SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Pandeglang dianggap sebagai salah satu daerah rawan bencana risiko tinggi, di wilayah Banten. Terbukti, akhir tahun 2018 silam dilanda bencana tsunami Selat Sunda, dan pertengahan Januari 2022 lalu, gempa berkekuatan 6,6 mengguncang.
Hal itu, yang kemudian menjadi salah satu landasan Perkumpulan Boedak Saung Barokah Putra Mandiri (PBSBPM) menyorot mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, menjadi penting.
Wakil Ketua Bidang Organisasi PBSBPM, Rosidarta Utama menyatakan, perkara mitigasi harus melibatkan dan dilakukan seluruh komponen, termasuk di dalamnya unsur pemerintah dan masyarakat.
“Kita menggagas mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Karena, kita ingin melibatkan masyarakat dan mengajak masyarakat tangguh bencana,” kata Rosidarta, Rabu (2/2/2022).
Katanya, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal itu difokuskan ke 7 kecamatan di wilayah pesisir diantaranya, Kecamatan Panimbang, Cibaliung, Cibitung, Cimanggu, Cigeulis, Sobang dan Sumur. Menurutnya, untuk memitigasi bencana diperlukan langkah konkrit, salah satunya adalah sosialisasi kepada masyarakat.
Sosialisasi dimaksud tambah pria yang akrab disapa Daday ini, digagas melalui program “Ngopi” Ngolah Pikir, yang akan melibatkan para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Pandeglang.
Baca Juga: Babinsa Koramil 0101/Pandeglang Monitoring Penyaluran Bantuan Pangan Beras untuk 965 KPM
“Selain para OPD terkait, komponen lainnya juga seperti Ormas, relawan, TNI-Polri, swasta dan yang lainnya, akan dilibatkan. InsyaAllah kegiatannya di pertengahan bulan ini (Februari,red),” tandasnya.
Koordinator Boedak Saung Rescue (BSR), Ade Mulyana mengatakan, koordinasi dan persiapan menuju acara “Ngopi” sudah dan sedang dilakukan. Bahkan, para pihak terkait yang sudah terkoordinasi, respon baik.
“Dalam agenda “Ngopi” nanti, diharapkan menghasilkan sebuah rekomendasi yang dapat diaktualisasikan bersama – sama. Yang jelas penekanannya, bagaimana masyarakat dapat melakukan evakuasi mandiri ketika terjadi bencana,” ujar Ade.
Ditambahkannya, wawasan tentang kebencanaan harus terus diperluas. Terlebih, Pandeglang menghadapi ancaman megathrust dengan prediksi gempa berkekuatan 8,9 dan akan terjadi luapan tsunami setinggi 15 – 20 meter.
“Wilayah pesisir menjadi perhatian kami, dan kami juga akan mengundang para pihak yang kompeten di bidangnya. Sehingga, masyarakat terbangun dan lebih peduli terhadap wilayahnya, agar mampu memitigasi dirinya sendiri dan wilayahnya,” imbuhnya. (mardiana)
























