SATELITNEWS.COM, SERANG–Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, akan mengundang PT Wilmar untuk membahas terkait dengan produksi padi dari para petani. Hal itu dikarenakan, keberadaannya dikeluhkan oleh Forum Penggiliangan Padi (FPP).
“Saya belum sempat menerima Forum Penggilingan Padi. Waktu itu memang mereka meminta untuk dipertemukan dengan pihak Wilmar, dan saya sudah mempertemukan mereka. Saya meminta, untuk membuat semacam MoU. Tapi khususnya untuk penggilingan padi di Kabupaten Serang,” kata Tatu, Minggu (20/8/2023).
Kata Tatu, Forum Penggilingan Padi mengeluh lantaran kehabisan bahan baku padi. Menurut Tatu, hal ini tentunya tidak boleh terjadi. Karena, penggilingan padi bagian dari usaha di masyarakat.
“Jadi saya waktu itu meminta, khsusunya saya bicara untuk di Kabupaten Serang, diberi ruang mereka (penggilingan padi,red). Wilmar kan perusahaan besar,” ujarnya.
Tatu juga menuturkan, Forum Penggilingan Padi pada dasarnya ditugaskan untuk membina petani disekitarnya. Namun dengan kondisi seperti ini, maka Pemda harus memfasilitasi lagi, sejauh mana MoU yang diminta oleh Pemda, antara Forum Penggilingan Padi dan PT Wilmar.
“Saya sangat wanti – wanti, Penggilingan Padi atau beras di Kabupaten Serang tidak boleh mati. Karena itu juga kan bagian dari usaha masyarakat,” tuturnya
Sementara, Ketua Komunitas Penggilingan Padi Se-Banten, Surnadi sebelumnya mengatakan, pihaknya merasa sangat dirugikan dengan adanya PT Wilmar, yang membeli gabah dari petani. Dimana, Wilmar membeli gabah dengan harga cukup tinggi dari para petani. Sementara, para pengusaha penggilingan tidak dapat bersaing dengan harga dari PT Wilmar tersebut.
“Kami penggilingan – penggilingan kecil di sini, terasa sangat dirugikan dengan adanya Wilmar. Kami tidak bisa kerja, kami tidak bisa bersaing dari segi harga. Pasaran kita kan hanya di pasar – pasar tradisional. Sedangkan Wilmar, skala internasional,” ungkap Surnadi.
Surnadi juga menuturkan, para petani selama ini lebih memilih menjual gabahnya langsung ke Wilmar, dengan harga Rp 7000 per kilogram. Sedangkan jika dijual ke penggiliangan, hanya dihargai Rp 6000 lebih per kilogram.
Sekretaris Komunitas Penggilingan Padi Se-Banten, Suheludin menambahkan, dengan adanya PT Wilmar membeli gabah ke petani pihaknya merasa tidak nyaman. Kondisi ini pun, berlangsung cukup lama yaitu sekitar dua tahun.
“Banyak penggilingan padi yang pendapatannya menurun drastis, bahkan banyak yang sampai tutup. Ada juga hingga jual mobil, karena tidak bisa menyaingi PT Wilmar,” ucap Suheludin.
Pria yang akrab disapa Suhel ini mengungkapkan, jumlah Penggiliangan di Banten ada kurang lebih 1000, bahkan bisa lebih. Karena di Kabupaten Serang saja, ada sebanyak 800 penggilingan.
“Jadi tuntutannya, pemerintah segera mengevaluasi PT tersebut. Kan PT tersebut usahanya banyak ada gula, minyak dan terigu. Kalau bisa, untuk padi segera dihentikan,” imbuhnya. (sidik)