SATELITNEWS.COM, LEBAK—Jelang Hari Raya Iduladha Nurhidayah (40), warga Kampung Hasem, Desa Muncang Kopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak mendapat berkah. Sebab bisnis arang kayu yang digelutinya mengalami peningkatan pesanan. Ia pun kini bisa tersenyum semringah lantaran bisa mendapatkan cuan maksimal.
Sejak belasan tahun Nurhidayah menggeluti usaha arang kayu. Namun tahun ini, pesanan meningkat drastis dibandingkan hari biasanya. Bahkan ia mengaku sampai kewalahan demi memenuhi kebutuhan pasar.
Tingginya minta masyarakat terhadap arang kayu yang biasanya dipergunakan untuk kebutuhan membakar sate. Sebab, perayaan Lebaran Iduladha yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban berdampak signifikan dengan permintaan arang kayu. “Untuk Iduladha ini pesanan sangat meningkat, ramai yang cari arang ke sini,” kata Nurhidayah, Rabu (4/6/2025).
Untuk mendapatkan barang dari Hurhidayah, pelanggan terlebih dahulu harus melakukan order (pre order). Sebab, proses untuk kayu dijadikan arang kurang lebih 15 hari. “Dia (pelanggan) mau beli tapi kapasitas kita kan lama, 10 sampai 15 hari baru panen. Jadi antre ya, mereka order dulu baru kita kasih kuota gitu kan, berapa ton maunya gitu ya,” tutur Nurhidayah.
Ia mengatakan, permintaan arang kayu ini selain warga setempat yang biasa menggunakan untuk menyate daging kurban saat perayaan Iduladha, permintaan juga datang dari kalangan usaha rumah makan, maupun resto yang menyediakan dan menyajikan makanan. “Dari resto-resto, rumah makan, jadi untuk orang yang biasa memakai arang gitu lah, mereka cari ke sini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, permintaan arang ini tidak hanya datang dari wilayah Lebak, namun juga dari luar daerah seperti, Tangerang hingga Jawa Barat. “Dari daerah Rangkasbitung, kadang-kadang dari Bogor, Karawaci, banyak juga yang pada datang yang cari arang ini,” ungkapnya.
Kendati demikian, ia mengaku kesulitan untuk mendapatkan bahan baku, terutama saat cuaca tidak menentu seperti sekarang ini. Banyak pengrajin yang kewalahan untuk mendapatkan bahan baku kayu karena kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Karena sekarang kondisi cuaca tidak menentu ya ada panas, ada hujan, jadi pengrajin arang ini sangat kewalahan untuk produksi arang karena cuaca hujan, apalagi kalau tungkunya seperti dipendam dalam tanah, jadi kalau dimusim hujan terkendala jadi arang jadi sulit ada,” keluhan Nurhidayah saat cuaca ekstrem melanda.
Arang yang dijual Nurhidayah bervariatif untuk 1 kg arang kayu dijual mulai dari Rp 5.000. Namun jika pembeli datang langsung ke lokasi pembuatannya Nurhidayat memberikan harga di bawah Rp 5000. “Harga di sini untuk lokal sekitar Rp 3.600 per kilogramnya diambil ke tempat saya,” tutupnya.
Pembuatan arang kayu ini meliputi proses pembakaran kayu dengan Oksigen yang terbatas untuk menghasilkan arang. Proses ini melibatkan pemanasan kayu hingga suhu yang tinggi tanpa adanya Oksigen yang cukup, sehingga kayu akan terurai dan menghasilkan arang yang kaya karbon.(mulyana)