SATELITNEWS.COM, LEBAK—Saat ini harga kedelai di pasaran cukup tinggi yaitu mencapai Rp12 ribu per kg. Dinas Pertanian Kabupaten Lebak menyebut penyebab tingginya harga bahan baku tahu-tempe tersebut diantaranya dampak impor dan masih rendahnya produksi lokal.
“Ketergantungan pada impor ya, Indonesia, termasuk Kabupaten Lebak, masih mengandalkan impor kedelai dari negara lain, seperti Amerika Serikat. Ketika pasokan dari negara-negara tersebut menipis, harga kedelai di dalam negeri pun meningkat,” kata Kepala Dinas Pertanian Lebak, Rahmat melalui telepon selulernya, Minggu (27/4/2025).
Impor kedelai Indonesia tahun ini menurut Rahmat diperkirakan mencapai 2,6 juta metrik ton, naik 2 persen dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 2,55 juta ton. Amerika Serikat merupakan pemasok utama kedelai Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 88 persen, diikuti Kanada dengan pangsa pasar sekitar 10 persen.
Selain itu, kata Rahmat produksi dalam negeri yang belum optimal juga dapat menyebabkan harga kedelai meningkat.
Dalam konteks Kabupaten Lebak Rahmat mengungkap, beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisa daya saing komoditas kedelai. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa petani kedelai di Kabupaten Lebak memiliki rata-rata usia 43 tahun dan luas lahan garapan rata-rata 0,91 hektare.”Karena masih mengandalkan impor yang seperti ini, tapi jika produksi dalam negeri sudah normal bisa mengintervensi tingginya harga bahan baku tahu-tempe tersebut,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, tingginya harga kedelai yang kini mencapai Rp12 ribu perkilogram di pasaran membuat para pengrajin tahu di Kabupaten Lebak, mengeluh. Namun agar produksi tetap berjalan dan tidak merugi mereka pun mengambil inisiatif mengurangi ukuran dengan harga jual yang sama. “Inikan akibat naik ya jadi si tahunya kita kecilin ukurannya, tapi kalau harga masih sesuai tidak naik,”kata salah satu perajin Wahyu. (mulyana)
Baca Juga: Jaga Ketahan Pangan Lebak Miliki 5.197 Hektare Lahan Baku Sawah
