SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021-2022, Indonesia termasuk negara ketiga terendah di ASEAN dalam pemenuhan golden line rasio jumlah dokter, termasuk dokter umum, spesialis dan sub-spesialis. Dari pantauan Kementerian Kesehatan RI, Indonesia setidaknya membutuhkan empat jenis bidang spesialis, yaitu saraf, bedah saraf, saraf neurologi intervensi, dan bedah saraf nerofa sekuler. Saat ini, kekurangan secara nasional untuk empat bidang spesialis tersebut sebanyak 417 dokter spesialis, yaitu di spesialis saraf 92 orang, bedah saraf 11 orang, neuro intervensi 279 orang dan kebutuhan bedah saraf nerofa sekuler sebanyak 35 dokter spesialis dan sub spesialis.
Sebagai penyakit penyebab kematian terbanyak di Indonesia, pemenuhan jumlah dokter spesialis penyakit stroke jelas menjadi prioritas, bersama dengan spesialis jantung, kanker, dan ginjal. Hal lainnya adalah ketersediaan rumah sakit yang memenuhi ketersediaan fasilitas teknologi dalam penanganan ilmu bedah saraf, khususnya jaringan rumah sakit yang tersebar di sejumlah daerah. Indonesia berada di posisi 0,46/1.000 dari rasio ideal 1/1.000 atau 1 dokter per 1.000 penduduk.
Di tengah keterbatasan layanan bedah saraf, kehadiran dan keberadaan Siloam Hospitals dalam dedikasinya demi peningkatan kualitas hidup pasien, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perjalanan Tim Bedah Saraf Siloam Hospital yang kini memasuki usia 27 tahun yang telah mencatatkan diri di mata dunia international akan berbagai kesuksesan dalam menangani berbagai kasus terkait kesehatan otak pun menorehkan berbagai catatan yang membanggakan bagi dunia kesehatan Indonesia, yaitu melalui ragam edukasi ilmu bedah saraf sekaligus dalam penanganannya.
Beranggotakan 28 dokter spesialis bedah saraf yang tersebar di seluruh Indonesia, tim bedah saraf Siloam Hospitals itu telah melakukan lebih dari 20.000 tindakan bedah saraf sejak layanan bedah saraf Siloam Hospitals hadir kali pertama pada November 1996.
Julius July : Perjalanan Ilmu Bedah Saraf Indonesia Berproses dan Jadi Acuan Internasional
Meskipun Indonesia dinilai oleh WHO sebagai negara yang minim jumlah dokter spesialis/sub spesialis Bedah Saraf, hal positif yang patut dibanggakan adalah adanya pengakuan dunia international akan kemampuan berdasarkan kompetensi dan inovasi para dokter ilmu bedah saraf indonesia di mata dunia, Hal tersebut disampaikan Guru Besar FK UPH, Prof Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), Ph.D , Rabu, 08/11/2023 di Tangerang.
“Indonesia merupakan salah satu pusat informasi berdasarkan tingginya kasus dan mayoritas tindakan operasi bedah saraf yang ditangani pun rata rata berhasil ditangani. Di setiap forum internasional, banyak ahli bedah saraf yang selalu berdiskusi bersama kami tentang penanganan pasien sebelum tindakan pun saat melakukan pembedahan. Meskipun secara ilmu sama dan ketersediaan teknologi adalah rata, hanya saja pengalaman kami selalu menjadi rujukan berdasarkan tingginya jumlah penanganan pasien. Di mata international, kemampuan kami diakui. Istilahnya tangan kami dianggap halus saat melakukan tindakan dengan strategi penanganan yang mumpuni”, ungkap Julius yang merupakan anggota American Association of Neurological Surgeons sejak tahun 2015 lalu dan salah satu dokter senior di Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).
Akan perkembangan ilmu dan teknologi bedah saraf di Indonesia, Julius July yang berpraktek tetap di Siloam Hospitals Lippo Village sejak 2005 ini mengungkapkan bahwa Bedah Saraf di Indonesia berkembang pesat sejak 10 tahun terakhir dengan bertambahnya pusat ilmu bedah saraf sebanyak 8 tempat yang sebelumnya hanya ada di tiga kota besar. Selain itu, keseragaman kurikulum dengan mengikuti perkembangan teknologi bedah saraf.
