SATELITNEWS.ID, SERANG – Ratusan pesilat dari berbagai daerah, unjuk kebolehan dalam festival silat kaserangan, di Pantai Pasir Putih Florida Indah, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Sabtu (16/7/2022). Dalam festival tersebut, mereka memperebutkan juara 1,2 dan 3.
Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang, Beni Kusnandar mengatakan, sudah dua tahun ini sejak pandemi covid-19 pihaknya tidak bisa melaksanakan festival silat kaserangan.
Oleh karena itu kata dia untuk membangkitkan kembali para pesilat di paguron untuk melatih kembali gerak silat Kaserangan pada tahun ini pihaknya kembali melaksanakan festival.
“Kami ingin melihat bagaimana silat kaserangan, khususnya di Kabupaten Serang apakah memang masih dilakukan pelatihan rutin atau tidak. Karena biasanya seni dibiarkan itu akan lupa,” ujarnya.
Beni menuturkan, pesertanya perwakilan dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang dan tuan rumah Anyer Cinangka, kemudian dari Kabupaten Lebak, Pandeglang, Cilegon, Kota Serang, Tangerang Selatan, perwakilan Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung.
“Masing masing peserta di Kabupaten Serang diberikan bantuan transpot sebesar Rp1,5 juta per kelompok, terus kita berikan Rp3 juta per Kabupaten Kota dan Rp5 juta per provinsi,” ujarnya.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, 14 Letusan Tercatat Sejak 4 September
Beni mengungkapkan, dalam festival silat kaserang ini ada hadiah yang bisa dibawa pulang. Untuk juara 1 Rp5 juta, juara 2 Rp3 sampai Rp4 juta dan juara harapan 3 paling kecil Rp1 juta.
“Hadiah ini karena anggarannya masuk di APBD kami berpatokan di SIPD. Yang dinilai dalam festival ini pertama keutuhan gerak, kemudian wirasa, wiraga, wirahma dan wirupa. Selain itu pola lantai,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, Asep Nugrahajaya mengatakan, silat kaserangan ini salah satu materi yang mengandung muatan budaya dan muatan pengembangan pendidikan karakter. Oleh karena itu ini harus diterapkan di pembelajaran sekolah.
“Jadi tingga kita nanti merumuskan apakah ini menjadi bagi muatan lokal atau kurikulum. Yang pasti ini harus menjadi muatan yang bisa diterima sekolah dan bisa dipahami anak anak,” pungkasnya. (sidik)
























