SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Sejumlah toko retail modern seperti Alfamart dan Indomaret di kawasan Jalan Halim Perdana Kusuma, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, terpantau tidak lagi menjual beras premium. Keranjang-keranjang beras di dalam toko tampak kosong sejak satu bulan terakhir. Hingga kini, belum ada kejelasan kapan stok kembali tersedia.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan maraknya kasus beras oplosan yang tengah ditertibkan oleh pemerintah. Sejak temuan beras oplosan merebak di sejumlah daerah, pihak retail tampaknya memilih menyetop sementara penjualan untuk menghindari distribusi produk bermasalah ke konsumen.
Pantauan langsung di salah satu gerai Alfamart menunjukkan seluruh rak beras yang biasanya dipenuhi berbagai merek, kini kosong. Tak ada satu karung pun beras premium tersisa.
Menanggapi hal ini, Muhammad Irman, salah satu agen beras di Pasar Kebon Besar, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, menyampaikan apresiasi atas langkah tegas pemerintah dalam mengawasi peredaran beras oplosan di pasar. “Langkah baiknya memang ada beberapa pihak yang melakukan pemantauan, ya, untuk di pasaran. Itu langkah bagus si menurut saya,” ujar Irman.
Namun demikian, Irman juga menyoroti perlunya pemerintah mengambil tindakan nyata dalam menstabilkan harga beras agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Saat ini, harga beras premium di pasaran mencapai Rp16.000 per kilogram, sementara beras medium berada di kisaran Rp14.000 per kilogram.
Irman juga menyayangkan masih adanya oknum pedagang yang tidak jujur dalam menjual beras oplosan dengan mengklaimnya sebagai beras premium. “Tergantung pihak penjualannya atau yang punya label beras itu, kejujuran sebenarnya sih. Kalau dia menyatakan berasnya premium, lalu ternyata dicampur dengan kualitas medium, itu yang jadi masalah. Itu kan ketidakjujuran dalam berdagang,” tegas Irman.
Baca Juga: Klasifikasi Bakal Dihapus, Harga Beras Pakai Zonasi
Meski kasus beras oplosan marak terjadi, Irman menyebut omzet usahanya masih stabil. Masyarakat disebutnya tetap menjadikan beras sebagai kebutuhan pokok utama dan lebih selektif dalam memilih agen terpercaya.
“Kalau di daerah sini alhamdulillah, dampaknya nggak ada. Omzet stabil. Ada juga satu-dua konsumen yang bertanya soal keaslian beras, ya tinggal dijelaskan saja. Yang penting kita tidak oplos,” ujarnya. Lebih lanjut, Irman berharap pemerintah dapat menyelesaikan pekerjaan rumah terkait stabilisasi harga dan kelangkaan beras premium di pasar retail modern agar tidak merugikan konsumen dalam jangka panjang.
Untuk diketahui pemerintah juga membuka wacana menghapus beras premium. Saat ini pemerintah tengah menyusun perubahan sistem klasifikasi dan penetapan harga beras di pasar dengan menghapus kategori beras medium dan premium.
Meski begitu, pemerintah menjamin untuk beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak akan mengalami perubahan signifikan, terutama harganya dipastikan tetap Rp12.500 per kilogram (kg).
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi saat ditemui usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta beberapa waktu lalu. Ia menegaskan, perubahan hanya akan terjadi pada kategori dan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras umum, sementara beras SPHP tetap disalurkan dengan harga lama. “Beras SPHP masih akan tetap diguyurkan 1,3 juta ton sampai akhir tahun,” ujar Arief.
“Nggak ada masalah (dengan adanya wacana penghapusan kategori beras medium dan premium, beserta HET). Nggak ada masalah, harganya akan tetap Rp12.500 per kg,” lanjutnya. (mg01)
Baca Juga: Tekan Inflasi dan Harga Beras, Pj Bupati Andi Gandeng Lippo Gelar Pasar Beras Premium
























