SATELITNEWS.COM, SERANG – Angin segar mulai datang ke Provinsi Banten. Hal itu seiring dengan mulai membaik dan meningkatnya perekonomian masyarakat diwilayah perkotaan dan perdesaan.
Optimisme perbaikan dan pemulihan perekonomian masyarakat mulai tumbuh, karena ditengah keterbatasan ekonomi dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, Provinsi Banten bisa merangkak dari keterpurukan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Banten Budi Santoso menyatakan, penguatan indikator tersebut terlihat dari turunnya tingkat pengangguran dan meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja, terutama di wilayah perdesaan.
Indikator sosial ekonomi Provinsi Banten pada periode 2025 menunjukkan perkembangan positif. Hal ini ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan, peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi daerah yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten.
“Tingkat pengangguran turun. Penurunannya cukup terasa di perdesaan,” katanya, Jumat (6/2/2026).
Budi mengatakan, kenaikan penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor pertanian, diikuti industri pengolahan dan perdagangan. Hal itu, kata dia, menjadi gambaran pergerakan perekonomian di Banten yang semakin membaik.
Baca Juga: Kasus ISPA Capai 4.500, Pemprov Banten Perpanjang PJJ
“Ketika sektor pertanian naik paling tinggi, dampaknya terlihat pada penurunan pengangguran perdesaan,” tandasnya.
Budi mengatakan, arah penguatan indikator sosial ekonomi tersebut selaras dengan implementasi program prioritas pembangunan daerah yang terus digalakkan Pemprov Banten.
“Program prioritas daerah diarahkan pada penguatan konektivitas, pertanian, investasi, pendidikan, dan UMKM. Ini selaras dengan indikator sosial ekonomi yang dirilis BPS,” pungkasnya.
Budi mencontohkan, penguatan infrastruktur dan konektivitas melalui Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra), pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di daerah lumbung pangan, serta renovasi rumah tidak layak huni (RTLH) untuk mendukung aktivitas ekonomi desa.
Selain itu, lanjutnya, program Banten Cerdas dijalankan melalui sekolah gratis SMA, SMK dan SKh swasta serta Sekolah Rakyat untuk memperluas akses pendidikan. Penguatan ekonomi desa dan UMKM dilakukan melalui bantuan keuangan desa, pengembangan koperasi, serta pembentukan zona ekonomi baru.
“Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan, peningkatan investasi, serta optimalisasi Balai Latihan Kerja untuk menyiapkan tenaga kerja juga terus dioptimalkan,” ujarnya.
Baca Juga: Pengadaan 500 Ribu Perumahan Di Banten Terkendala Lahan
Selain itu, kata Budi, realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp130,2 triliun atau melampaui target tahunan, serta program daerah yang diselaraskan dengan agenda nasional, termasuk dukungan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Seluruh program ini diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi daerah dan memperluas kesempatan kerja,” tukasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju perekonomian selama tahun 2025. Hasilnya, perekonomian di Provinsi Banten mengalami pertumbuhan 5,37 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekira 4,79 persen.
Perekonomian Provinsi Banten tahun 2025 yang dihitung berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp936,20 triliun dan PDRB per kapita mencapai Rp74,67 juta atau 4.532,45 US Dollar.
“Ekonomi Provinsi Banten tahun 2025 tumbuh sebesar 5,37 persen, tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun 2024 yang tumbuh 4,79 persen,” kata ujar Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).
Dia menerangkan, pertumbuhan perekonomian itu bisa dilihat dari sisi produksi. Dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 9,60 persen.
“Sementara itu, dari sisi pengeluaran, komponen Total Net Ekspor mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,27 persen,” katanya.
Dia menerangkan, ekonomi Provinsi Banten triwulan IV tahun 2025 terhadap triwulan IV tahun 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,64 persen years on years. Dari sisi produksi, lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 16,42 persen.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dimiliki oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 9,09 persen,” ujarnya.
Kemudian untuk warga miskin, pada September 2025 sebesar 5,51 persen, turun 0,12 persen poin terhadap Maret 2025 dan turun 0,19 persen poin terhadap September 2024.
Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 760,85 ribu orang, turun 11,9 ribu orang terhadap Maret 2025 dan turun 16,64 ribu orang terhadap September 2024.
“Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2025 sebesar 5,35 persen, mengalami penurunan dibandingkan Maret 2025 atau 5,58 persen,” katanya.
Sementara itu, persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2025 sebesar 6,27 persen, lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 atau 5,89 persen. Pada September 2025, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi Banten memiliki 5,17 orang anggota rumah tangga.
“Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp3.698.039 per rumah tangga miskin per bulan,” katanya.
Sedangkan untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), kata dia, pada November 2025 sebesar 6,63 persen, turun 0,05 persen poin dibanding Agustus 2025. Jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada November 2025 sebanyak 6,48 juta orang, naik 314 ribu orang dibanding Agustus 2025.
“Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 67,75 persen, naik sebesar 3,09 persen poin dibanding Agustus 2025,” katanya.
Kata dia, penduduk yang bekerja pada November 2025 sebanyak 6,05 juta orang, naik 296,34 ribu orang dari Agustus 2025. Pada November 2025 penduduk bekerja pada kegiatan formal sebanyak 3,19 juta orang atau sekira 52,72 persen, turun 2,16 persen poin dibanding Agustus 2025.
“Tingkat setengah pengangguran sebesar 7,35 persen naik sebesar 0,69 persen poin, sementara tingkat pekerja paruh waktu sebesar 17,55 persen turun 0,04 persen poin dibanding Agustus 2025,” katanya. (adib)
























