SATELITNEWS.COM, SEPATAN—Berbagai jenis tanaman tertata rapi di area gedung sekolah SMP Negeri 1 Sepatan, Kabupaten Tangerang. Pintu gerbang berwarna hijau menambah nyaman suasana yang telah lebih dulu sejuk karena berbagai pepohonan itu. Halaman sekolah dan sejumlah ruangan kelas maupun kantor guru pun tampak bersih. Tak ada sampah berserakan.
Kebersihan dan kenyamanan merupakan beberapa di antara faktor yang menyebabkan SMPN Negeri 1 Sepatan berhak mewakili Provinsi Banten untuk mengikuti lomba Adiwiyata tingkat nasional di tahun 2021. Kesempatan itu diperoleh setelah manajemen sekolah yang terletak Jalan Ahmad Yani, Desa Pisangan Jaya, Kecamatan Sepatan itu berjibaku untuk mewujudkan sekolah adiwiyata dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Kepala SMPN 1 Sepatan, Bibing Sudarman mengatakan ada lima penghargaan yang sudah berhasil diraih sekolahnya. Yakni, Sekolah Bermutu, Ramah Anak, Adiwiyata, Kurasaki dan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Kategori terakhir merupakan program unggulan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar.
Bibing menjelaskan, sebelum meraih kesempatan mengikuti lomba di tingkat nasional, SMPN 1 Sepatan telah berjuang di tingkat Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banten. “Dalam jangka waktu tiga tahun sekolah mempersiapkan Adiwiyata ke tingkat nasional” ujar Bibing kepada Satelit News.
Tak mudah untuk mewujudkan sekolah Adiwiyata. Menurut Bibing yang juga Ketua PGRI Kabupaten Tangerang itu, pihaknya membutuhkan sinergitas besar antara kepala sekolah dan warga sekolah untuk mewujudkan kesadaran tentang Adiwiyata. Warga sekolah dituntut untuk menanamkan keilmuan dan kesadaran bagaimana tercipta sekolah yang baik dalam hal lingkungan hidup.
“Esensinya Adiwiyata, bukan kami mengejar-ngejar bentuk penghargaannya, tetapi ada dua esensi yakni keilmuan dan kesadaran warga”ujarnya.
Bibing melanjutkan salah satu esensi Adiwiyata adalah seluruh warga sekolah semua turut andil dalam menciptakan lingkungan yang hemat energi. SMPN 1 Sepatan memulainya dengan penghematan energi lingkungan hidup mulai dari mematikan stop kontak lampu dan mengurangi pemakaian AC.
SMPN 1 Sepatan juga menerapkan program Kurasaki atau Kurangi Sampah Sekolah Kita. Melalui program ini, para siswa dituntut membawa wadah air minum isi ulang dari rumah, membawa bekal makanan dan kantin sekolah tanpa sampah plastik.
”Bentuk kesadaran dari teman-teman semua tentang pengurangan limbah plastik” ujarnya.
Sekolah ini juga memiliki inovasi di bidang teknologi. Terutama teknologi mengurangi kadar garam pada air yang ada di sekolah tersebut. Teknologi itu diterapkan mengingat kondisi air di SMPN 1 Sepatan yang banyak mengandung garam. Tingginya kadar garam menyebabkan tumbuhan akan cepat layu bahkan mati apabila disiram air.
“Para guru dan siswa kemudian menciptakan inovasi sehingga tanaman tidak akan mati yakni dengan cara pemanfaatan air tampungan wudhu. Air ditampung ke dalam kolam besar yang sudah berisi ikan lele (sebagai penangkal jentik nyamuk) kemudian garam diuapkan melalui matahari untuk mengurangi kadar asin dalam air. Setelah itu air dapat digunakan untuk menyirami tanaman,”ungkap Bibing.
Selain itu, para siswa SMPN 1 Sepatan juga membuat kompos organik di sekolah. “Meski kita masih manual menggunakan gunting untuk mencacah limbah organiknya” ujarnya.
Tanaman obat dan tanaman hidroponik juga dikembangkan oleh sekolah ini. Selain itu, pihak sekolah menggunakan lubang biopori untuk menyelesaikan masalah genangan yang muncul apabila hujan turun. Bioporinya berjumlah 30 lubang yang terletak di seluruh halaman sekolah.
Bibing berharap program Adiwiyata dapat memberikan manfaat kepada warga sekolah dan warga sekitar sekolah. Para siswa, guru maupun personel sekolah lainnya diharapkan dapat menjalankan peran kecil menjaga lingkungan, memanfaatkan segala yang ada dari alam dan ikut melestarikan lingkungan yang sehat dan bersih.
“Semoga pada Adiwiyata tingkat nasional bisa dicapai oleh warga sekolah SMP 1 Sepatan” ujarnya.
Gedung SMPN 1 Selatan memiliki beberapa bangunan lama. Sejumlah bagiannya terlihat rusak dan rapuh. Namun Bibing berharap kondisi tersebut tidak mengganggu penilaian sekolah Adiwiyata tingkat nasional. (mg1/gatot)