penentuan pemenang. Lebih dari itu, penyelenggaraan festival perlu mendorong tumbuhnya komunitas olahraga dan membangun kebiasaan berolahraga secara berkelanjutan.
“Semoga Forprov ini tidak berhenti sebagai kegiatan rutin dan kompetisi semata, namun harus menjadi momentum untuk memperluas partisipasi masyarakat, menghidupkan komunitas olahraga, serta memperkuat minat olahraga masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tangerang, lanjut Sachrudin, berkomitmen mendorong budaya olahraga melalui kolaborasi dengan KORMI, induk organisasi olahraga, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat. Ia juga berharap penyelenggaraan Forprov dapat mempererat hubungan antarmasyarakat dari berbagai kabupaten dan kota di Banten.
“Semoga Forprov dua ini bisa berjalan dengan lancar dan bukan hanya melihat siapa yang juara saja, tapi juga mudah-mudahan ini akan mempererat tali persaudaraan, tali persahabatan masyarakat Provinsi Banten,” kata Sachrudin.
Selain berkaitan dengan kesehatan dan pelestarian budaya, penyelenggaraan olahraga masyarakat juga berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Kehadiran peserta dan pengunjung dari berbagai wilayah membuka peluang bagi sektor perhotelan, perdagangan, kuliner, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Nuraeni mengatakan, penyelenggaraan Forprov II Banten memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di Kota Tangerang. Ia menyebut tingkat keterisian hotel meningkat selama kegiatan berlangsung. Pelaku UMKM dan pedagang juga memperoleh tambahan pembeli dari kehadiran peserta maupun pengunjung.
“Meningkatkan perputaran ekonomi lokal yang kita tahu hotel-hotel full, para pelaku UMKM juga laris manis, pedagang juga laris manis. Efek kejut peningkatan pariwisata di Kota Tangerang semakin meningkat,” katanya.
Dampak ekonomi dari kegiatan olahraga berskala besar juga terlihat dalam penyelenggaraan Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII di Nusa Tenggara Barat pada 2025. Andra Soni menyebut kegiatan tersebut diikuti lebih dari 20.000 peserta dari 74 induk organisasi olahraga dengan perputaran ekonomi mencapai Rp 800 miliar.
Menurut Andra, penyelenggaraan kegiatan olahraga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah tuan rumah, terutama pelaku UMKM, pedagang kuliner, dan sektor usaha lainnya.
Meski demikian, manfaat ekonomi tersebut perlu berjalan seiring dengan tujuan utama pengembangan olahraga masyarakat. Peningkatan aktivitas perdagangan selama festival diharapkan tidak hanya berlangsung ketika kegiatan digelar, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan kegiatan wisata dan komunitas olahraga di daerah.
Forprov II Banten juga menjadi tahapan untuk menjaring dan mempersiapkan peserta terbaik dari berbagai induk olahraga. Mereka diharapkan dapat mewakili Provinsi Banten dalam Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) mendatang yang dijadwalkan berlangsung di Palu, Sulawesi Tengah.
Nuraeni mengatakan, keikutsertaan berbagai induk olahraga dalam Forprov menjadi bagian dari proses persiapan menuju ajang nasional tersebut. “Dan sebapak awal dari event ini merupakan recruitment para Inorga menuju Fornas tahun depan yang akan diselenggarakan di Palu, Sulawesi Tenggara,” pungkas dia. Melalui penyelenggaraan Forprov, KORMI Banten diharapkan dapat memperkuat pembinaan olahraga masyarakat sekaligus memperluas jangkauan kegiatan hingga tingkat kabupaten dan kota. (ari)

















