SATELITNEWS, LEBAK–Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak tetap optimistis produksi beras daerah akan surplus meski ratusan hektare area persawahan di sejumlah wilayah sentra tanam padi terdampak banjir akibat cuaca ekstrem.
Kepala Distan Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan, berdasarkan data sementara terdapat sekitar 269 hektare lahan persawahan terdampak banjir, dengan 50 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso, serta 73 hektare lainnya dalam kondisi terancam.
“Kalau berpengaruh pasti ada karena 50 hektare mengalami puso. Tapi tidak akan terlalu signifikan terhadap ketersediaan beras karena jumlahnya tidak besar. Insya Allah produksi beras di Lebak yang menjadi lumbung padi di Banten tetap surplus,” Minggu (25/12026).
Ia menjelaskan, potensi panen padi di Kabupaten Lebak pada periode Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 38.895 hektare dengan total produksi sekitar 229.479 ton beras. Dengan potensi tersebut, dampak banjir dinilai masih bisa ditutupi oleh luas panen di wilayah lain.
Rinciannya, pada Januari 2026 luas panen diperkirakan mencapai 15.215 hektare dengan produksi sekitar 89.769 ton. Selanjutnya pada Februari luas panen sekitar 13.765 hektare dengan produksi 81.212 ton, dan pada Maret diperkirakan panen seluas 9.915 hektare dengan produksi mencapai 58.499 ton. “Angka ini masih sangat mencukupi untuk menjaga surplus beras di Lebak,” katanya.
Meski demikian, Rahmat mengakui banjir yang berulang telah memberikan tekanan berat bagi petani, terutama yang lahannya mengalami puso. Oleh karena itu, pihaknya telah mengajukan bantuan benih kepada pemerintah untuk membantu petani menanam kembali.
Baca Juga: Kemarau Sudah Membuat 372 Hektare Sawah di Lebak Kekeringan
“Kami sudah mengajukan bantuan bibit sesuai dengan luasan lahan yang puso, yakni sekitar 50 hektare. Dengan bantuan ini, diharapkan bisa mengurangi beban petani, terutama untuk kebutuhan tanam ulang,” jelasnya.
Data Distan Lebak mencatat, wilayah yang paling terdampak cuaca ekstrem hingga menyebabkan puso berada di Kecamatan Cimarga, dengan total lahan gagal panen mencapai 50 hektare.
Selain bantuan benih, Distan Lebak juga berharap Pemerintah Provinsi Banten dapat turun tangan lebih serius untuk membantu mengurangi risiko banjir di area persawahan, khususnya melalui perbaikan sistem irigasi dan penanganan daerah rawan genangan.
Di lapangan, dampak banjir dirasakan langsung oleh para petani. Ujang, petani sawah asal Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, mengungkapkan banjir yang terus berulang telah merusak puluhan hektare sawah dan membuat musim tanam gagal total. “Banjir datang terus, bibit padi hanyut semua. Yang sudah mau berbuah juga busuk karena lama terendam. Gagal semua, kami merugi,” keluh Ujang.
Ia menambahkan, dalam dua pekan terakhir banjir silih berganti datang dan surut, namun kembali meluap sehingga membuat hamparan sawah yang sebelumnya hijau kini tampak kosong. Kerugian petani pun ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Sementara, Bahrudin, petani asal Kecamatan Kalanganyar, menyebut panen kali ini tetap dilakukan meski dibayangi rasa khawatir akibat cuaca ekstrem. Sebagian sawahnya sempat terendam, namun masih bisa diselamatkan. “Terendam, tapi masih bisa dipetik. Hasilnya memang tidak memuaskan, tapi alhamdulillah tidak sampai merugi,” ujarnya.
Baca Juga: Kebutuhan Beras di Lebak Dijamin Aman Selama Ramadan
Kondisi ini menegaskan bahwa meski secara makro produksi beras Lebak masih aman, persoalan banjir tahunan di kawasan pertanian membutuhkan penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan agar tidak terus merugikan petani di tingkat tapak.(mulyana)
























