SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Kabar duka menyelimuti dunia bulutangkis Indonesia. Atik Jauhari, pelatih sekaligus mantan atlet badminton legendaris Indonesia meninggal dunia pada Minggu (8/11/2026), pukul 02.49 WIB di RS Mayapada Tangerang.
Kabar meninggalnya pria yang juga tokoh masyarakat Kota Tangerang ini dibenarkan oleh keluarga almarhum. Melalu pesan berantai di aplikasi Whatsapp, keluarga mengabarkan berpulangnya Almarhum.
”INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN, Telah berpulang ke Rahmatullah, Suami, Ayah, Mertua, dan Aki kami tercinta: H. ATIK JAUHARI bin DJAHARI, Lahir di Bandung, 14 Agustus 1949 Wafat pada 8 November 2026, pukul 02.49 WIB di RS Mayapada Tangerang. Rumah Duka: Jl. Sukabakti VI No. 29 Kota Tangerang 15118.”
”Kami memohon doa dari Bapak/Ibu, Saudara/i, dan kerabat sekalian, semoga almarhum diampuni segala dosa dan khilafnya, diterima seluruh amal ibadah dan amal kebaikannya, dilapangkan kuburnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa ‘fu ‘anhu. Atas segala doa, perhatian, dan keikhlasan Bapak/Ibu, Saudara/i sekalian, kami mengucapkan terima kasih. Kami yang berduka, Istri: Hj. Neng Titi binti H. Mohammad Thamrin”
Jenazah Atik Jauhari disemayamkan di rumah duka Jl. Sukabakti VI No. 29 Kota Tangerang 15118 Kota Tangerang. Nantinya proses pemakaman akan dilakukan di Cipondoh, Tangerang.
Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia, Haryanto Arbi membenarkan kabar Atik Jauhari meninggal dunia. Arbi juga menyampaikan belasungkawa. “Betul, Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini. Kami keluarga besar KBI ikut berduka cita dan merasa kehilangan dengan berpulangnya salah satu pahlawan bulutangkis nasional tersebut,” kata Arbi dilansir cnn.com.
Baca Juga: Ganda Putra Bulutangkis Sumbang Emas Ketiga Indonesia di Asian Games 2026
Sedangkan mantan atlet bulutangkis lainnya, Candra Wijaya juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya Atik Jauhari. ”Saya turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Kak Atik. Kak Atik adalah pelatih bertangan dingin yang bekerja dalam senyap, ulet, tekun, dan memiliki instink tajam untuk melihat potensi masing-masing pemain dan kemudian bisa menyatukan menjadi pasangan ganda yang berprestasi. Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia,” kenang Candra Wijaya.
Prestasi Atik Jauhari sebagai pemain bulutangkis memang tidaklah meroket. Dalam catatan kariernya, tidak banyak prestasi fenomenal. Baik itu di level nasional maupun internasional. Salah satu prestasi yang bisa disebut, di antaranya bersama Christian Hadinata, Atik menjadi juara Kejuaraan Nasional 1971 di Yogyakarta. Sedangkan prestasi internasionalnya bisa dicatat dengan menjuarai Belgia Terbuka 1973 bersama Tatat Budiman.
Tetapi sebagai pelatih, tokoh kelahiran Bandung, 14 Agustus 1949 ini layak dicatat dengan tinta emas. Setelah gantung raket, dalam usia 25 tahun sudah Atik menjadi pelatih tim nasional di pelatnas. Dia memoles pemain dari era Liem Swie King, Bobby Ertanto hingga munculnya ganda-ganda tangguh Indonesia di tahun 1990-an.
Sebagai pelatih Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Atik juga bertangan dingin. Bersama Christian Hadinata, Atik dipercaya untuk menukangi sektor ganda putra. Saat itu, di pelatnas di antaranya diperkuat Eddy Hartono, Gunawan, Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Rudy Wijaya, Tony Gunawan, Candra Wijaya hingga Sigit Budiarto.
Almarhum H Atik Jauhari meninggalkan seorang istri, Hj Neng Titi binti H. Mohammad Thamrin, empat anak, Lanny Jauhari, Aji Kurjiawan, Hanny Setiani Yanuar Annas, dan empat cucu, Adrianna Kamila Kurniawan, Abigail Karisma Kurniawan, Danny Prananda Budisantoso dan Dhika Pratama Budisantoso Alessandro Annas.
Biografi Atik Jauhari
Baca Juga: Tangis Haru Iringi Amri/Nita ke Final Asian Games
Atik Jauhari lahir di Kota Tangerang pada 14 Agustus 1949. Tak ada yang menyangka, dari kehidupan sederhananya, ia akan menjadi arsitek di balik lahirnya juara-juara dunia.
Sejak muda, Atik sudah terpikat oleh bulutangkis. Namun, ia bukan sekadar pemain. Ada panggilan yang lebih besar—membentuk dan melahirkan generasi emas. Tahun 1974, ia mulai menapaki jalannya sebagai pelatih di PBSI. Dari tangannya, lahirlah legenda-legenda tunggal putra: Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, hingga Hermawan Susanto. Mereka bukan hanya juara, tapi juga ikon yang mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.
Bukan hanya sektor tunggal, Atik juga membesarkan pasangan-pasangan ganda legendaris: Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Candra Wijaya/Tony Gunawan, Tjun Tjun/Johan Wahjudi, dan banyak lagi. Gelar All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade—semuanya tak lepas dari sentuhan tangan dinginnya.
Namun kisah Atik Jauhari bukan hanya tentang Indonesia. Pada 1999, ia berani melangkah ke luar negeri. Swedia menjadi pelabuhan barunya. Di sana, ia membawa tim kecil Eropa itu menembus final Thomas Cup dan Uber Cup—prestasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Perjalanan berlanjut ke Thailand (2006–2008). Di tangannya, Boonsak Ponsana berhasil mengalahkan Lin Dan, sang raja bulutangkis dunia. Lalu, pada 2009–2010, ia menerima tantangan besar: melatih tim nasional India. Di negeri Bollywood itu, ia mencatat sejarah. Saina Nehwal, murid asuhannya, bukan hanya meraih gelar World Cup, tapi juga menembus peringkat #1 dunia—sebuah kebanggaan yang mengubah wajah bulutangkis India selamanya.
Seolah tak puas, Atik melanjutkan misinya ke Italia pada 2012–2013, sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Ia mendirikan Sekolah Bulutangkis Atik Jauhari, tempat ia menuangkan seluruh ilmunya demi membentuk talenta muda Indonesia. Baginya, bulutangkis bukan hanya olahraga, melainkan warisan perjuangan dan harga diri bangsa.
Kini, H Atik Jauhari telah berpulang. Jasanya terhadap perkembangan dunia bulutangkis nasional akan terus dikenang. Selamat jalan pak H. Atik Jauhari. (dm/net)

















