SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, tengah melakukan evaluasi terhadap berbagai jurusan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama yang kurang relevan.
Terkait hal itu, lembaga tersebut juga sedang fokus mendorong optimalisasi jurusan produktif serta memperluas peluang kerja bagi para lulusan hingga ke luar negeri, agar lulusan sekolah bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya.
Kepala Dindikbud Provinsi Banten Jamaluddin mengatakan, evaluasi yang dilakukan pihaknya sebagai bentuk pembenahan agar lulusan SMK bisa mendapatkan kemampuan dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.
Oleh karena itu, pemetaan jurusan jenuh sedang berlangsung di berbagai daerah. Meski beberapa jurusan seperti Tata Usaha di wilayah Kabupaten Pandeglang atau Tangerang masih memiliki minat tinggi, evaluasi tetap diperlukan agar lulusan tidak menumpuk tanpa kepastian kerja.
“Jurusan jenuh kita sedang evaluasi. Artinya, di tiap kabupaten/kota ini ada jurusan jenuh. Makanya kita berharap nanti adanya evaluasi terhadap jurusan-jurusan jenuh,” ujar Jamaluddin, Minggu (13/9/2026).
Dia mengaku, pihaknya sedang fokus mengembangkan potensi lokal dan keahlian spesifik yang memiliki permintaan tinggi di pasar kerja global.
Baca Juga: Kasus ISPA Capai 4.500, Pemprov Banten Perpanjang PJJ
Seperti, pertanian dan peternakan di Kabupaten Lebak menjadi salah satu sektor unggulan yang kini terus dimaksimalkan.
Di samping itu, keahlian teknik seperti pengelasan (welding) dan kuliner juga tengah dimaksimalkan karena memiliki daya serap serta penawaran gaji yang tinggi di pasar luar negeri.
“Tapi memang kita dorong jurusan-jurusan yang produktif seperti di daerah Lebak, misalnya pertaniannya, peternakannya ini kita maksimalkan. Dan memang sekarang ini kan jurusan-jurusan yang produktif misalnya yang dibutuhkan di dunia kerja di luar negeri itu pengelasan,” tambahnya.
“Pengelasan ini sangat luar biasa, ratusan ribu ya pegawai yang diterima dan gajinya cukup lumayan juga, dan ini mungkin kita kembangkan. Jadi artinya, bahwa jurusan-jurusan yang jenuh kita evaluasi dan jurusan yang produktif kita kembangkan terus, seperti itu,” sambungnya.
Ditanya terkait lulusan SMK sering tercatat sebagai penyumbang angka pengangguran tinggi dalam data BPS, dia mengaku, hal ini terjadi karena terdapat perbedaan sudut pandang antara data internal sekolah dengan data BPS.
“Ya, sebetulnya kalau lihat dari evaluasi, ada dua sumber ya. Dari Dapodik kalau kita lihat ya sebetulnya angka pengangguran itu nggak terlalu besar juga. Tapi kalau di data BPS itu kan karena orang yang sudah lama diakumulasi, jadi seolah-olahnya tamatan SMK tuh banyak,” pungkasnya.
Baca Juga: Pengadaan 500 Ribu Perumahan Di Banten Terkendala Lahan
Untuk menjamin penyerapan tenaga kerja secara langsung, Dindikbud Banten kini terus mendorong seluruh SMK membangun kemitraan strategis atau link and match dengan kawasan-kawasan industri besar di Banten.
“Dan kita berharap nanti ke depan, jurusan-jurusan yang produktif kita dorong ada kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang terdekat. Nah ini kita akan dorong ada semacam kerja sama antara dunia usaha/dunia industri dengan sekolah-sekolah,” tukasnya.
Dia menilai, peluang kerja luar negeri juga menjadi fokus utama Pemprov Banten. Salah satunya melakukan bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta perusahaan di luar negeri seperti Jepang, Cina, hingga Turki untuk menyerap ratusan ribu tenaga kerja lulusan SMK.
“Bahkan kita juga sudah kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Jepang dan Cina. Jadi tamatan dari SMK bisa kerja di luar negeri. Dan ini kita dorong,” tuturnya.
Berdasarkan sata Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat bahwa sebanyak 411 ribu warga Banten masih menjadi pengangguran di tahun 2026.
Jumlah pengangguran tersebut setara dengan 6,59 persen dari total angkatan kerja di Banten yang mencapai 6,24 juta orang. Meski angka pengangguran mengalami penurunan jika dibandingkan dengan data di November 2025 yang mencapai 430 ribu orang, kondisi ini menunjukkan jika persoalan ketenagakerjaan belum sepenuhnya teratasi.
Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana mengatakan, dinamika angka pengangguran tidak bisa dilepaskan dari perubahan jumlah angkatan kerja yang cukup fluktuatif.
Pada periode Februari 2026, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 6,24 juta orang dari total 9,59 juta penduduk usia kerja. Angka ini menurun dibandingkan November 2025 yang mencapai 6,48 juta orang.
“Terkait penyerapan tenaga kerja, sektor terbesar masih berasal dari sektor perdagangan, industri pengolahan, dan pertanian. Namun, struktur tenaga kerja di Banten masih didominasi oleh lulusan berpendidikan rendah,” tandasnya.
Dia menerangkan, di 2026 lulusan SD ke bawah mencapai sekitar 2,08 juta orang atau 35,74 persen dari total pekerja. Angka ini mengalami kenaikan sebanyak hampir 5 persen jika dibandingkan dengan November 2025 yang mencapai 30,79 persen atau 1,86 juta orang.
Kondisi berbeda terlihat pada kelompok lulusan sekolah menengah. Di mana, lulusan SMK yang diharapkan menjadi motor penggerak industri justru mengalami penurunan penyerapan. “Dari 856,05 ribu orang di November tahun lalu menjadi 719 ribu orang pada Februari 2026,” katanya.
Kata dia, penurunan serupa juga terjadi pada lulusan SMA yang terkoreksi dari 24,18 persen menjadi 22,62 persen.
“Lulusan SMP juga turun dari 19,74 persen ke angka 17,32 persen,” tutupnya. (adib)
























