SATELITNEWS.COM, TANGSEL--Di tengah meningkatnya volume sampah, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang. Salah satunya dengan membatasi jumlah armada pengangkut sampah yang diizinkan masuk setiap harinya.
“Kalau untuk kondisi TPA sampai detik ini masih bisa melayani, kita lagi mengatur ritme agar TPA kita tetap bisa melayani, kita membuat kuota yang bisa masuk ke TPA,” ujar Kepala UPT TPA Cipeucang, Desna Gera Andika saat dikonfirmasi, Selasa (20/5).
Menurut Desna, saat ini TPA Cipeucang menerima maksimal 119 armada per hari, terdiri dari kendaraan pengangkut jenis amrol dan pikap dengan total beban mencapai 427 ton sampah setiap harinya. Kuota tersebut, katanya, adalah batas maksimal demi mencegah berbagai risiko seperti longsor di area TPA dan terganggunya aktivitas warga sekitar akibat antrean truk sampah.
“Dengan segala keterbatasan yang ada, saya ingin memberikan rasa aman kepada masyarakat bahwa dengan kondisi kita yang sekarang lagi bisa dikatakan overload, tapi kita tetap bisa melayani pelayanan sampah dengan cara membatasi yang boleh masuk ke TPA satu harinya. Per hari itu 119 armada yang boleh masuk ke dalam TPA,” ungkapnya.
“Itu udah maksimal banget, kita jaga ritme, jaga kondusifitas. Karena kita harus menata, sampai yang masuk jangan sampai ada antrean, jangan sampai ada bau yang tertinggal di jalan. Jangan sampai ada antrian yang mengakibatkan aktivitas masyarakat juga terhambat,” sambungnya.
Meskipun overload, Desna menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak akan dihentikan. Sebaliknya, pihaknya tengah berupaya mencari keseimbangan antara kapasitas pengelolaan sampah dan kenyamanan warga. Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah dari rumah tangga.
Baca Juga: Hingga Hari Keempat, Kebakaran Tumpukan Sampah di Pinang Belum Padam
“Tapi saya ingin mengimbau kepada masyarakat sekali lagi lebih bijak dalam menggunakan produk sekali pakai, lebih bijak lagi dalam menghasilkan sampah agar kita tetap bisa menjaga kota ini menjadi kota yang layak huni dan nyaman,” ucapnya.
Langkah pembatasan ini bukan semata-mata solusi jangka panjang, melainkan upaya sementara untuk menjaga agar sistem tetap berjalan. Namun dengan peran aktif masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah, diharapkan beban TPA Cipeucang bisa perlahan berkurang.
Diluar itu, saat ini pemkot Tangsel belum merealisasikan kerjasama buang sampah dengan daerah lainnya seperti Pandeglang. Dimana, realisasi itu masih harus nunggu beberapa waktu kedepan. Langkah ini dilakukan sebagai solusi alternatif penanganan sampah, mengingat keterbatasan lahan dan kapasitas TPA Cipeucang yang memperihatinkan.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan survei ke dua lokasi calon Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Pandeglang. Dari hasil survei tersebut, TPA Bangkonol menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk digunakan.
“Saat ini kita mudah-mudahan fix dengan pandeglang ya, kemarin sudah survei ada dua lokasi, tapi kita minta dengan lokasi yang paling dekat. Kalau Cigeulis kan jauh, kita TPA Bangkonol, nah itu kemungkinan yang akan kita lakukan finalisasi,” ujarnya. (eko)
























