SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tangerang berunjuk rasa di kawasan pendidikan Cikokol, Senin, 10 November 2025. Mereka menolak rencana pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.
Dalam aksinya, mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Tolak Soeharto Jadi Pahlawan” dan menilai wacana itu menodai nilai perjuangan dan kemanusiaan. Ketua DPC GMNI Tangerang, Elwin Mendrofa, menyebut Hari Pahlawan seharusnya menjadi refleksi atas perjuangan rakyat, bukan pemutihan atas kekuasaan tirani.
“Rezim Orde Baru melahirkan bentuk baru penjajahan: korupsi, kolusi, nepotisme, dan pelanggaran HAM,” ujar Elwin. GMNI menilai jejak kelam Soeharto tak bisa dihapus begitu saja. Mereka menyebut sederet tragedi pelanggaran HAM: pembantaian 1965, Peristiwa Malari 1974, penembakan misterius 1980-an, Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, hingga Trisakti–Semanggi 1998. “Darah mahasiswa yang tumpah adalah harga dari kebebasan hari ini,” kata Elwin.
Menurut GMNI, rencana pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan di era Presiden Prabowo Subianto mencederai ingatan kolektif bangsa. “Pahlawan sejati membebaskan rakyat, bukan menindasnya,” tegas Elwin. Aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan polisi. Mahasiswa menutup demonstrasi dengan menyanyikan “Indonesia Raya” dan meneriakkan, “Hidup rakyat! Tolak Soeharto jadi pahlawan!” “Elwin menambahkan, menghormati jasa pahlawan bukan berarti menutup mata terhadap sejarah kelam bangsa,” katanya. (mg01)

















