SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Hari Buku Nasional (Harbuknas) jatuh pada 17 Mei. Harbuknas ini identik dengan literasi membaca buku. Buku merupakan jendela dunia. Lantaran, ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang dunia yang belum diketahui.
Hari Buku Nasional adalah bagian dari usaha pemerintah untuk mendorong minat baca di Indonesia serta meningkatkan angka penjualan buku. Di Kota Tangerang, tingkat kegemaran membaca (TGM) buku masyarakat mencapai 64,64 persen. Demikian diungkapkan oleh Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang, Endang Purwaningsih.
“Data ini lebih tinggi dari TGM Provinsi Banten yang diangka 56,83 dan tingkat nasional 54,17 persen,” ujarnya kepada Satelit News, Senin, (17/5). Kajian itu kata Endang diperoleh dari hasil uji untuk masyarakat berbagai kalangan untuk usia 15 hingga 65 tahun. Indikatornya yakni frekuensi membaca, durasi membaca dan jumlah buku yang dibaca.
Raihan ini kata Endang merupakan buah dari upaya yang dilakukan DPAD Kota Tangerang dalam rangka untuk meningkatkan literasi dan budaya membaca buku. Diantaranya membuat lomba cerita, story telling untuk kalangan pelajar tingkat PAUD hingga SMA.
“Kemudian mengundang pendongeng. Ini untuk menyulitkan minat membaca bagi anak. Ketika pendongeng mendongeng anak akan penasaran ceritanya. Kemudian mencari dan membaca buku yang dibaca di pendongeng,” jelas Endang.
Kemudian, menyambangi lembaga pemasyarakatan. Kedatangan DPAD dengan mobil perpustakaan keliling untuk memberi ruang bagi para warga binaan untuk mengenal dunia melalui buku.
Baca Juga: SIM Keliling Kota Tangerang Senin 7 September, Cek Lokasinya
“Mereka (warga binaan) baca buku dan antusias sekali dan mereka seneng baca terutama adalah untuk meningkatkan ilmu keteriampilan dia seperti hidroponik, budaya lele. Karena setelah keluar (keluar lapas) mereka ingin punya ilmu yang dapat diterapkan untuk kesejahteraan,” tutur Endang.
Kemudian, memfasilitasi masyarakat dengan perpustakaan. Diketahui, terdapat 801 perpustakaan di Kota Tangerang. Mulai dari perpustakaan keliling, perpustakaan yang tersebar di 104 kelurahan dan 13 kecamatan. Lalu, Taman Baca Masyarakat (TBM), sekolah, pondok pesantren hingga masjid.
“Kita perpustakaan bertransformasi berbasis inklusi sosial, dalam rangka lewat membaca bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Makannya sekarang program kita perpustakaan itu yang bisa diarahkan untuk berinklusi sosial adalah bisa masyarakat berbondong-bondong ke perpustakaan bisa mempraktekkan dan mandiri,” jelas Endang.
Hal senada diungkapkan oleh penggiat literasi di Tangerang, Hermawan. Pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang ini menilai kepedulian masyarakat Kota Tangerang terhadap buku memang sudah mengalami peningkatan. “Kalau untuk di Kabupaten Tangerang memang sebagian masih rendah kepekaannya. Tapi di Kota Tangerang alhamdulilah sudah mulai gemar membaca,” kata dia.
Dia mengatakan hal itu terjadi lantaran banyak penggiat sosial yang juga fokus dalam masalh literasi membaca buku. Terbukti dengan banyaknya TBM yang terbentuk di berbagai wilayah Kota Tangerang.
“Saya dan teman-teman komunitas juga mengembangkan berbagai TBM di Tangerang Raya. Seminggu tiga kali kita adakan kegiatan untuk meningkatkan literasi dengan fasilitas berbagai buku dan pelajaran,” kata dia.
Baca Juga: Kerusakan Jalan Teuku Umar Karawaci Akhirnya Diperbaiki
Pria yang disapa Jampang ini mengatakan dalam menjalankan upaya tersebut pihaknya juga kerap menemukan berbagai kendala. Seperti kurangnya dukungan orangtua terhadap minat membaca anak. Kemudian lingkungan yang juga mempengaruhi. “Jadi masih banyak orangtua yang belum peka bahwa pendidikan itu penting terutama dalam hal membaca,” katanya.
“Kemudian lingkungan yang membuat kultur atau dunia literasi ini terhalang. Semisal temannya ada 10 orang dari 10 orang ini paling yang benar serius membaca hanya sekitar tiga orang. Sisanya main game dari tiga orang ini jadi terpengaruh untuk main game terus,” tambah Jampang.
Jampang berharap masyarakat kian sadar akan pentingnya membaca buku. Pasalnya tantahgan di masa depan akan lebih berat lagi. Namun akan lebih berat lagi bila tak diimbangi dengan pengetahuan. “Karena tantangan ke depan itu masyarakat sudah disodorkan dengan pengetahuan yang lebih canggih dan pembelajaran yang luar biasa maka diutamakan membaca,” pungkasnya. (irfan/made)
























