SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Mencuatnya berita Salimah (66), janda miskin asal Kampung Badur RT/RW 002/001, Desa Rancateureup, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mendapat perhatian Pemkab Pandeglang.
Wanita paruh baya itu, dijanjikan bakal mendapatkan bantuan perbaikan rumah. Tetapi, melalui program dari Pemprov Banten atau Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pandeglang.
Minimnya anggaran perbaikan rumah di Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Pandeglang, menjadi alasan lambatnya penanganan sosial terhadap warga miskin tersebut.
Persoalan itu, segera disampaikan kepada Pemprov Banten agar mendapatkan pembangunan rumah, melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau berupa Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), atau melalui bedah rumah yang dikeluarkan Baznas Kabupaten Pandeglang.
Meski baru akan diusulkan, setidaknya bisa menjadi angin segar bagi pemilik rumah. Tinggal bagaimana keseriusan Pemkab Pandeglang, untuk konsisten memberikan bantuan pembangunan rumah. Kalau pun tidak diberikan bantuan, biarlah masyarakat yang menilai terhadap kinerja instansi terkait termasuk pimpinan daerah.
Selain itu, ada beberapa masyarakat yang tergugah hatinya dan memberikan donasi atau sumbangan secara sukarela. Dana yang terkumpul itu, langsung diberikan kepada nenek Salimah dan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Baca Juga: Sesuaikan Standar Gizi Seimbang, SPPG Kolelet Pandeglang Sajikan Menu Variatif
Persoalan kemiskinan, menjadi grand issue paling sensitif di Kabupaten Pandeglang, karena akan selalu dikaitkan atau dibandingkan dengan pola hidup para pejabat Pemkab Pandeglang, dan selalu meributkan soal uang dan anggaran.
Seperti halnya saat keterlambatan pembayara Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), efisiensi anggaran perjalanan dinas (Perdin), dan lainnya. Para pegawai dan pejabat, sibuk mengeluh dengan segudang alasan dan persoalan. Sementara disisi lain, ada masyarakat yang kesulitan untuk makan sehari-harinya, banyak rumah warga miskin yang reyot dan nyaris ambruk, serta potret kemiskinan lainnya.
Sekelumit hal itu, tentunya bisa membuat hati si miskin perih, karena pejabat yang diberikan amanah untuk mengurus kesejahteraan masyarakat malah sibuk berkutat merebutkan uang yang sumbernya dari masyarakat.
Ini bukan hardikan, tapi realitas yang terjadi di kabupaten yang bangga disebut sebagai Kota Sejuta Santri Seribu Ulama, tapi sedikit jauh dari ajaran agama.
Kepala DPKPP Kabupaten Pandeglang Roni mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait persoalan itu, karena alokasi anggaran yang ada diinstansinya terbatas, terlebih sudah dipergunakan untuk membangun rumah warga Pandeglang yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Terkait persoalan itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Pemerintah Pusat dan Baznas Kabupatrn Pandeglang, agar bisa membantu membangunkan rumah janda miskin asal Kecamatan Labuan.
Baca Juga: 5 Jurnalis Hilang Kontak, Anggota SMSI-PWI Pandeglang Panjatkan Doa Keselamatan Bersama
“Coba nanti kita koordinasikan dengan Perkim Provinsi Banten dan Baznas ya,” kata Roni, Kamis (3/7/2025).
Roni tidak bisa menjanjikan, kapan atau waktu bisa direalisasikannya bantuan pembangunan rumah tersebut. Oleh karena, melihat kondisi keuangan yang hampir merata disemua sektor pemerintahan yang terkena efisiensi oleh Pemerintah Pusat.
“Mudah-mudahan saja, bisa ditangani ya tahun ini. Kita koordinsikan dulu dengan Pemprov Banten dan Baznas Kabupaten Pandeglang,” ujarnya lagi.
Mudofar, warga Kecamatan Labuan mengaku, sudah ada beberapa orang yang memberikan donasi bantuan setelah berita nenek Salimah viral. Bahkan, beberapa orang diantaranya berharap, agar pemerintah setempat turun tangan dan membantu janda paruh baya yang miskin itu.
“Jadi setelah beritanya muncul, ada tuh beberapa orang yang mau ngasih bantuan, atau memberikan donasi lah. Alhamdulullah, sudah ada yang ngasih bantuan walaupun enggak besar. Kita segera berikan kepada nenek Salimah, titipan dari warga ini,” imbuhnya.(adib).
























