SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, mencatat setidaknya Provinsi Banten membutuhkan lahan seluas 500.000 hektar untuk bisa memenuhi kebutuhan jagung dalam daerah. Hal itu, untuk mencukupi kebutuhan jagung yang mencapai 1,5 juta ton per tahun.
Jika dibagi 360 hari, maka produksi jagung di Banten setidaknya mencapai 4.000 jagung pipil kering, sementara kondisi eksisting saat ini dari Januari-Oktober 2025 baru mencapai 18.557 ton.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M. Tauchid mengakui, jika kebutuhan jagung di Banten masih belum mencukupi, kendatipun hampir 50 persen jumlah industri pakan secara nasional berada di Provinsi Banten namun 80 persen suplay jagungnya dari luar daerah.
Sehingga kemudian, harga jagung pipil kering dipasaran mayoritas berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram.
“Memang terjadi kenaikan, tapi masih di angka yang relative normal,” kata Agus, Senin (8/9/2025).
Berdasarkan catatan, ada lima Pemda yang memproduksi jagung seperti Kabupaten Serang yang saat ini harga jagung pipil keringnya mencapai Rp6.500/kg. lalu Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Kabupaten Tangerang yang masing-masing berada di angka Rp6.000/kg serta terakhir Kota Serang sebesar Rp6.400/kg.
Baca Juga: Program Magang ke Jepang Minim Peminat, Di Banten Baru 73 Pendaftar
Saat ini, kata Agus, untuk penanganan jangka pendek, Pemprov Banten sudah berkoordinasi dengan Bulog untuk bisa mengeluarkan SPHP Jagung kepada masyarakat. Selain itu, Pemprov juga bersama Polda Banten dan jajaran akan Kembali menggiatkan penanaman jagung seluras 750 hektar di beberapa daerah.
“Kecil, memang. Harus kita akui. Tapi itu setidaknya menjadi dorongan yang dilakukan Pemprov bersama stackholder untuk kitab isa melakukan swasembada pangan. Kita berikan bibitnya kepada petani dengan grade premium, pupuknya, prosesnya kita damping sampai penjualannya,” jelasnya.
Selain itu, dalam jangka menengah, ada potensi lahan seluas 50.000 hektar yang bisa dioptimalkan untuk ditanami jagung, di luar lahan persawahan yakni lahan perhutani dan tegal gulma. Dari jumlah itu, jika dalam satu hektar menghasilkan enam ton jagung pipil maka ada sekitar 300.000 ton yang dihasilnya atau 250.000 ton jagung pipil kering.
“Itu bisa cukup, untuk memenuhi kebutuhan sekitar 62 hari atau dua bulan lebih,” ucapnya.
Namun demikian, Pemprov Banten ingin memastikan terlebih dahulu kualitas dari jagung yang ditanam saat ini seluas 750 hektar itu. jika hasilnya maksimal dan bagus, maka 50.000 lahan yang potensial itu bisa dikembangkan dengan mekanisme yang akan dibicarakan nanti.
“Bisa kita gandeng swasta. Itu harapannya. Karena lahan seluas itu jika sepenuhnya dibebankan kepada APBD pasti sangat berat, termasuk untuk jangka Panjang yakni 500.000 hektar lahan itu yang bisa dikerjsamakan dengan Perusahaan pakan,” pungkasnya. (luthfi)
Baca Juga: Panen Jagung Wilayah Batuceper
























