SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperpanjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa jenjang TK, SD, dan SMP hingga 9 September 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap sisa abu vulkanik yang masih berada di sejumlah lingkungan di wilayah Tangsel.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengatakan keputusan tersebut diambil setelah rapat bersama Wakil Wali Kota serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pada Senin malam.
Rapat tersebut melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Lingkungan Hidup dan jajaran asisten.
“Keputusannya adalah yang pertama bahwa pembelajaran jarak jauh untuk tingkat SMP, SD dan di bawahnya TK itu akan kita perpanjang untuk dua hari ke depan,” ujar Benyamin, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, keputusan memperpanjang PJJ mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Gunung Krakatau. Meskipun sebaran abu lebih banyak bergerak ke arah barat dan barat daya, dampak ke wilayah timur dinilai tidak terlalu signifikan, pemerintah tetap memilih langkah antisipatif.
“Walaupun erupsi atau sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Gunung Krakatau ini lebih kepada ke arah barat dan barat daya, kemudian ke arah timur ini tidak terlampau signifikan, tetapi kita ingin mengantisipasi abu vulkanik,” jelasnya.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Empat Kali, Abu Mulai Menjauh
Benyamin menjelaskan, sisa abu vulkanik masih ditemukan di sejumlah titik di lingkungan Tangsel, mulai dari atap rumah, pepohonan hingga badan jalan.
Benyamin menjelaskan, kebijakan ini sekaligus memberi waktu bagi pemerintah untuk memantau kondisi lingkungan dan memastikan situasi lebih aman bagi aktivitas belajar mengajar secara tatap muka. Apalagi, kata dia, perpanjangan itu juga menyesuaikan dengan regulasi Pemerintah Provinsi Banten.
“Menyesuaikan juga dengan lingkungan sekitarnya sesuai juga dengan arahan Bapak Gubernur,” katanya.
Seperti diketahui, paparan debu vulkanik dapat menyebabkan berbagai risiko gangguan pernafasan ringan hingga berat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Fitria Oriza menerangkan bahwa abu vulkanik yang menyebar dari erupsi Gunung Anak Krakatau mengandung silika atau sejenis kaca.
Sehingga bila masuk ke saluran hidung bisa melukai jaringan-jaringan pernapasan. Abu vulkanik lebih berbahaya ketimbang abu biasa. Makanya, walaupun abu vulkaniknya tidak terlalu banyak, kita tetap sangat khawatir terhadap kondisi tersebut.
Baca Juga: Redam Debu Vulkanik, Pemkot Tangsel Semprot Jalan Protokol Dini Hari
“Dampak dari abu vulkanik ini bisa menyebabkan iritasi, baik pada pernapasan hingga menimbulkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA maupun pada mata,” terang Fitria.
Ia berpesan jika debu abu vulkanik ini terkena mata atau kelilipan adalah jangan dikucek. Sebaiknya disiram atau dibasuh menggunakan air mengalir agar silikanya bisa lepas tanpa melukai kornea.
“Kalau dikucek saat kelilipan, itu bisa menyebabkan baret pada kornea dan memicu iritasi mata yang cukup parah,” papar Fitria.
Begitu juga pada saluran pernapasan. Jika tidak menggunakan masker dan abu vulkanik masuk ke pernapasan, partikelnya bisa melukai dan menimbulkan semacam luka-luka kecil (mikrolesi) yang dapat mengakibatkan infeksi.
Oleh karena itu direkomendasikan PJJ untuk anak-anak sekolah. Bila mereka terpapar abu di perjalanan misalnya saat naik motor dan abunya masuk ke saluran pernapasanbisa memicu ISPA.
“Langkah PJJ ini adalah bentuk pencengahan, jangan sampai angka kasus ISPA mengalami peningkatan,” pungkasnya. (eko)
























