SATELITNEWS.COM TANGSEL—Komunitas Tangsel Bersatu mencatat selama tahun 2023 telah terjadi 158 kasus tawuran. Jumlah itu terbagi menjadi dua golongan yaitu tawuran pelajar sebanyak 46 kali dan tawuran non pelajar 112 kali.
Ketua Komunitas Tangsel Bersatu, Muhamad Aprilyandi menjelaskan kasus tawuran antar gangster atau non pelajar paling banyak terjadi. Sedangkan tawuran antar pelajar cenderung berkurang. Musababnya adalah tawuran antar pelajar lebih mudah terdeteksi.
Menurut Muhamad, tawuran yang terjadi menelan korban jiwa dan luka-luka. Sebanyak empat orang tewas akibat tawuran selama tahun ini.
“Di tahun 2023 ini ada 158 kasus. 84 berhasil digagalkan. Korbannya sebanyak 69 orang luka-luka dan 4 meninggal. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2022 sebanyak 81 kasus. Kemudian 2021 sebanyak 52 kasus dan tahun 2020 ada 76 kasus,” ujar Muhamad, Kamis (28/12).
Komunitas Tangsel Bersatu, kata Muhamad, mendeteksi potensi tawuran antar gangster ada malam pergantian tahun baru 2024.
Sejumlah wilayah yang rawan tawuran sudah dipetakan. Paling banyak, kata dia, berada di lokasi perbatasan antara Kota Tangsel dan DKI Jakarta atau pun Kota Tangerang.
“Kalau wilayah rawan itu perbatasan Pondok Ranji, Pondok Aren dan Ciledug,” ungkap Muhamad.
Baca Juga: Doa Bersama untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Digelar di Islamic Center Tangsel
Menurut dia, pihaknya akan mengerahkan puluhan anggota untuk mencegah tawuran tersebut. Untuk teknisnya, kata dia, setiap tim kecil akan disebar ke wilayah yang sudah dilakukan pemetaan. Semisal ada indikasi tawuran maka tim inti akan langsung datang membantu. Namun, ia menegaskan, walaupun sudah melakukan koordinasi dengan Polisi, pihaknya tidak berdampingan di lapangan.
“Iya, kita juga sebar teman-teman seperti anggota dari Pondok Ranji nanti kita komunikasi. Kalau misalkan ada indikasi mau ada keributan tolong informasikan biar nanti tim inti yang langsung ke TKP,” sebutnya.
Terkait kasus tawuran, Muhamad meminta Pemkot Tangsel mengoptimalkan program yang mengarah ke pemberdayaan bagi para pelajar. Pemkot maupun Dinas terkait harus memberikan perhatian lebih agar bisa tersalurkan dengan baik.
“Kita harapannya Dinas Pendidikan berperan di teman-teman pelajar ini. Karena mengingat teman-teman yang melakukan tawuran ini masih kebanyakan di bawah umur. Maka dari itu kita berharap supaya pemkot nanti membuat program misalnya pemberdayaan untuk teman-teman bagaimana supaya pola pikirnya bisa berubah,” ungkapnya.
Dari upaya yang dilakukan oleh pihaknya, ia pun memetakan sejumlah faktor kenapa para pelajar kerap melakukan tawuran. Pertama karena lingkungan dan kedua faktor keluarga. (eko)
























