SATELITNEWS.COM, LEBAK—Sejak hadirnya beras Bulog masuk ke pasar tradisional menjadi angin segar bagi pedagang beras. Sebab, harga yang ditawarkan cukup murah yang disertai kualitas bagus. Namun intervensi yang diberikan pemerintah untuk menekan tingginya harga beras itu kini dikeluhkan karena sudah dua minggu ini pendistribusian langka sehingga membuat pada pedagang memilih tutup lantaran tidak ada stok.
Anwar salah satunya. Pedagang beras di Pasar Rangkasbitung, ini memilih menutup tokonya. Karena, ketersedian beras yang dijanjikan Bulog sudah dua minggu tidak kunjung ada lagi. “Ya sekarang beras Bulog masuk pasar (diperjualbelikan ke pedagang) pertama kali. Jatahnya (belanja ke Bulog) itu 2 ton per minggu, awal lancar tapi sekarang susah barangnya,” kata Anwar, Senin (13/11/2023).
Anwar mengakui, beras Bulog sangat diminati oleh konsumen. Selain harganya yang murah, kualitasnya juga tidak kalah dengan beras lokal yang kini harganya cukup tinggi. Namun, barangnya kini sulit didapat. Ia pun mengaku tidak tahu apa yang menjadi penyebab lambatnya pendistribusian beras Bulog.
“Harusnya gini kalau Bulog enggak keluar lagi ya udah bilang aja. Jangan kaya gini, ini mah sama aja nyiksa pedagang. Pedagang mau belanja beras lokal, khawatir besok atau lusa beras Bulog ngebom lagi,” tutur Anwar.
“Pedagang mempertanyakan sistemnya, ini sudah tidak jelas. Kita (sebagian pedagang) tutup bukan karena adanya beras Bulog, tapi kita khawatir merugi jika belanja beras lokal yang saat ini hargnya tinggi, sementara pembeli lebih pilih beras Bulog yang harganya murah dan memiliki kualitas bagus,” imbuhnya.
Senada dikatakan pedagang beras lainnya di Pasar Rangkasbitung, Dani. Kata Dani beras Bulog lebih banyak peminat karena harganya murah. Sementara beras lokal minim pembeli karena harganya mahal. “Untuk mendapatkan beras Bulog kita harus mendaftar dulu menggunakan administrasi kependudukan dan persyaratan lainnya, kalau enggak daftar kita gak menerima,” jelas Dani.
Baca Juga: Berencana Bangun Lumbung Pangan di Pandeglang, Bulog Siap Serap Hasil Panen Petani
“Sesuai aturan per 10 Kilo harganya Rp 55 ribu, jatahnya seminggu dua ton. Jika dibandingkan dengan harga beras lokal lumayan selisihnya cukup besar Rp 2.000 sampai Rp 3.000,” tutur Dani. “Kalau saya tetap buka, karena stok beras lokalnya cukup banyak. Untuk beras Bulog mah tidak ada. Untuk pembeli ya sangat menurun karena banyaknya nanyain beras Bulog saja,” tandasnya.
Terpisah Sekretaris Dinas (Sekdis) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak, Agus Nugraha membenarkan adanya beras bulog bisa dijual belikan oleh pedagang di pasar tradisional. Salah satunya di Pasar Rangkasbitung. “Betul itu namanya Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) dari badan pangan itu dibentuk pada tahun 2022, itu dari pemerintah pusat. Untuk kemasan itu 5 Kilogram,” kata Agus ditemui di ruang kerjanya.
Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 15 / 2022 tentang Stabilitas Pasokan dan Harga Beras, Jagung dan Kedelai di Tingkat Konsumen tersebut, kata Agus untuk menekan harga beras yang saat ini cukup tingginya. “Intinya program itu untuk menekan harga beras yang saat ini tinggi. Beras tersebut itu infor dari luar negeri,” ujar Agus.
“Untuk intervensi langsung melalui surat belum. Tapi kalau koordinasi terus dilakukan. Namun, terkait kendala beras (lambat pendistribusian) karena lambat pengiriman dan kurangnya SDM yang mengemas beras tersebut. Karena datangnya beras dimpor tersebut berkurang 50 Kilogram,” ungkap Agus saat disinggung Disperindag mengetahui keterlambatan pendistribusian beras Bulog ke pasar.(mulyana)
























