SATELITNEWS.COM, SERANG – Areal pesawahan yang mengalami kekeringan dimusim kemarau, terus meluas. Bahkan, luasan sawah yang mengalami gagal panen atau puso bertambah, dari 60 hektare menjadi 288,25 hektare.
Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, luasan areal pesawahan yang terkena dampak kemarau pada akhir Juli lalu, hanya sekira 1.790 hektare.
Namun, dipertengahan Agustus 2026 ini, luasan lahan yang mengalami kekeringan menjadi 2.666,25 hektare.
Adapun sawah yang mengalami kekeringan itu yakni, di Kabupaten Pandeglang tepatnya tersebar di 20 kecamatan atau 46 desa dengan luasan 865 hektare.
Dari jumlah itu, sekira 14 hektare mengalami puso, 18 hektare pulih, 595 hektare panen, dan 355 hektare terancam.
Kemudian di Kabupaten Lebak, kekeringan menyerang 11 kecamatan atau tersebar di 24 desa dengan lahan seluas 330 hektare.
Baca Juga: Jaga Kebugaran Tubuh, Beni Ismail Akui Rutin Berolahraga
Dari jumlah itu, sekira 14 hektare lahan pulih, dua hektare terancam, 90 hektare mengalami kekeringan ringan, 133 hektare kekeringan ringan, dan 107 hektare kekeringan berat.
Selanjutnya di Kabupaten Serang, kekeringan areal pesawahan terjadi di 12 kecamatan dan tersebar di 48 desa dengan luasan 976 hektare. Dari luasan itu, 137,5 hektare mengalami puso, 234 hektare pulih, 99 hektare panen, dan 279 hektare terancam.
Kekeringan juga terjadi di pesawahan di Kabupaten Tangerang, ada 16 kecamatan atau 39 desa yang terkena dampak dengan luasan 457,75 hektare. Dari jumlah itu, sekira 119,75 hektare mengalami puso, 20 hektare pulih, 41 hektare panen, sisanya terancam.
Sedangkan di Kota Serang, sawah yang mengalami kekeringan tersebar di tiga kecamatan atau tujuh kelurahan, dengan luasan 37 hektare. Dari jumlah itu, 17 hektare mengalami puso, delapan hektare pulih, sisanya terancam.
Kepala Bidang (Kabid) Prasarana Distan Provinsi Banten, Saeful Bauri Memun mengatakan, musim kemarau yang terjadi tahun ini menyebabkan banyak sawah petani mengalami kekeringan hingga gagal panen alias puso.
“Secara kumulatif, kekeringan masa tanam 2026 hingga tanggal 14 Agustus 2026, untuk sementara yang terkena dampak 2.666,25 hektare. Intensitas ringan 1.250 hektare, sedang 655 hektare, berat 473 hektare, puso 288,25 hektare. Ada juga yang pulih, karena hujan dan pompanisasi 294 hektare, pulih karena panen 735 hektare,” paparnya, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: 26 Tahun Banten, RS Sari Asih Group Jadi Bagian Perjalanan Melayani Kesehatan Warga
Saeful mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dan komunikasi dengan semua pihak, untuk membantu para petani melewati masa sulit akibat kemarau. Termasuk dengan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Banten, agar bisa membantu para petani.
“Untuk solusi jangka pendek, kita mengimbau untuk menanam padi yang rentan terhadap musim kering, penerapan dan penetapan puso untuk masuk ke AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi), pemetaan kekeringan, monev pemanfaatan irigasi pompa, irigasi perpipaan dan distribusi mesin pompa,” pungkasnya.
Selain solusi jangka pendek, pihaknya juga telah merencanakan solusi jangka panjang dalam menghadapi musim kemarau. Dengan begitu, diharapkan para petani tidak lagi kesulitan dan tetap mendapatkan pasokan air, untuk menggarap sawah.
“Ada juga solusi jangka panjangnya, yaitu melakukan perbaikan infrastruktur irigasi, diservikasi tanaman, memperluas luas areal untuk program asuransi AUTP, dan penguatan brigade alsintan,” tukasnya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Distan Provinsi Banten Nasir M Daud menambahkan, pihaknya sudah membuat skema untuk membantu para petani, agar bisa menggarap sawah mereka dimusim kemarau, salah satunya dengan mengoptimalkan sumber mata air yang ada.
“Kita sudah rapatkan persoalan itu beberapa hari lalu, kita akan upayakan agar sumber mata air di bawa kewenangan BWSC3 bisa dimaksimalkan. Supaya ketika musim kemarau, pasokan air untuk sawah tetap ada,” tuturnya.
Nasir mengatakan, pembahasan itu sengaja dilakukan sebagai upaya memutus mata rantai kesulitan pasokan air selama musim kemarau. Dengan begitu, diharapkan para petani tetap bisa mengolah lahan mereka meski musim kemarau.
“Kita upayakan secara bertahap, karena ini juga melibatkan berbagai kalangan dan lintas sektor. Semoga program ini bisa mulai berjalan ditahun 2027 nanti, dan petani tidak lagi kesulitan air,” imbuhnya. (adib)




















