SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Raymon Wirya Arifin, pemuda berusia 19 tahun yang ditemukan meninggal dunia di Sungai Cisadane, Kota Tangerang. Lebih dari sebulan sejak jasadnya ditemukan, misteri kematian mahasiswa Universitas Buddhi Dharma (UBD) belum juga menemukan titik terang.
Raymon merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, putra pasangan Lim Tjun Kong (68) dan Doli Kartika Sari (54), warga Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari. Dalam kesehariannya, Raymon dikenal sebagai pemuda yang rajin dan bertanggung jawab. Selain kuliah, ia bekerja paruh waktu pada pagi hari untuk membantu meringankan beban orang tuanya.
“Raymon itu anaknya tekun. Pagi kerja dulu, lalu siang kuliah. Dia tidak pernah macam-macam,” ungkap Benny (65), paman korban, ketika ditemui wartawan Satelit News di rumah alm Raymon, Selasa (18/8) malam.
Kisah pilu itu bermula pada Jumat, 18 Juli 2025. Seusai bekerja dan pulang sebentar ke rumah, Raymon bersiap menuju kampus. Kali ini ia tidak dijemput, melainkan menumpang ojek online. Sejak itu, Raymon tidak pernah kembali.
Keesokan harinya, kabar duka datang. Jasad Raymon ditemukan mengambang di Sungai Cisadane, tepat di bawah Jembatan Kaca, kawasan ikon wisata Kota Tangerang.
Penemuan itu sontak menggemparkan masyarakat. Sebagian menduga Raymon mengalami kecelakaan atau bahkan bunuh diri. Namun, dugaan itu terpatahkan ketika hasil autopsi mengungkap adanya tanda-tanda penganiayaan.
Baca Juga: SIM Keliling Jakarta Rabu 9 September, Cek Lokasinya
Menurut keterangan keluarga, hasil autopsi yang dilakukan di rumah sakit dengan bantuan relasi di tingkat Polda Metro Jaya, menyebutkan bahwa terdapat luka-luka yang mengarah pada dugaan pembunuhan. Luka-luka tersebut tidak sejalan dengan dugaan bunuh diri.
“Dari Polres atau Polsek belum ada respon. Hanya dari Polda yang membantu hingga keluar hasil autopsi. Dan hasilnya jelas: terdapat unsur pembunuhan dan penganiayaan,” tegas Benny.
Keluarga juga menolak tegas dugaan bahwa Raymon sengaja mengakhiri hidupnya. “Kakaknya melihat langsung kondisi tubuh Raymon. Dengan luka-luka seperti itu, mustahil bunuh diri,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Metro Tangerang Kota setempat belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan. Kondisi itu membuat keluarga Raymon semakin kecewa dan merasa dibiarkan berjuang sendirian mencari keadilan.
“Kami hanya ingin keadilan. Polisi yang paling berwenang. Jadi kami mohon benar-benar diperhatikan kasus ini. Kami tidak tahu hukum, yang kami tahu hanya polisi tempat kami meminta pertolongan,” kata Benny lirih.
Di sisi lain, keluarga juga berharap pihak Universitas Buddhi Dharma menunjukkan kepedulian yang nyata terhadap kasus yang menimpa mahasiswanya. Menurut keluarga, tragedi ini seharusnya menjadi perhatian serius kampus sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral.
Baca Juga: SIM Keliling Jakarta Sabtu 5 September, Cek di Sini Lokasinya
“Sebagai orang berpendidikan, seharusnya bisa menempatkan diri. Bagaimana kalau kejadian ini menimpa keluarga mereka? Simpati harusnya timbul dari hati, bukan karena diminta,” ujar Benny dengan nada kecewa.
Kini, satu bulan lebih sudah berlalu. Tidak ada perkembangan berarti dari penyelidikan, sementara rasa kehilangan terus menghantui keluarga. Ayah dan ibu Raymon hanya bisa berdiri di halaman rumah sederhana mereka di Neglasari, memegang erat foto sang putra bungsu. (mg01)
























