SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Pemkab Pandeglang, kembali menerjunkan armada angkutan sampah untuk mengangkut tumpukan sampah yang berserakan di kawasan Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang, menerjunkan tim nya sekaligus satu alat berat, untuk mengeruk dan mengangkut sampah tersebut.
Terbilang cepat memang respons dari pemerintahan setempat, dan bekerja sama dengan DLH Banten dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Indonesia Power (IP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan 2.
Secara teknis, untuk penanganan jangka pendek dianggap sudah tepat dan memang harus dilakukan seperti itu. Akan tetapi, untuk penanganan jangka menengah dan jangka panjang, hal itu bukan solusi terbaik, karena membutuhkan dana atau anggaran yang tidak sedikit.
Terkesan latah memang, setelah ramai atau viral, baru dilakukan penanganan secara cepat, tetapi tidak konsisten dan berkesinambungan. Alasannya, sudah pasti karena keterbatasan anggaran dan armada. Alasan klasik untuk persoalan klasik, dan akan terus seperti itu, seolah jalan tak berujung.
Memang terkesan memojokan pemerintahan dan pejabat, atau pegawai yang ada di dalamnya. Tetapi, inilah pekerjaan dan pengabdian, selaku penikmat uang masyarakat melalui iuran pajak. Sayangnya, persoalan klasik itu tak kunjung terselesaikan meski pimpinan dan pejabat setempat berganti.
Baca Juga: Tumpukan Sampah Sempat Menyumbat Aliran Sungai Cibanten Serang
Sekretaris DLH Kabupaten Pandeglang, Winarno, secara singkat menyampaikan persoalan sampah tetap menjadi perhatian utama pihaknya. Saat ini, pemerintah setempat sedang melakukan pembahasan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Untuk penanganan sementara, pihaknya bekerja sama dengan instansi lain menerjunkan mobil pengangkut dan kendaraan besar, untuk membawa tumpukan sampah tersebut.
“Ini sedang dibersihkan oleh tim PLTU, DLH Kabupaten Pandeglang dan dan DLHK Provinsi Banten, hari ini,” kata Winarno singkat, Senin (19/5/2025).
Pembahasan demi pembahasan, rapat demi rapat, dan peninjauan demi peninjauan terus dilakukan, namun belum ada hasil yang memuaskan, karena pada akhirnya sampah akan tetap kembali dan memenuhi kawasan Teluk, layaknya magnet yang memiliki daya tarik.
Terkesan arogan memang, bila mekanisme pemerintahan dibandingkan dengan sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Tetapi, untuk saat ini dibutuhkan pemimpinan yang seperti itu, tidak banyak acara dan langsung eksekusi masalah pun terselesaikan.
Solusi untuk persoalan itu harus searah dan sejalan, dari tingkat hulu sampai hilir, dari menertibkan kesadaran masyarakat sampai pelayanan prima. Jadi tidak semata soal uang dan uang, tetapi lebih kepada pendekatan persuasif dan konsistensi.
Baca Juga: Danramil 13/Cisoka Pimpin Pembersihan Tumpukan Sampah di Jalan Raya Serang Jayanti
Mungkin hal semacam itu dianggap sulit, bagi mereka yang pesimis dan selalu bekerja diatas bangku atau kursi dinas. Bagi orang lapangan, persoalan itu mungkin bisa diselesaikan dalam kurun waktu tertentu, karena dia paham dan mengerti kondisi di lapangan.
Bagi orang lain, enam armada dan alat berat yang diturunkan mungkin sebuah kebijakan, dengan harapan ada solusi. Bagi masyarakat pribumi, hal itu hanya semacam rutinitas agar tidak disalahkan, karena kegagalan mengatasi persoalan tumpukan sampah.
“Iya, ada enam armada pengangkut sampah, itu mah rutinitas saja supaya dianggap kerja, karena ujungnya nanti mereka enggak ada lagi. Terus sampah numpuk lagi, diberitakan lagi, mereka menerjunkan mobil lagi, ya rutinitas akhirnya,” sindir Jaenudin, warga setempat.
Yang diharapkan masyarakat, ujar Jaenudin, adalah penanganan secara strategis dan komprehensif. Sehingga, setelah dibersihkan dengan diangkutnya tumpukan sampah itu, kedepan tidak ada lagi sampah berserakan di lokasi yang sama.
“Mari bersama-sama, membangun dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Terlebih di kawasan atau pesisir pantai, yang juga sebetulnya itu merupakan kawasan wisata,” pungkasnya.
Seyogyanya, aparatur desa, kecamatan hingga kabupaten/provinsi, termasuk didalamnya ada Forkopimda, juga organisasi kemasyarakatan, kepemudaan dan lembaga lainnya, dilibatkan untuk bersama-sama menjaga kawasan tersebut.
“Atau kawasan itu dimanfaatkan untuk kepentingan lain, semisal jadi kawasan kuliner, wisata, atau yang lainnya. Agar tidak ada lagi yang membuang sampah sembarang,” harapnya. (adib)
























