SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Warga korban banjir di Komplek Taman Mangu Indah Kelurahan Jurangmangu Barat, Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan menggelar pertemuan dengan pihak kontraktor pembangun tanggul dan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK). Para warga meluapkan uneg-unegnya soal tanggul yang menyebabkan banjir.
Pertemuan itu berlangsung di Balai Warga RW 12 di Jalan Cendana XI dekat SDN 03 Jurangmangu Barat, Jumat (15/5) lalu. Puluhan warga menghadiri pertemuan tersebut. Salah satu warga, Ainul menyampaikan bahwa pertemuan itu guna menyampaikan aspirasi puluhan warga yang sebelumnya sudah menggelar musyawarah.
“Bagaimana kerugian material yang kami alami akibat dampak proyek tanggul. Kemarin kami juga berkumpul di balai warga dihadiri sekitar 80 warga yang terdampak banjir untuk menyampaikan keluh kesahnya mengenai banjir ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Pantauan di lokasi, pertemuan itu berlangsung pada pukul 10.59 WIB. Mereka dengan lugas memberikan keluh kesahnya. Namun, penyampaian pendapat itu dijeda dan baru diteruskan pada pukul 13.00 WIB.
“Memang atas dasar keluh kesah warga sini sekitar 500 kepala keluarga dan yang terdampak hampir 400 KK. Jadi sekitar 70 persen yang terdampak. Sehingga setelah pertemuan itu kita langsung ke kantor SDA kemarin dengan pak lurah,” jelasnya.
Ainul menyampaikan, poin penting keinginan warga adalah bagaimana para pihak terkait melakukan penanganan jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dan kami minta memang hari ini ada action sehingga kami menggunakan pak Adam dari kontraktor dan Eka dari Dinas bisa hadir hari ini. Intinya selama dua minggu kami kebanjiran, kami minta apa yang akan dilakukan kontraktor dan dinas, action-nya apa,” jelasnya.
Baca Juga: Doa Bersama untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Digelar di Islamic Center Tangsel
Kepala Bidang Sumber Daya Air pada DSDABMBK Tangsel Eka Pribawa menyampaikan untuk membangun turap yang melintasi perumahan Taman Mangu Indah, pihaknya memakai sistem buka tutup. Metode tersebut menurut Eka sudah benar. Namun, dia mengakui bahwa jarak bukaan turap yang dibangun terlalu luas. “Metode kerja yang saya laksanakan menurut saya sudah benar yaitu dengan buka tutup. Nah kemarin itu kita memang bukanya terlalu lebar kurang lebih 30 meter. Harusnya dari segi skema pekerjaan itu kita skemanya kita buka per enam meter, makanya saya di sini meminta maaf atas kejadian yang di lapangan,” ujarnya.
“Jadi metode pengerjaan itu memang harus dilaksanakan, kebetulan yang dibuka itu ada di belokan. Jadi air langsung masuk nabrak belokan tersebut,” sambungnya.
Eka mengklaim, pengerjaan perbaikan tanggul tersebut merupakan permintaan melalui surat permohonan dari wilayah yang telah ditandangani RW. Akan tetapi, lanjut dia, tanggul sepanjang 30 meter yang menyebabkan banjir ia targetnya bakal rampung dalam waktu satu minggu.
“Untuk yang 30 meter kita tutup paling lama satu minggu paling cepat tiga hari, kita melihat dari surutnya air, karena itu pondasinya sudah kecor, sisanya tinggal dinding. Setelah itu saya stop dulu, melihat situasi cuaca seperti ini, akhirnya saya benerin jalan yang di belakang,” pungkasnya. (eko)
























