SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Suasana ramai tampak memenuhi lapangan di kawasan Bona, Kelurahan Cikokol, Kecamatan Tangerang pada Minggu (6/12/2025) pagi. Puluhan warga sengaja datang baik dengan berjalan kaki mau pun dengan sepeda motor di tempat yang sehari-harinya menjadi pusat jajan warga sekitarnya.
Di sana, sedang digelar kegiatan Gerakan Pangan Murah oleh Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangeran bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional. Ada beras 5 kg, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, tepung, bumbu, cabai hingga buah melon jenis premium dijajakan.
Sebagian menenteng tas belanja, sebagian lainnya sibuk bertanya harga kebutuhan pokok yang dijual lebih murah dari hari biasanya. Di tengah situasi itu, berdiri seorang pria bernama Andri, yang tampak sesekali tampak sibuk melihat-lihat.
Ia datang lebih awal karena mendengar kabar bahwa Gerakan Pangan Murah kembali digelar di wilayahnya. Bagi Andri, kegiatan seperti ini bukan sekadar pasar kaget. Ini adalah kesempatan emas bagi masyarakat yang sedang berjuang mengatur pengeluaran sehari-hari. “Ya mungkin lebih murah ya dibanding di luar. Jadi bisa membantu masyarakat, sedikit terbantu,” ujarnya ditemui usai berbelanja.
Andri mengaku cukup terbantu dengan adanya program itu. 5 kg beras, minyak dan kebutuhan lain dibelinya. Ia cukup mengeluarkan Rp 90 ribu untuk memborongnya. Andri menyebut pasti akan merogoh kocek lebih dalam jika dirinya berbelanja di tempat lain dengan komoditas yang sama.
Harga beberapa komoditas yang terus bergerak naik membuatnya harus lebih selektif memilih tempat berbelanja. Karena itu, ketika pemerintah mengadakan program pangan murah, ia tidak ingin melewatkan kesempatan.
Baca Juga: DKPP Kabupaten Serang Lakukan Gerakan Pangan Murah
Di sekelilingnya, beberapa warga terlihat saling menawarkan tempat antrean, memastikan setiap orang mendapat bagian dengan tertib. Meski suasana padat, tidak ada kericuhan justru rasa kebersamaan terasa hangat. Andri tersenyum kecil melihatnya. “Kalau bisa sering, ya,” lanjutnya. “Supaya masyarakat yang ekonominya pas-pasan, yang di tengah-tengah, bisa terbantu juga.”
Menurutnya, kegiatan ini layak menjadi agenda rutin, bukan hanya sesekali. Sebab bagi banyak keluarga, selisih harga beberapa ribu rupiah bukan hal sepele itulah bedanya beras tetap ada di rak dapur atau tidak. (made)

















