SATELITNEWS.COM, SERANG – Prihatin atas penegakkan hukum terhadap berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, yang mayoritas tak jelas juntrungannya, Komunitas Ramu Layar soroti Dinding Gedung Plaza Aspirasi, di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Palima, dengan berbagai kalimat kutipan karya tokoh – tokoh dunia, serta permainan transisi video yang memukau, atau biasa dikenal dengan video mapping.
Karya ini, ditampilkan dalam gebyar acara Festival Teater Banten 2025, yang berlangsung mulai tanggal 18 hingga 20 September 2025.
Adalah Eky Tamamul Fikri, sutradara muda yang menjadi ujung tombak dari Komunitas Ramu Layar mengatakan bahwa karya yang ditampilkan kumunitasnya berjudul “jalan masuk tanpa pintu keluar”.
Kalimat itu, menurut komunitasnya sangatlah tepat untuk menggambarkan kondisi penanganan berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia, yang seolah tak jelas proses hukumnya bagaikan seseorang yang tiba – tiba berada di dalam sebuah ruangan namun tidak bisa keluar, karena tidak tersedia pintu di ruangan tersebut.
“Karya kami hadir, sebagai narasi visual yang sunyi namun menohok, yang kami harap bisa membawa penonton yang datang ke acara Festival Teater Banten untuk masuk ke lorong-lorong memori, ruang batin, dan realitas sosial yang sering terabaikan diantaranya pelanggaran pelanggaran HAM termasuk penghilangan nyawa aktivis – aktivis dari berbagai bidang yang dianggap kritis terhadap kekuasaan, dan mayoritas terjadi di Bulan September atau kita kenal sebagai September hitam,“ terang lelaki yang pernah menyutradarai film dokumenter, tentang Maestro Calung Renteng asal Pandeglang, Abah Kalimi yang bertajuk “Buni Hieum” tersebut.
Dalam video mappingnya, komunitas Ramu Layar menampilkan slide – slide yang memuat kutipan kuat, dari sastrawan Milan Kundera yang berbicara tentang kekuasaan yaitu
“Pertarungan manusia melawan kekuasaan adalah pertarungan ingatan melawan lupa.”
Baca Juga: Program Magang ke Jepang Minim Peminat, Di Banten Baru 73 Pendaftar
Kutipan tersebut, seakan menyita mata kita untuk memandangnya dengan lekat karena ditulis dengan huruf-huruf yang berwarna kontras dengan latar belakang warna hitam yang menjadi simbol kegelapan dan suramnya penegakan hukum atas pelanggaran HAM di Indonesia.
Ditampilkan juga, sebatang lilin yang menyala sebagai simbol bahwa penegakan hukum terhadap berbagai kasus HAM kendati kecil dan sulit berkobar, harus tetap dinyalakan di benak – benak setiap warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi hukum.
“Kami percaya seni adalah salah satu medium paling tajam untuk menyuarakan hal-hal yang tak bisa dikatakan dengan lantang. Ingatan adalah bagian dari perlawanan. Dan melalui karya ini, kami ingin menciptakan ruang sunyi yang berbicara,” tegas Eky.
Sebagai informasi, video mapping adalah teknik seni visual dan proyeksi di mana gambar atau video diproyeksikan pada permukaan objek tiga dimensi, seperti bangunan atau candi, dan disesuaikan agar cocok dengan bentuk dan teksturnya.
Teknik ini, menciptakan ilusi visual yang mengubah objek menjadi tampak runtuh, menggembung, atau bergerak, memberikan pengalaman yang dinamis dan interaktif kepada penonton.
Dalam Festival Teater Banten sendiri, di tampilkan berbagai pertunjukan teater dengan berbagai tema. Acara ini, dibuka oleh Gubernur Banten Andra Soni. (mardiana)
Baca Juga: Kekeringan Meluas, Ratusan Hektare Sawah di Banten Gagal Panen
























