SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Memutuskan kuliah sambil bekerja tentu bukan pilihan mudah. Sebab harus menanggung dua tanggungjawab yang sama-sama berat. Sama-sama membutuhkan waktu dan tenaga.
Hal itu pula yang dirasakan oleh Eko Wahyu Setyobudi, mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam), Tangsel. Membangga namun berat. Itulah yang dirasakannya
“Tapi saya punya tujuan yaitu saya ingin tetap melanjutkan pendidikan tanpa membebani orang tua. Saya ingin mandiri. Karena itu saya mencari kampus yang fleksibel, terjangkau, tapi tetap mendukung proses belajar yang serius dan akhirnya pilihan saya jatuh pada Unpam,” jelasnya.
Dia mengatakan, Unpam benar-benar jadi solusi untuk dirinya karena biaya kuliahnya terjangkau, jadwalnya yang fleksibel dan ada pilihan kelas malam memudahkan mahasiswa yang sambil bekerja. “Fasilitas kampus juga cukup memadai, baik dari sisi ruang belajar, administrasi, maupun sistem informasi mahasiswa yang cukup tertata. Rasanya saya tidak salah pilih,” jelasny.
Tapi tetap saja, menjalani dua dunia sekaligus dunia kerja dan dunia perkuliahan bukanlah hal yang sederhana. Ada satu momen yang sampai sekarang masih diingat dan tidak akan pernah dilupakan.
“Waktu itu saya sedang menghadapi ujian tengah semester, dan sudah menyiapkan diri dengan belajar beberapa hari sebelumnya. Tapi dua hari menjelang ujian, kantor saya mendadak menugaskan saya untuk pergi ke luar kota mengurus proyek yang ada disana. Saya langsung panik.
Saya mencoba menjelaskan pada atasan bahwa saya ada ujian malam itu, tapi karena proyek tersebut sangat penting dan sudah disepakati klien, permohonan cuti saya ditolak. Saya hanya diberi opsi: ikut proyek atau dianggap mangkir,” terangnya.
Di situ dirinya merasa bingung dan tertekan. Satu sisi dirinya tidak ingin kehilangan pekerjaan karena itu sumber penghasilan untuk biaya kuliah. Tapi di sisi lain, dia juga tidak mau gagal ujian karena tahu satu nilai buruk bisa berdampak besar ke IPK.
“Akhirnya saya menghubungi dosen pengampu mata kuliah, menjelaskan situasinya sejujur mungkin.
Alhamdulillah, dosen tersebut memahami kondisi saya. Beliau tidak langsung memberi izin ikut susulan, tapi memberi syarat: saya tetap harus mengerjakan ujian secara pribadi dalam bentuk tugas esai, dengan waktu dan batasan tertentu,” ujarnya.
“Saya terima dan saya kerjakan semampu saya, bahkan saya tulis itu di hotel sepulang kerja. Meskipun hasilnya tidak semaksimal ujian langsung, tapi saya tetap bersyukur karena bisa tetap menjalankan kewajiban kuliah tanpa mengorbankan pekerjaan,” jelasny.
Pengalaman itu jadi titik balik buat diriny. Ia belajar untuk lebih siap menghadapi hal-hal mendadak, dan lebih komunikatif ke pihak kampus maupun kantor. “Saya belajar bagaimana pentingnya membagi waktu, menyusun prioritas, dan tetap menjaga komitmen. Kuliah sambil kerja memang penuh tekanan, tapi di balik tekanan itu ada pelajaran hidup yang sangat berharga,” terangnya.
Kampusnya buat dia bukan hanya tempat belajar akademik. Ini adalah tempat di mana saya belajar bertahan. “Di sini saya tahu bahwa saya tidak sendiri banyak teman yang juga kerja sambil kuliah, banyak dosen yang mengerti realita kami. Ada rasa saling menghargai yang membuat saya makin semangat untuk terus maju,” jelasnya.
Dirinya juga percaya suatu hari nanti, ketika di berdiri di atas panggung wisuda dan melihat ke belakang akan merasa bangga. Bukan hanya karena berhasil lulus, tapi karena berhasil bertahan di tengah semua rintangan. Kuliah sambil kerja ujarny bukan tentang siapa yang tercepat, tapi tentang siapa yang paling kuat dan konsisten.
“Untuk teman-teman yang sedang atau akan menjalani hal yang sama, jangan takut. Sulit? Iya. Capek? Pasti. Tapi semua itu akan terbayar saat kamu berhasil membuktikan bahwa kamu mampu. Terus semangat, jangan pernah menyerah. Karena perjuanganmu hari ini adalah pondasi untuk masa depanmu yang lebih baik, ” ujarnya.