SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Aroma tak sedap di sepanjang Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Ciputat berdampak kepada omzet bisnis pedagang makanan. Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut hampir dua pekan terakhir membuat para pedagang kecil kelimpungan, salah satunya Sari Deli (42), penjual nasi.
Pemilik warung nasi pinggir jalan yang baru satu setengah bulan mengadu nasib di lokasi itu mengaku bau menyengat dari sampah warga, pasar, hingga kiriman orang tak dikenal sangat mengganggu aktivitas jualannya. Tumpukan sampah itu berada tak jauh dari lapak nasi miliknya, membuat suasana makan menjadi tidak nyaman.
“Ya sangat terganggu, namanya kita berjualan, pelanggan kebauan ngga nafsu makan,” ujarnya saat ditemui disela-sela melayani pelanggannya, Rabu (17/12).
Menurut Sari, sudah hampir dua minggu sampah di lokasi itu tidak diangkut sama sekali. Kondisi tersebut membuat pelanggan yang biasanya makan di tempat, kini enggan berhenti. Bahkan sebagian memilih pergi sebelum memesan.
“Hampir dua minggu tidak diangkut, sampah dari warga, pasar ada juga dan dari orang lain,” ucapnya.
Sari mengaku kondisi ini, dampaknya langsung terasa pada pendapatan harian. Jika sebelumnya omzet warung nasi miliknya bisa mencapai Rp800 ribu per hari, kini hanya berkisar Rp400 ribuan. Artinya, pendapatan turun hingga 50 persen.
Baca Juga: Warga Komplek Nusa Indah Tolak Pembangunan SMPN 25 Tangerang Selatan, Ini Alasannya
“Pendapatan sampai turun setengahnya, biasanya Rp800 jadi Rp400 ribuan per hari. Jadi malas makan juga pelanggan kesini,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah setempat segera turun tangan dan melakukan pengangkutan sampah secara total. Menurutnya, masalah ini tak hanya merugikan pedagang, tapi juga mengganggu kenyamanan warga sekitar.
“Secepatnyalah kalau bisa, sampai sekarang tidak ada pengangkutan total,” bebernya.
Bagi pedagang kecil seperti Sari, bau sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi soal keberlangsungan hidup. Ketika aroma busuk mengusir selera makan pelanggan, yang tersisa hanyalah piring kosong dan penghasilan yang kian menipis.
Tidak semua pedagang memang berdampak, pemilik toko elektronik memang mengeluh dengan bau menyengat yang ditimbulkan. Ia pun berharap agar pengangkutan seluruhnya dapat segera dilakukan.
“Kalau saya tidak begitu berdampak, tempat makan pasti angin datang bau sekali, apalagi hujan begini semakin parah baunya. Sampah ini dari pedagang, sebenarnya sudah ditolak, biasanya ada yang jaga. Banyak juga yang naik motor buang di situ,” pungkas Setiawan (57). (eko)
Baca Juga: Pos Jaga Jakarta di Flyover Ciputat Sediakan Layanan Ganti Oli Gratis untuk Ojol
























