SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG – Sedikitnya 5 rekomendasi yang disampaikan oleh Perkumpulan Boedak Saung Barokah Putra Mandiri (BSBPM) kepada Pemkab Pandeglang.
Kelima poin rekomendasi itu, disampaikan dalam acara NGOPi (Ngolah Pikir) Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal, yang digelar Boedak Saung, di panggung budaya Disparbud Pandeglang, Selasa (15/3/2022).
Sebelum diserahkan, 5 poin rekomendasi itu dibacakan secara detail oleh Ketua Umum Boedak Saung, Mardiana Tirta Laksana. Yang kemudian, diserahkan oleh Wabid Usaha Boedak Saung, Muamar, kepada Asda 1 Setda Pandeglang, Utuy Setiadi.
Detail isi poin rekomendasi itu diantaranya, 1. Menyiapkan “Saung Gede” sebagai Titik Evakuasi Akhir (TEA), 2. Mengoptimalkan pelatihan mitigasi kebencanaan terhadap masyarakat, 3. Membangun kerjasama dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) atau swasta.
Selain itu, 4. Meningkatkan atau menumbuhkembangkan budaya gotong royong masyarakat dan 5. Mendorong peran aktif Pemerintah Daerah (Pemda) dalam penanggulangan kebencanaan untuk kemanusiaan.
Ketua Umum Boedak Saung, Mardiana Tirta Laksana menegaskan, semua stakeholder diharapkan meningkatkan kepeduliannya terhadap mitigasi bencana.
Baca Juga: Diskominfosantik Kabupaten Serang Berikan Nutrisi Batin ASN Dengan “Ngopi”
“Acara ini diarahkan, guna mendorong kepedulian semua pihak untuk memitigasi bencana,” kata Mardiana, Selasa (15/3/2022).
Hadir dalam kesempatan itu, Asda 1 Setda Pandeglang, Utuy Setiadi, Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi dan Maritim Serang, Tarjono, Dirut PERUMDAM Tirta Berkah, Euis Yuningsih, perwakilan dari Polres Pandeglang, dari Kejari Pandeglang, dari Kodim Pandeglang, Basarnas Banten, Yayasan Balaputra Salakanagara, sejumlah OPD dan perwakilan masyarakat dari 7 kecamatan di wilayah selatan.
Asda 1 Setda Pandeglang, Utuy Setiadi menyatakan, Pemkab Pandeglang kerap bersinergi dengan seluruh pihak, khususnya dalam hal mitigasi dan penanganan bencana.
“Kami sepakat, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Karena budaya gotong royong di masyarakat harus kembali ditingkatkan,” ungkap Utuy.
Dalam kesempatan yang sama, Pembina Yayasan Balaputra Salakanagara, Budi Prakoso menegaskan bencana tak dapat diprediksi.
“Kita harus paham dan coba hitung terkait siklus alam, yang tentunya ancaman bencana sangat nyata, dan akan terjadi kapan dan dimana-pun,” ungkapnya.
Baca Juga: TNI–Australia dan BPBD Gelar Latihan Gabungan, Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Lebak
Selain menyerahkan rekomendasi Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal, acara itu juga diisi dengan penandatanganan kesepakatan.
Masing-masing individu yang hadir, terlihat bergantian membubuhkan tanda tangan di atas lembar kesepakatan.
Bahkan, hampir semua peserta NGOPI, menyampaikan pendapatnya. Sehingga, forum NGOPI tampak dinamis. (mardiana)
























