SATELITNEWS.ID, TANGERANG–Marsiti (52) hanya terbaring di tempat tidurnya. Sekilas, warga RT 1 RW 2, Kampung Ledug Asem, Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung itunampak tertidur lelap.
Anak-anak Marsiti mencoba membangunkannya. Namun dia tak merespon sama sekali walaupun masih bernafas. Saat itu, Senin (5/7/2021), anak-anaknya baru sadar kalau Marsiti koma.
Mereka pun panik dan mencoba mencari bantuan. Setelah melaporkan kejadian ini kepada RT setempat Marsiti pun langsung ditangani. Ambulans pun datang untuk membawa ibu enam anak ini ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis.
Dalam perjalanan, anak kelima Marsiti, Herianto yang menemaninya bersama dengan warga lain. Gundah-gulana menghantui perasaan Harianto selama perjalanan. Betapa tidak ? Marsiti merupakan orang tua satunya setelah ayahnya wafat pada 2017 silam.
“Deg-degan saya. Ibu sekarat, koma. Di ambulans saya berdoa saja. Mudah-mudahan bisa ketolong,” ujar Herianto kepada Satelit News di rumahnya, Minggu, (11/7/2021).
Satu per satu rumah sakit mereka sambangi. Namun, tak membuahkan hasil. Dari 8 rumah sakit tak satupun yang bersedia menangani Marsiti. Bukan tanpa sebab, rumah sakit tersebut tak dapat menangani Marsiti lantaran ketersediaan tempat tidur pasien atau Bed Occupancy Rate (BOR) penuh.
Baca Juga: Gedong Tinggi Ciledug Dibongkar, Pemkot Tangerang Kaji Sisa Bangunan untuk Rekonstruksi
“Di Kota Tangerang RSUD Kota, Rumah Sakit Annisa, Rumah Sakit Dinda, RSU Kabupaten Tangerang, EMC, Sitanala terus sisanya saya lupa. Pokoknya penuh semuanya,” kata Herianto.
Di RSUD Kota Tangerang ibunya tidak dapat ditangani lantaran di sana hanya melayani pasien Covid-19. Herianto mengaku pihak rumah sakit sempat memintanya untuk melakukan swab tes di Puskesmas terdekat. Namun dia menolak lantaran ibundanya sudah dinyatakan negatif Covid-19 saat sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Sari Asih Ar-Rahmah.
“Kalau memang ibu mau masuk harus minta surat izin Puskesmas minta surat pengantar, masuk rumah sakit itu dinyatakan Covid-19. Ada pernyataan itu beneran harus dinyatakan Covid-19. Saya nolaklah sebagai anaknya. mendingan saya pulang,” ungkapnya.
Akhirnya, rombongan ambulans pun membawa pulang kembali Marsiti ke rumahnya dalam keadaan koma. Marsiti pun kembali dibaringkan di tempat tidurnya.
“Dibawa pulang juga tetap saja sama koma,” imbuhnya Herianto.
Marsiti pun dirawat seadanya tanpa penanganan medis. Kata Harianto, ibunya sempat ingin diberikan oksigen dari Rumah Sakit Dinda. Namun dokter enggan mengambil resiko karena keadaannya yang sudah parah.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Gelar Renungan Suci HUT ke-81 RI
“Takut paru-parunya banjir. Karena kan Rumah Sakit Dinda sempet lihat hasil rontgen. Jadi harus ada penanganan khusus nggak bisa sembarang dipasang oksigen,” katanya.
Dua hari setelah kejadian itu Rabu, (7/7/2021) Marsiti pun menghembuskan nafas terakhirnya. Isak tangis kata Herianto saat itu pun pecah. Ibu yang mereka cintai meninggal tanpa sempat mendapat penanganan medis di rumah sakit.
Diketahui, Marsiti menderita komplikasi. Dia memiliki berbagai macam penyakit diantaranya asma, jantung, paru-paru, pendarahan di lambung dan kepala.
“Ibu mah komplikasi ya. yang parah sih asma, lambung pendarahan, di kepala ada luka. Paru-paru ada, jantung ada,” ungkap Harianto.
Sebelumnya, Marsiti sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Sari Asih Ar-Rahmah 10 hari lantaran penyakit tersebut. “3 hari di ruang biasa, terus dipindahkan ke ICU selama 4 hari. Terus dipindahin lagi ke sebelahnya (kamar biasa) total 10 hari,” imbuh Harianto.
Keadaan Marsiti kala itu pun membaik namun masih harus rawat jalan. Bolak balik Marsiti ke Rumah Sakit Sari Asih Ar-Rahmah selama sepekan hingga kedapatan koma di tempat tidur rumahnya.
Kendati demikian, Herianto beserta keluarga mengaku ikhlas. Menurut dia ini merupakan takdir yang tidak dapat dihindarkan.
“Ya saya masalah umur Allah yang ngatur kalau masalah itu saya ikhlas,” tuturnya.
Namun begitu, dia tetap kecewa dengan pelayanan rumah sakit di Kota Tangerang yang minim. Seharusnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dapat membagikan fokusnya. Fokus untuk penanganan Covid-19 namun tidak juga mengesampingkan pasien umum.
“Kan istilahnya saya bawa ibu sudah nggak berdaya, semua dokter yang saya kasih lihat ditolak. Harapannya dimohonkanlah jangan ada begini lagi. Kan manusia juga pengen diurusin, dapet layanan lebih baik. Dari pada kita (perawatan) dirumah,” katanya. (irfan/gatot)
























