SATELIT NEWS.ID, PINANG—Sudah cukup lama wilayah RT 07 RW 04, Kampung Sawah Dalam, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang memiliki stigma negatif. Mulai dari kasus prostitusi hingga tempat transaksi dan penggunaan narkoba bahkan dijuluki Kampung Ambon-nya Tangerang.
Kondisi ini membuat resah warga, termasuk Deny Hasan selaku Ketua RT 07 sekaligus inisiator kampung Hijrah. Ia tak ingin prostitusi dan narkoba merusak generasi muda setempat.
Hijrah atau berubah menjadi solusi agar generasi muda terselamatkan kemudian menghapus stigma buruk kampung mereka. Deny mengajak pemuda dan warga mulai hijrah menata lingkungan dengan program Kamtibmas pengawasan prostitusi dan narkoba.
“Kami merasa malu dan bodoh kalau tidak bisa mengubah kondisi ini. Kita mulai memperkuat organisasi RT dengan menerima aspirasi dan usulan dari warga untuk memperbaiki lingkungan, lalu kita pasang portal dan CCTV di delapan titik untuk melakukan pengawasan mencegah prostitusi dan narkoba di wilayah kami,” ujar Deny belum lama ini.
Ide Deny mengagas Kampung Hijrah didukung kehadiran pemuda setempat yang baru saja pulang nyantri dari pondok pesantren. Satu persatu kegiatan positif dimulai dan menjadi wadah warga setempat dalam berkreatifitas.
“Dimulai dengan pengajian, seni musik, kerja bakti dan memanfaatkan lahan tidur untuk berkebun dan budidaya ikan, yang paling penting dalam proses pembentukan Kampung Hijrah adalah ada kegiatan positif di lingkungan,” katanya.
Baca Juga: Motor Warga Pinang Disikat Maling Saat Subuh, Aksi Pelaku Terekam CCTV
Selain itu, pemanfaatan lahan tidur milik warga untuk berkebun dan budidaya ikan terus dikembangkan oleh warga Kampung Hijrah dengan mempersiapkan ekowisata terpadu. Kehadirannya diharapkan menjadi penggerak perekonomian masyarakat setempat.
Ekowisata terpadu nantinya akan memfasilitasi pelaku UMKM menjajakan produknya, kemudian juga adanya wisata air, camping ground, dan sarana edukasi lainnya. Upaya ini merupakan salah satu visi misi terbentuknya Kampung Hijrah agar memberikan manfaat bagi warga dan masyarakat.
“Kami ingin menciptakan lingkungan yang dapat menggerakan perekonomian, mendatangkan wisatawan baik dalam Kota maupun luar Kota Tangerang,” katanya. Cita-cita warga Kampung Hijrah sejalan dan didukung oleh Pemkot Tangerang melalui Kelurahan Panunggangan Utara menetapkan Kampung Hijrah sebagai kampung tematik pada Agustus tahun 2020 lalu.
“Kami terus berproses dengan kerjabakti swadaya memenuhi kebutuhan Kampung Hijrah,Rasa memiliki kampung yang tinggi membuat warga terus mengeluarkan bantuan materi. Dukungan Pemkot juga terus diberikan contohnya pembangunan paving blok untuk jalan dan lainnya,” katanya.
Salah satu produk kreativitas pemuda Kampung Hijrah adalah lampu hias berbahan pipa paralon. Pipa yang biasanya dipergunakan untuk menyalurkan air itu disulap menjadi lampu hias dengan variasi gambar bernilai ekonomi tinggi.
Windarto selaku Sekretaris RT 07 mengatakan, kreativitas lampu hias pipa paralon berawal dari memanfaatkan barang-barang tak terpakai yang ada di sekitar Kampung Hijrah. Pemuda setempat mempelajari pembuatannya melalui Youtube. “Paralon gampang dicarinya, Awet tak mudah pecah dan gampang dibentuknya,”ujar pria yang akrab disapa Acong ini.
Motif lampupipa paralon dapat dipesan sesuai permintaan konsumen seperti motif wayang, kartun, dan kaligrafi. Lampu hias yang menjadi ikon dan oleh-oleh khas Kampung Hijrah ini telah dipasarkan mulut ke mulut dengan kisaran harga Rp 120-150 ribu per buahnya. “Pesanan banyak di Jabodetabek , kita juga sedang siapkan pemasaran secara online agar semakin luas pemasarannya,” katanya. (made)
