SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten, sedang melakukan pembahasan terkait rencana membangun kembali atau memulihkan bangunan Kesultanan Banten. Tindakan itu sengaja dilakukan, sebagai upaya menjaga peninggalan sejarah, serta bisa menjadi spot pariwisata utama di Banten.
Pernyataan itu disampaikan Politisi Partai Gerindra Andra Soni, ketika menerima kunjungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten, di Pandopo lama Gubernur Banten, Rabu (20/8/2025).
Gubernur Banten ini juga menyatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan kajian secara menyeluruh mengenai rencana pembangunan kembali banguanan bersejarah Kesultanan Banten. Oleh karena, kawasan Kesultanan Banten merupakan bukti sejarah kejayaan Banten pada masa lampau dan harus bisa dijadikan sebagai monumen.
“Kami juga sedang melakukan kajian, untuk membuat rekonstruksi kawasan Banten Lama. Karena kesultanan Banten ini merupakan kerajaan yang pernah berjaya di tanah Banten,” tambahnya.
Andra menerangkan, pesan penting dari rencana tersebut yakni, agar semua warga Banten bisa mengetahui dan melihat peristiwa sejarah ditanah Banten. Oleh karena itu, pihaknya akan segera menyelesaikan pembahasan dan segera melakukan tindakan rekonstruksi kawasan Kesultanan Banten.
“Melalui rekonstruksi itu, kita semua bisa melihat secara utuh bagaimana gambaran perjuangan dan situasi Kesultanan Banten. Jadi bukan hanya sekedar mendengar cerita saja, tetapi ada peninggalan peristiwa sejarahnya,” pungkasnya.
Andra juga mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya melakukan rekonstruksi itu, salah satunya beberapa peninggalan Kesultanan Banten yang belum sepenuhnya ditemukan. Saat ini, baru ada beberapa peninggalan yang ada dan sudah dilakukan pemeliharaan.
“Karena kita sudah cari kemana-mana tapi tidak ada. Yang baru berhasil kita bawa pulang itu baru mesin pencetak uang Orida. Sekarang kita simpan di Bank Banten,” jelasnya.
Andra berharap, melalui rekonstruksi bangunan itu, semua masyarakat Banten bisa mengetahui dan melihat secara langsung kejayaan Kesultanan Banten, yang sudah terkenal sampai ke Mancanegara.
“Kita ingin agar sejarah Banten ini bukan hanya sekedar dalam buku, tetapi semua peninggalannya memang ada dan bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi kita semua,” ujarnya lagi.
Dikonfirmasi terpisah, Sejarawan Banten Dadan Sujana menyarankan, agar Gubernur Banten mempertimbangkan secara matang mengenai rencana rekonstruksi kawasan Banten Lama tersebut. Tindakan itu harus dilakukan agar keutuhan dan keaslian bangunan tetap terjaga.
Salah satunya, kata dia, dengan melibatkan para arkeolog yang sejak awal melakukan penelitian dan pemugaran kawasan Kesultanan Banten. Dengan begitu, kesalahan dalam rekonstruksi bangunan bisa dihindari.
“Kalau bisa libatkan semua pihak terkait terutama para arkeolog, semuanya libatkan karena ini berkaitan dengan situs peninggalan sejarah, jadi tidak bisa sembarangan,” tukasnya.
Dadan menyarankan, sebelum melakukan rekonstruksi bangunan, Pemprov Banten sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, khususnya terkait pemugaran Benteng Surosowan yang belum terselesaikan dan masih dilakukan sampai saat ini.
“Kalau saya pribadi, sebaiknya Gubernur Banten mempertimbangkan kembali rencana itu, karena pemugaran Benteng Surosowan belum selesai sepenuhnya, itu kalau pandangan saya pribadi,” imbuhnya.
Dadan menegaskan, Pemprov Banten harus mengetahui dan memiliki gambaran Kesultanan Banten dimasa awal pendiriannya, salah satunya mengenai Port Diamon. Hal itu karena, keberadaan Port Diamon di kawasan Kesultanan Banten diduga karena mengikuti perkembangan zaman.
“Apakah yang akan ditekonstruksi ini Kesultanan Banten ditahun 1.500 an atau bukan. Kalau kita lihat secara sejarah, Port Diamon ini kan menunjukkan adanya kesamaan dengan kerjaan-kerajaan lain, dan pada awal pendirian Kesultanan Banten ditahun 1.500 an, belum ada,” katanya.
“Sekali lagi, Pemprov Banten harus memilikinya gambaran awal bangunan Kesultanan Banten. Kalaupun mau ada Port Diamon, sebaiknya dijadikan miniatur saja dan jangan dilokasi bersejarah itu. Kalau menurut saya, sebaiknya rekonstruksi itu dipertimbangkan lagi,” tutupnya. (adib)