“Contohnya teknologi pada sistem pemindai tubuh dan mikro instrument. Tiga pulun tahun lalu kita hanya mengenal sistem Cityscan, belum ada teknologi sistem pewrnaan pada jaringan tubuh dan pembuluh darah. Kemudian hadir teknologi MRI dan Siloam Hospitals turut berperan serta menyebarkan alat MRI kesejumlah daerah. Ini tentu saja sangat membantu kinerja para dokter”, ungkap Julius July yang merupakan sosok yang sangat dikenal di dunia internasional sebagai profil yang sangat menguasai lingkup ilmu Neuro-onkologi, yaitu sub spesialis bedah saraf yang fokus pada penanganan tumor otak dan sumsum tulang belakang. Secara umum, para ahli neuro-onkologi merancang rencana perawatan dan Tindakan yang tepat terarah guna penanganan untuk tumor otak baik jinak maupun ganas.
*Layanan Bedah Saraf Siloam Hospitals*
Dimulai dari operasi pertama yang dilakukan pada tahun 2001 dan tercatat sebagai operasi batang otak pertama di Asia Tenggara. Operasi batang otak pasien ini dipimpin oleh Ketua Tim Bedah Saraf Siloam Hospitals Prof. Dr. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS (K), Ph.D. , hingga kini Tim Bedah Saraf Siloam Hospitals telah melakukan lebih dari 70 operasi batang otak dengan tingkat kesuksesan 100%.
Dalam penelusuran dan sejumlah wawancara yang dilakukan terhadap dua anggota Tim bedah saraf dari Siloam Hospitals Lippo Village, terungkap akan tiga kasus bedah saraf yang paling banyak ditangani hingga 27 tahun perjalanan ini. Ketiga kasus tersebut yaitu tumor otak, gangguan pembuluh darah, dan kelainan tulang belakang. Penanganan kasus dan tindakan yang melibatkan lintas disiplin ilmu dan sektoral ini pun terkorelasi akan ketersediaan layanan berbasis mutu teknologi, sumber daya manusia atau ketersediaan ahli bedah saraf sekaligus keberadaan rumah sakit dan jaringannya. Akan hal ini, keberadaan Siloam Hospitals hadir guna memenuhi semua hal tersebut.
Sejumlah prestasi lainnya juga ditorehkan Tim Bedah Saraf Siloam Hospitals, antara lain yang tercatat oleh MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) yaitu pencapaian Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS, FINPS sebagai dokter bedah saraf pertama di Indonesia yang berhasil melakukan operasi Deep Brain Stimulation pada penyakit Tourrette Syndrome dan dokter bedah saraf pertama yang berhasil melakukan operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit epilepsi.
sebagai dokter bedah saraf pertama di Indonesia yang berhasil melakukan operasi Deep Brain Stimulation pada penyakit Tourrette Syndrome dan dokter bedah saraf pertama yang berhasil melakukan operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit epilepsi. FOTO: ISTIMEWA
Dr Made menjelaskan penyakit tourrette sindrome merupakan penyakit dimana pasien memiliki dua gejala yaitu kadang berteriak kencang, nafas kencang, atau berbicara kasar tanpa disadari. Gejala yang kedua, pasien melompat tanpa bisa berhenti apalagi jika sedang dalam tekanan, dimana melompat merupakan gejala terberat dalam tourrette sindrome. Pengobatan melalui obat-obatan juga sudah dilakukan, namun tidak menunjukan hasil yang diharapkan. Operasi deep brain stimulation penyakit tourrette sindrome dilakukan di Siloam Hospitals Karawaci, Tangerang, pada November 2018. “Saat ini pasien sudah melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa di Yogyakarta, dengan kondisi stabil, dan sudah tidak menunjukkan gejala apapun lagi,” tegasnya.
Harapannya kedua operasi yang telah berhasil dilakukan ini menjadi tonggak untuk dunia kedokteran khususnya bedah saraf, dimana ini menjadi batu loncatan karena saat ini sudah ada alternatif pengobatan untuk pasien-pasien dengan kasus epilepsi yang sudah kronis. Hal ini juga berlaku sama untuk pasien dengan tourrette sindrome dimana saat ini mungkin banyak masyarakat yang belum tahu alternatif pengobatan untuk penyakit ini, dengan hasil yang nyata. (made)