SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof dr Dante Saksono Harbuwono menghadiri acara Dialog Interaktif Gerakan Bersama Kelurahan Siaga TBC, Rabu (18/6/2025) di GOR Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Selain Wamenkes, hadir pula Wali kota Tangerang Sachrudin serta perwakilan dari kementerian lainnya, Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji.
Dalam acara yang dipandu oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Dini Anggraeni ini, Wamenkes dicurhati salah seorang Kader Pendamping TBC Kota Tangerang bernama Novi Fitri Dewi, yang menyatakan bahwa menjadi Kader Pendamping TBC menghadapi tantangan yang tak main-main, terlebih ketika berhadapan dengan penderita TBC yang menolak diobati. Meski datang dengan maksud dan tujuan baik, namun ada kalanya tanggapan yang diterima justru sebaliknya.
“Jadi kebetulan waktu itu penderitanya RO (resisten obat atau bakteri penyebab TBC sudah kebal obat) di wilayah Kecamatan Larangan. Kader yang datang ditolak, orangnya marah-marah. Datang lagi , juga sama ditolak bahkan sampai ada yang dibawakan golok pak, akhirnya temen saya pada nggak mau dateng lagi pak karena takut dibawakan golok, jadi kami harus bagaimana menghadapi kondisi seperti ini pak,” ujar Novi kepada Dante. Akhirnya Novi pun turun tangan langsung menemui penderita TBC tersebut.
Selain pernah dibawakan golok, Novi juga bercerita peristiwa tak mengenakkan lain yang juga dialami oleh Kader Pendamping TBC oleh penderita di salah satu perumahan di Batuceper. “Jadi pernah juga di Perumahan Arcadia, penderitanya tidak terima. Kader malah dilaporkan kepada polisi, katanya pencemaran nama baik, untung saya sampaikan kondisinya ke Polsek,” keluhnya perempuan pernah meraih penghargaan sebagai Kader Kesehatan Terbaik Tingkat Nasional dalam Upaya Penanggulangan TBC yang diselenggarakan di Bali ini.
Karena kasus juga kader menjadi “trauma” dan tidak bisa melanjutkan investigasi pengobatan TBC, khususnya di perumahan-perumahan. Untuk itu, dirinya berharap agar para Kader Pendamping TBC mendapatkan perlindungan hukum. “Jadi ada tidak pak perlindungan hukum” harapnya.
Menanggapi keluhan ini, Wamenkes menyatakan bahwa stigma terhadap penderita TBC memang menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengobatan TBC selain rasa bosan pasien dalam proses penyembuhannya. “Jadi memang stigma itu harus dihapuskan,” terangnya.
Baca Juga: Indonesia Terbesar Kedua Dunia Kasus TBC
Stigma menjadi masalah serius yang dapat menghambat upaya pencegahan dan pengobatan penyakit ini. Stigma ini muncul karena berbagai faktor, termasuk kurangnya pemahaman tentang TBC, mitos yang salah, dan pengalaman negatif terkait penyakit ini.
Mulai dari menyembunyikan penyakit karena takut diskriminasi hingga menunda pengobatan dan isolasi sosial. “Padahal jika pasien rutin minum obat secara teratur, maka dalam sebulan si penderita tidak lagi akan menulari orang lain. Memang pengobatannya itu cukup lama yakni antara 6-24 bulan, tapi yang jelas penderita TBC ini bisa disembuhkan,” jelasnya.
Untuk itu dirinya tetap mengajak para kader tetap semangat bertugas. Terlebih saat ini Republik Indonesia menempati posisi kedua penderita TBC tertinggi di dunia di bawah India. “Tadinya kita nomor 3 di bawah India dan China sekarang nomor 2, China sudah mulai turun kasusnya,” ungkapnya.
Sementara, Wali kota Tangerang Sachrudin menanggapi curhatan kader meminta agar tidak perlu takut menghadapi adanya pelaporan ke aparat Kepolisian. “Kita dampingi secara hukum. Yang penting sampaikan dan berkoordinasi dengan Pemkot Tangerang melalui Puskesmas, Kecamatan dan seterusnya. Nggak usah khawatir,” ujar Sachrudin.
Lebih jauh Sachrudin menekankan bahwa pemberantasan TBC tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Akan tetapi butuh kolaborasi dan peran serta masyarakat,termasuk kader pendamping. “Makanya kita harus bersama-sama memberantas penyakit ini. Kami dorong Kelurahan Siaga TBC semakin kuat agar masyarakat paham, aktif dalam pencegahan dan pengobatan, serta stigma terhadap para penyintas TBC bisa dihilangkan,” kata Sachrudin.
Dalam laporannya, Sachrudin juga menekankan bahwa berdasarkan temuan kasus TBC tahun 2024 diketahui bahwa setiap 1.000 orang warga Kota Tangerang maka ada lima orangnya merupakan pasien TBC dan sekitar 21 persen dari total kasus merupakan anak usia di bawah 15 tahun. (made)
Baca Juga: Untuk Capai Target Eliminasi TBC, Dinkes Pandeglang Lakukan Berbagai Langkah Preventif























