SATELITNEWS.ID, TANGERANG–Berawal dari kegelisahan batin menyaksikan kelambanan anak didiknya dalam menyerap pelajaran, Yuliharti “nekat” mengambil langkah berbeda. Guru SDN Tanah Tinggi 4 Kecamatan Tangerang Kota Tangerang itu memilih untuk melakukan kegiatan belajar mengajar luar jaringan atau luring. Padahal, pemerintah meminta guru untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Bagaimana kisahnya?
Satu tahun lebih Pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan belajar mengajar secara langsung terhenti. Untuk mencegah penyebaran virus berbahaya itu, pemerintah menetapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh secara daring atau online.
Kebijakan itu efektif untuk menekan penyebaran Covid-19. Namun, sangat tidak manjur bagi kemajuan para siswa, khususnya yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
Guru SDN Tanah Tinggi 4 di Kota Tangerang Yuliharti merasakannya. Selama pembelajaran jarak jauh, dia harus bekerja ekstra dalam mengajar anak didiknya.
Sebagai guru wali kelas 1 dia merasakan perbedaan yang cukup signifikan akibat pandemi Covid. Menurut Yuliharti, para siswa kelas 1 harusnya belajar membaca, menulis, dan mengenal kegiatan belajar dengan menyenangkan.
Namun di masa pandemi, suasana itu jarang dilihatnya. Interaksi para guru dan murid jarang langka karena tugas- ugas diberikan dan dikerjakan secara daring. Semangat siswa semakin hari kian menurun sehingga pelajaran menjadi tidak efektif.
“Mengajar daring tidak efektif. Siswa semakin berkurang semangat belajarnya. Apalagi dukungan orangtua untuk mengajari anaknya juga kurang,”ungkap Yuliharti kepada Satelit News.
Kendala-kendala itu membuat Yuliharti kesulitan saat harus memberikan penilaian kepada siswanya. Dia mengaku seringkali harus mengarang bebas ketika memberikan penilaian.
“Jujur kami seperti mengarang bebas, nggak ada tugas masuk, apa yang bisa dinilai” ujarnya.
Kegelisahan demi kegelisahan itulah yang membuat Yuliharti berinisiatif melakukan sistem belajar luring atau luar jaringan. Dia mendatangi rumah siswa untuk memberikan pelajaran langsung namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Yuliharti membagi para siswanya ke dalam tiga kelompok dengan jadwal yang berbeda-beda. Satu kelompok berisikan maksimal 10 orang siswa.
“Misalnya hari Senin, Selasa ada di rumah si A terus B. Jadi selalu saya berikan solusi,”ujarnya.
Sudah cukup lama dia melakukan kegiatan belajar mengajar tatap muka itu. Saat melakukan kegiatan belajar mengajar luring, ada beberapa kendala yang dialaminya. Salah satunya adalah orang tua yang enggan ada kegiatan luring di rumahnya. Selain itu ada saja siswa yang tidak datang ke pertemuan. Untuk itu, Yuliharti berharap para orang tua dapat mendorong anak-anaknya untuk giat belajar.
“Saya sudah berusaha, berupaya, mengemban tugas dan amanat. Ada pun, untuk anaknya yang mau ikut pembelajaran atau tidak ada itu semua tergantung di orang tua” ujarnya.
Awalnya, Yuli mengaku tidak takut untuk memulai luring meski sempat ditakut -takuti bahwa kelompok belajarnya dapat dibubarkan Satpol PP atau tim Satgas Covid-19. Sebelum melakukan kegiatan tersebut, dia mengaku sudah meminta izin kepada kepala sekolah.
“Sampai ada gosip, guru yang mengadakan luring akan disidak Satpol PP. ‘Saya gak takut’ kata saya. Jadi kami dituduh mengadakan kerumunan, silahkan saja. Yang penting saya sudah memakai prokes, masker, jaga jarak, cuci tangan, kehadiran kurang dari 10 orang” ujarnya
Ia mendapatkan pesan dari pengawas sekolah bahwa yang tahu kondisi murid hanyalah gurunya. Ia berusaha menyemangati murid dan guru-guru harus lebih semangat menghantarkan anaknya untuk belajar.
“Kalau memang gurunya harus semangat berjuang, ya alhamdulillah tidak ada yang terindikasi Covid atas luring yang saya kasih. Bukan saya mau melawan aturan atau segala macam. Sampai sebegitunya kita tuh guru, dateng ke rumah agar pembelajaran tuh tetep berjalan” ujarnya.
Ada beberapa manfaat dari pembelajaran luring yang diterapkannya. Diantaranya karakter masing-masing siswa semakin terlihat. Yuli juga dapat memberikan penilaian secara langsung. Dia juga kembali melihat semangat siswa dalam melakukan pembelajaran dan memperbaiki kelemahan siswa.
“Kita bisa mengukur kemampuan anak, kognitifnya, bahasanya, seninya karena apa pembelajaran yang diberikan saat ini langsung dilihat guru,”imbuh dia.
Dia mengakui batasan-batasan dalam menjalankan kegiatan luring. Apabila zona Covid 19 meningkat di wilayahnya, maka ia segera melakukan pengurangan pembelajaran.
Ia berharap pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan. Yuliharti mengaku prihatin terhadap kondisi anak didik baru sebagai generasi penerus bangsa apabila pembelajaran jarak jauh tetap dilaksanakan.
“Kalau kondisinya sudah dibolehkan inginnya tatap muka ya. Sekolah itu sendiri harus mempersiapkan segala sesuatu terkait belajar tatap muka,” ujar Yuliharti yang juga mengaku masih memberikan pelajaran secara daring tersebut. (mg1/gatot)