SATELITNEWS.COM, SERANG – Sekitar 100 Kepala Keluarga (KK), yang berada di zona merah sebaran radiasi Radionuklida Cesium-137 (Cs-137) di sekitar Kawasan Modern Cikande, Kabupaten Serang, dalam waktu dekat akan dilakukan relokasi sementara di tempat yang lebih aman.
Ada tiga opsi tempat yang menjadi pilihan, pertama Gedung PGRI Kecamatan Cikande, BLKI Serang dan Wisma Bhayangkara Kota Serang. Dari ketiga tempat itu, pertimbangan fasilitas kenyamanan, akses Pendidikan dan menuju tempat kerja harus diperhitungkan dengan matang.
Hal itu, dikatakan Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, saat kegiatan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kondisi pencemaran lingkungan kepada seluruh kepala desa/kelurahan di Kecamatan Cikande, yang berlangsung di Kantor Kecamatan Cikande, Senin (13/10/2025).
Sebelumnya, penyuluhan kegiatan diawali dengan Apel Satuan Tugas Penanganan Bahaya Radiasi Radionuklida Sesium-137 (Cs-137) dan Kesehatan pada Masyarakat Berisiko Terdampak di Kantor Polsek Cikande, yang dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq.
Ia mengatakan, sebelum penunjukkan tempat relokasi sementara, dipastikan terlebih dahulu berbagai kebutuhan secara detail harus diperhatikan dan terbepnuhi dengan baik, apalagi mereka akan tinggal di lokasi itu sekitar dua bulan.
Temepat tidur dan MCK-nya harus layak. Akses kendaraan ke tempat kerja dan pendidikannya, juga harus diperhatikan dengan baik. Jangan sampai Pendidikan anak-anak terganggu. Termasuk para orang tuanya yang bekerja di sekitar Kawasan.
Baca Juga: Di Acara Raker Bapera, Gubernur Andra Ajak Pemuda Bangun Banten
“Dindikbud harus hadir, mencatat secara detail berapa jumlah anak-anak sekolah yang direlokasi dan akses ke pendidikannya bagaimana, apakah bisa difasilitasi dengan bus bersamaan dengan orang tuanya berangkat kerja,” jelasnya.
Dikatakan Hengki, Kepala Desa/Lurah bersama jajarannya sampai tingkat RT harus melakukan validasi ke lapangan memastikan berapa jumlah KK yang benar-benar harus dipindahkan ke tempat relokasi sementara.
“Itu harus detail, berapa jumlah anak-anak sekolahnya. Sehingga, seluruh warga yang berada di lokasi zona merah bisa diselamatkan,” pungkasnya.
Dikatakan Hengki, pihaknya sangat konsen terhadap persoalan yang menjadi atensi semua pihak ini untuk bersama-sama dalam sebuah kolaborasi semua pihak menyelesaikannya dengan baik. Dirinya menargetkan, dengan SDM dan dukungan peralatan yang mumpuni dalam melakukan dekontaminasi, papran radiasi ini ditargetkan bisa selesai sebelum dua bulan kedepan.
“Bulan Desember nanti, kita akan focus pada persiapan libur Nataru, kemudian dilanjut dengan persiapan menjelang Ramadhan dan lebaran Idul Fitri di bulan Februarinya. Oleh karena itu, kalau bisa persoalan ini paling lambat diselesaikan sebelum masuk bulan Ramadhan, agar kita bisa lebih focus beribadah,” jelasnya.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pihaknya akan melihat lebih detail lagi lokasi mana yang lebih efektif dijadikan tempat relokasi sementara bagi warga yang masuk zona merah pancaran radiasi itu. Sama dengan Henky, dirinya juga menargetkan persoalan ini bisa clear paling lama dua bulan kedepan.
Baca Juga: Andra Soni: Irigasi Cisata Pandeglang Tingkatkan Produktivitas Petani
“Dua bulan itu pemerintah sudah menetapkan Kawasan modern Cikande ini sudah bebas dari paparan radiasi,” pungkasnya.
Dikatakan Andra, kejadian ini telah menyita perhatian dunia. Oleh karena itu, kita harus mmapu menunjukkan jika kita semua siap menyelesaikan. Ini Adalah kerja gotong royong semua pihak sampai tingkat RT.
“Maka saya minta semua pihak untuk aktif berkoordinasi dan jangan saling tunggu. Apa yang bisa dikerjakan jangan melihat kewenangan,” tukasnya.
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq meminta para lurah dan kepala desa untuk pro aktif memasmtikan setiap warganya dalam kondisi yang sehat. Jika terjadi gejala sesuatu harus segera dilakukan pemeriksaan.
“Selain itu yang terpenting juga memastikan warganya tidak masuk pada zona radiasi yang sudah ditetapkan, karena itu sangat berbahaya,” pungkasnya.
Hanif juga, meminta apel kesiapsigaan ini tidak hanya sekedar seremoni belaka, tetapi harus dijadikan sebagai momentum meningkatkan pengawasan. Kita tunjukkan kepada semua bangsa di dunia bahwasannya negara hadir dan bergerak cepat serta siap menghadapi ancamanradiasi ini dengan segala daya dan Upaya bersama.
“Peristiwa ini merupakan alarm keras bagi kita semua utnuk menuntut respon yang tegrpadu, tegrukur dan terkoordinasi dari seluruh elemen,” katanya.
Sebagaimana diketahui bersama, telah terdeteksi beberapa titik lokasi yang meiliki pancaran sumber radiasi salah satunya bahkan mencapai angka 33.000 μSv/jam atau 875.000 kali dari background alam di lokasi.
Dikatakan Hanif, Apel ini bukan sekedar seremoni melainkan suatu penegasan kesiapan kita untuk melindungi masyarakat dan lingkungan kita dari kontaminasi radiasi. Pekerjaan di hadapan kita sangatlah tidak ringan.
Tetapi kita tidak sendiri. Keberadaan kita bersama-sama. Kekuatan kita terletak pada kolaborasi dan singkronikasisi langkah bersama.
“Peta sebaran radiasinya sudah ada. Itu bisa dijadikan landasan dasar untuk melakukan dekontaminasi,” imbuhnya. (luthfi)
























