SATELITNEWS.COM, LEBAK – Di sebuah sudut Kampung Turus Elor, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, berdiri sebuah rumah kecil yang selama dua puluh tahun menjadi saksi sunyi perjuangan seorang ibu bernama Kanapiah (52). Bangunan itu hampir tak layak disebut tempat tinggal, dinding kayunya lapuk dimakan usia, atap berlubang, dan kerangkanya bergetar setiap kali angin datang.
Setiap kali hujan turun, Kanapiah dan enam anaknya hanya bisa saling merapat di sudut ruangan, berdoa agar rumah yang roboh sedikit demi sedikit itu tidak menimpa mereka. Malam bagi keluarga ini bukan waktu istirahat, tetapi saat paling menegangkan tak hanya karena takut rumah runtuh, melainkan karena sering tak ada makanan untuk mengusir lapar.
Namun pada Selasa pagi (9/12/2025), suasana berbeda menyelimuti kampung kecil itu. Puluhan warga datang membawa martil, linggis, dan senyuman. Tanpa ada komando, mereka bergotong royong membongkar rumah rapuh milik Kanapiah. Genteng demi genteng diturunkan, papan reyot dilepas satu per satu, sementara yang lainnya merangkai kerangka bangunan baru dari kayu dan bambu.
Semua biaya berasal dari donasi sukarela warga melalui kas kampung. “Seikhlasnya saja. Alhamdulillah sudah terkumpul lebih dari enam juta,” tutur Saen (45), salah satu warga yang ikut bekerja.
Saen berharap pemerintah dapat membantu, karena dana yang terkumpul masih jauh dari cukup untuk membangun rumah layak huni. “Kalau pemerintah mau bantu, kami sangat terbuka. Karena kalau enggak segera diperbaiki, mungkin beberapa bulan lagi rumahnya sudah benar-benar rubuh,” ujarnya.
Di balik kerumunan warga, Kanapiah berdiri mengusap ujung kerudungnya. Sejak suaminya meninggal dua dekade lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai buruh tanam padi dengan penghasilan sekitar Rp20.000 per hari—itu pun kalau ada pekerjaan. “Kalau lagi enggak musim tanam, saya cuma bisa pasrah,” katanya lirih.
Baca Juga: TNI – Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Perintis Garuda Tahap VII di Munjul Pandeglang
Dari enam anaknya, kini hanya satu yang masih bersekolah karena keterbatasan biaya. Ia mengaku pernah tak makan selama dua hingga tiga hari. “Enggak ada uang buat beli beras,” ucapnya pelan.
Kanapiah bercerita pernah ada petugas desa yang mendata rumahnya untuk pengajuan bantuan, namun hingga kini belum ada kabar lanjutan. “Dulu pernah difoto-foto, tapi sampai sekarang belum ada bantuan.”
Meski demikian, ia tersenyum melihat warga bahu membahu mengerjakan rumahnya. “Mudah-mudahan punya rumah yang bagus, biar kami enggak takut roboh lagi,” harapnya. Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bagian Kesra Kabupaten Lebak, Iyan Fitriyana, memastikan pemerintah akan menindaklanjuti laporan warga. “Kita segera tindak lanjuti secepat mungkin,” ujarnya singkat.
Di tengah kesederhanaan dan segala kekurangan materi, gotong royong warga Turus Elor menjadi bukti bahwa ketika keadaan begitu berat, hati manusia dapat berdiri paling kokoh lebih kuat daripada kayu, papan, atau bangunan apa pun. (mulyana)



















