SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Kalau anda mengenal pewayangan, tentu sudah tidak asing dengan cerita-cerita epos pewayangan macam Ramayana, Mahabharata, Arjuna Wiwaha, hingga cerita panji yang ceritanya sering dijadikan lakon atau sumber cerita dalam pementasan wayang.
Tapi tahukah anda, di Banten tepatnya di Kabupaten Pandeglang ada komunitas wayang yang sangat unik, karena tokoh-tokoh pewayangannya tak hanya tokoh dari epos Ramayana, Mahabharata, dan Arjuna Wiwaha, serta Panji.
Namun, menampilkan tokoh-tokoh pahlawan lokal yang namanya banyak ditulis di naskah – naskah lokal seperti, Babad Banten dan aneka wawacan diantaranya wawacan Syekh Mangshur. Komunitas itu bernama, Komunitas Wayang Nganjor Indonesia.
Ki Tirta Nugraha Pratama, sebagai Ketua sekaligus Dalang di Komunitas Wayang Nganjor Indonesia menerangkan, wayang kreasinya ini lahir dari persilangan berbagai tradisi seni yang ada di Pandeglang, mulai dari rampak bedug, ubrug, hingga wayang golek yang sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Sunda, baik di Jawa Barat maupun di Banten.
Ketiga jenis kesenian itu, diambil intisarinya dan dipentaskan kembali menjadi sebuah kesenian sandiwara kontemporer, yang jalan ceritanya diisi dialog – dialog jenaka dan kritis khas Ubrug, lalu diiringi dengan musik rancak dari rampak bedug, dengan menggunakan tokoh – tokoh wayang seperti wayang golek.
Tak hanya itu, pementasan wayang nganjor juga terkadang dikolaborasikan dengan kesenian lainnya seperti, sendratari hingga pencak silat hingga jadi lebih meriah.
Baca Juga: Wayang Nganjor Indonesia Sukses Gelar Diplomasi Budaya Lewat Lakon Babad Banten di Sumedang
“Kesenian ini, kami harapkan bisa menjadi wadah untuk melestarikan cerita lisan yang ada di Banten, yang hingga kini masih banyak yang belum dikenal oleh masyarakat luas terutama kalangan muda,“ kata Ki Tirta.
Ia melanjutkan, untuk yang belum familiar, istilah nganjor adalah istilah masyarakat Pandeglang untuk menyebut kata berkunjung atau mengunjungi kampung lain, untuk mengadu bedug. Ini dikarenakan, wayang nganjor kerap dipentaskan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di Banten.
Kembali ke tradisi lisan yang ada di Banten, Ki Dalang Tirta mengatakan, pihaknya saat ini berfokus untuk menampilkan pertunjukan wayang yang ceritanya bersumber dari Babad Banten, sebagai upaya untuk melestarikan naskah lokal tersebut.
“Ini adalah, upaya kami menghidupkan kembali nilai sejarah–kultural Banten melalui pertunjukan yang relevan dan komunikatif lintas generasi—menempatkan Babad Banten sebagai “dokumen hidup” yang dapat dialami, bukan hanya dibaca. Tak hanya itu, kami berharap ini juga bisa menguatkan tradisi tutur yang ada di Banten, sehingga orang Banten tidak lupa dengan Kebantenannya,” terangnya.
Ia kemudian menceritakan, tahun lalu pihaknya sudah menggelar acara kolaborasi dengan berbagai pegiat tradisi lisan di Banten, untuk mengumpulkan berbagai naskah – naskah lokal maupun nama – nama tokohnya.
Lalu tahun ini, dilanjutkan dengan lokakarya penulisan lakon pedalangan yang diikuti oleh puluhan sastrawan, pelaku sastra lisan, seniman pertunjukan (dalang, musisi, penari/aktor), pelajar,mahasiswa, masyarakat umum, serta penutur Sunda/Jawa dialek Banten.
Baca Juga: Tiga Jabatan Eselon II Masih Kosong, Pemprov Lakukan Pemetaan Pegawai
Lakon – lakon yang dihasilkan dalam lokakarya itu, kelak akan siap digunakan untuk dipentaskan dalam kegiatan wayang, teater musikal, sandiwara rakyat khas Banten yaitu ubrug, atau bahkan menjadi bahan penulisan buku atau artikel oleh para penulis dan sastrawan.
“Hal ini tujuannya adalah, agar cerita-cerita khas Banten dari Babad Banten bisa memperkaya pemahaman kita terhadap sejarah Banten sekaligus membuka ruang refleksi tentang bagaimana teks-teks tradisional berperan dalam membentuk kesadaran sejarah, identitas budaya, serta relasi kuasa di masa lalu dan masa kini,” pungkas Ki Tirta.
Ungkapan Ki Dalang Tirta itu, tak main – main, karena agar proses penulisan naskahnya menjadi ciamik dihadirkan filolog atau ahli membaca naskah – naskah kuno yaitu, Evi Fuji Fauziyah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Filolog tersebut, membantu para peserta lokakarya untuk memahami Naskah Babad Banten, dengan berbagai dokumentasi naskah – naskah Kebantenan yang saat ini banyak disimpan di Leiden, Belanda.
Selain itu, dihadirkan pula sejarawan Banten Dadan Sujana dari Banten Heritage, yang menjelaskan tentang seluk beluk sejarah serta budaya Banten yang membantu peserta lokakarya memahami latar belakang sebuah cerita yang ditulis di naskah.
“Saya senang sekali bisa berkunjung ke sini, karena Banten adalah tempat yang menarik yang dilihat dari segi bahasa bahasa Sunda dengan dialek Banten adalah, bahasa Sunda yang lebih murni dibandingkan dengan bahasa Sunda dengan dialek Priangan karena banyak naskah naskah kuno mengandung kata kata Bahasa Sunda yang hingga kini masih dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh orang Sunda Banten. Maka membantu para seniman sastrawan, serta pegiat tradisi lisan untuk menguatkan literasi mereka dengan membantu mereka agar bisa membaca naskah-naskah lokal yang sudah kuno adalah hal membanggakan,” tukas filolog Evi Fuji Fauziyah, Minggu (28/9/2025). (mardiana)
























