SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Pasar Tradisional Tigaraksa, Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kini menghadapi persoalan sepinya pengunjung. Kondisi tersebut dinilai terjadi karena pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar online dan pasar tumpah.
Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menilai kondisi itu menunjukkan adanya kegagalan dalam kinerja Perumda Pasar NKR Kabupaten Tangerang, khususnya dalam menjaga keberlangsungan pasar setelah dilakukan revitalisasi, Minggu (6/9).
Anggota Komisi II Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Tangerang, Deden Umardhani, mengatakan sepinya pengunjung di Pasar Tradisional Tigaraksa merupakan dampak dari kegagalan kinerja Perumda Pasar NKR dalam menjaga keberlangsungan pasar pascarevitalisasi.
“Ini sebuah kegagalan dalam kinerja, dalam menjaga keberlangsungan pasar pascarevitalisasi. Meskipun, di samping itu banyak pasar online dan pasar tumpah,” kata Deden Umardhani kepada Satelit News, Minggu (6/9).
Menurut Deden, Perumda Pasar NKR Kabupaten Tangerang di bawah kepemimpinan Finny Dewiyanti tidak hanya fokus merevitalisasi pasar yang kumuh menjadi modern. Namun, juga harus mampu menjaga keberlangsungan pasar, termasuk mencari cara agar pasar tidak sepi dan para pedagang betah berjualan di dalam pasar dibandingkan di luar pasar atau di pinggir-pinggir jalan yang menjadi cikal bakal pasar tumpah.
“Perumda tidak hanya merevitalisasi, tetapi harus mampu menjaga pasar juga. Harus segera dicarikan solusi, karena beban matinya pasar hanya akan bertambah jumlah pengangguran di Kabupaten Tangerang,” ujarnya.
Baca Juga: APRINDO dan UBM Kembangkan Talenta Ritel, Siapkan Retail Talent Pipeline
Bahkan, dirinya menduga sepinya pasar tidak hanya terjadi di Pasar Tigaraksa, melainkan juga di beberapa pasar yang telah dilakukan revitalisasi.
Deden menyebut, selain pasar modern yang sepi pascarevitalisasi, masih terdapat beberapa pasar yang belum selesai direvitalisasi di masa kepemimpinan Finny Dewiyanti. Di antaranya Pasar Korelet, Pasar Kronjo, Pasar Mauk, dan Pasar Kutabumi Pasar Kemis, yang sebelumnya ramai hingga dikenal luas di Kabupaten Tangerang saat akan dilakukan revitalisasi.
“Namun sampai saat ini, revitalisasi itu belum selesai dilakukan. Bahkan, terbilang mangkrak,” tegas Deden.
Akibat mangkraknya revitalisasi di beberapa pasar tradisional, Deden menilai banyak pedagang mengalami ketidakpastian. Kondisi tersebut akhirnya mendorong pedagang memilih berjualan di pasar tumpah.
Dirinya juga meminta Bupati Tangerang segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Perumda Pasar NKR agar biaya operasional yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak sia-sia.
“Bupati harus segera lakukan evaluasi Perumda Pasar. Jangan sampai biaya operasional yang digelontorkan hanya sia-sia,” ujarnya.
Baca Juga: Pura-Pura Tes Motor dan Dibawa Kabur, Seorang Pria di Solear Ditangkap Warga
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Pasar NKR Kabupaten Tangerang, Finny Dewiyanti, tidak memberikan respons saat dikonfirmasi Satelit News terkait banyaknya pedagang di Pasar Tigaraksa yang gulung tikar akibat sepi pengunjung.
Sebelumnya diberitakan Satelit News, setengah dari 350 pedagang di Pasar Tradisional Tigaraksa terpaksa gulung tikar, akibat kalah bersaing dengan pasar online dan pasar tumpah. Kondisi tersebut membuat jumlah pengunjung pasar mengalami penurunan drastis. (alfian/aditya)
























