SATELITNEWS.COM, LEBAK — Kasus gigitan ular berbisa masih menjadi ancaman serius bagi warga Suku Baduy di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 62 warga Baduy menjadi korban gigitan ular berbisa, dengan 11 orang di antaranya meninggal dunia.
Koordinator Relawan Sahabat Indonesia (RSI), Muhammad Arif Kirdiat, menyampaikan bahwa kasus gigitan ular berbisa terjadi di sejumlah kampung di kawasan adat Baduy. Data tersebut dihimpun RSI dari Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Ciboleger, Nangerang, dan Cijahe dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
“Jenis ular yang paling banyak menyerang warga adalah ular tanah (Calloselasma rhodostoma), yang biasanya bersembunyi di semak belukar, ilalang, ladang, dan kawasan hutan,” ujar Arif kepada wartawan, Minggu (4/1/2025).
Ia menjelaskan, tingginya kasus gigitan ular berbisa berkaitan erat dengan aktivitas keseharian warga Baduy yang mayoritas bekerja di ladang dan kebun. Proses membuka lahan secara tradisional di wilayah perbukitan membuat warga kerap berinteraksi langsung dengan habitat ular. “Ini persoalan kesehatan yang terus berulang setiap tahun,” katanya.
Menurut Arif, tingginya angka kematian korban gigitan ular berbisa disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain keterlambatan evakuasi, keterbatasan ketersediaan antibisa ular (ABU) di puskesmas saat kejadian, serta minimnya pemahaman warga untuk segera membawa korban ke fasilitas kesehatan rujukan.
“Kami mengimbau masyarakat Baduy agar segera melapor ke petugas medis di poskesdes atau Klinik RSI jika terjadi gigitan ular, agar korban dapat segera memperoleh penanganan medis,” ujarnya.
Baca Juga: Menakutkan, Ular King Kobra Bersembunyi di Kamar Mandi Warga
Sementara, Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menyebut luasnya wilayah adat serta jauhnya jarak antarkampung menjadi tantangan utama dalam penanganan kondisi darurat medis di wilayah Baduy. “Wilayah Baduy itu luas dan kampung-kampungnya terpencar. Untuk keadaan darurat, jaraknya jauh. Ada yang harus ke Sobang, ada juga yang ke Cirinten. Itu bukan jarak dekat,” kata Jaro Oom.
Ia mengungkapkan, sebelumnya puskesmas yang bersentuhan langsung dengan wilayah Baduy belum memiliki ketersediaan antibisa ular. Kondisi tersebut baru mulai dibenahi setelah mendapat perhatian publik dan adanya kunjungan Gubernur Banten ke wilayah Baduy Dalam, tepatnya di Cikeusik. “Setelah ramai dan ada kunjungan Pak Gubernur, barulah antibisa mulai dikondisikan di puskesmas,” ujarnya.
Meski demikian, Jaro Oom menegaskan persoalan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Selain ketersediaan obat, keterbatasan tenaga medis yang memiliki keahlian khusus dalam penanganan gigitan ular berbisa masih menjadi persoalan krusial.
Sejumlah Puskesmas Pembantu (Pustu), seperti di Binong dan Nangerang, bahkan belum berfungsi optimal akibat kekurangan tenaga kesehatan. “Obat mungkin ada, tapi tenaga medis yang ahli menangani antibisa tidak ada. Itu yang menjadi masalah utama,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dapat menempatkan tenaga medis dengan kompetensi khusus penanganan gigitan ular berbisa di setiap puskesmas penyangga wilayah Baduy.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Darmana Putra, memastikan pemerintah daerah telah menyiapkan persediaan serum antibisa ular di puskesmas penyangga wilayah Baduy.
Baca Juga: Ular Kobra Sembunyi di Kardus dalam Rumah Warga
“Saat ini, setiap puskesmas penyangga telah disiapkan antara lima hingga sepuluh vial serum antibisa ular,” katanya. Ia menambahkan, seluruh persediaan ABU di lima puskesmas penyangga, yakni Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang, saat ini telah terpenuhi. (mulyana)
























