SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Direktorat Jenderal (Ditjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat penambahan populasi Badak Cula Satu alias Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Kelahiran satu hewan dilindungi ini menjadi angin segar, karena populasinya hanya ada di Kabupaten Pandeglang dan tidak ada dibelahan dunia manapun.
Kelahiran satu anak Badak Jawa itu dari indukan bernama Desy di Kawasan TNUK. Satu individu anak Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus lahir dan terekam kamera jebak atau camera trap pada tanggal 10 Oktober 2026. Anak badak tersebut terpantau sedang berkubang bersama induknya yang teridentifikasi bernama Desy.
Diketahui, sebelum ditangkapnya pemburu Badak Cula Satu, TNU merilis ada sebanyak 81 ekor terdiri dari 40 ekor dengan jenis kelamin jantan dan 41 ekor dengan jenis kelamin perempuan. Jumlah itu sudah ditambah fengan kelahiran lima anak badak 10 tahun terakhir.
Berdasarkan hasil analisis tim monitoring Badak Jawa Balai TNUK, anak ini merupakan kelahiran ketiga dari induk Desy bersama pejantan yang diduga kuat bernama Musofa.
Desy tercatat sebagai salah satu induk produktif di Semenanjung Ujung Kulon.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) KSDAE pada Kementerian Kehutanan, Mahfudz menyampaikan, dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, Desy telah berhasil melahirkan 5 ekor anak yaitu Arjuna pada tahun 2013, Arum pada tahun 2015, Hawa pada tahun 2018, Syauki tahun 2024 dan anakan kelima terekam 10 Oktober 2026 (kelahiran terbaru).
Baca Juga: Diklaim Antisipasi Kepunahan, Pemprov Banten Dukung Translokasi Dua Badak Jawa
“Kelahiran ini menjadi bukti bahwa habitat Ujung Kulon masih ideal, dan upaya perlindungan intensif yang dilakukan berjalan efektif. Alhamdulillah, ini adalah anugerah dan harapan besar bagi kelestarian Badak Jawa yang merupakan spesies paling langka di dunia dan hanya ada di Indonesia,” katanya, Selasa (3/11/2026).
Dia meyakini, kelahiran dari induk Desy kali ini juga membuktikan bahwa upaya dalam menjaga keamanan kawasan, melalui patroli intensif UKP dan pengamanan habitat dari gangguan, telah memberikan rasa aman bagi satwa untuk berkembang biak secara alami.
“Ini bukan hanya kebahagiaan TNUK, tapi kebahagiaan Indonesia dan dunia. Kami berkomitmen untuk terus memperkuat perlindungan, termasuk upaya rasionalisasi habitat melalui Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA),” ujarnya.
Dia mengajak kepada semua pihak agar bisa ikut membantu kelestarian Badak Jawa, karena spesies tersebut sudah tidak ada lagi dibelahan bumi manapun, kecuali di Kawasan TNUK. Tindakan itu harus dilakukan agar Badak Jawa tidak punah, terutama terkait dengan perburuan liar.
“Kementerian Kehutanan mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Badak Jawa dengan tidak melakukan aktivitas ilegal di dalam kawasan dan mendukung upaya konservasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono menambahkan, anak Badak Jawa dari induk Desy ini pertama kali teridentifikasi pada tanggal 10 Oktober 2026 sekira pukul 21.35 WIB melalui rekaman camera trap. Dari rekaman, terlihat kondisi anak sangat sehat, aktif mengikuti induknya, dengan perkiraan usia sekitar 1-2 bulan.
Baca Juga: Terkait Rencana Translokasi Badak Jawa, Balai TNUK Pilih Musofa dan Desi
“Induk Desy sendiri terpantau dalam kondisi sangat baik dan berpengalaman dalam mengasuh anak. Tim kami akan terus melakukan monitoring intensif di sekitar lokasi untuk memastikan induk dan anak tetap aman tanpa memberikan gangguan,” katanya.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh Tim UKP dan Mitra yang telah bekerja tanpa henti menjaga kawasan,” tutupnya. (adib)

















