SATELITNEWS.COM, LEBAK–Ancaman Tuberkulosis (TBC) kini menghantui permukiman masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak. Dalam dua bulan terakhir, 17 warga terkonfirmasi positif dan sebagian baru dirujuk saat kondisinya sudah parah.
Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI), Muhammad Arif Kirdiat, mengungkapkan, sejak Januari hingga Februari 2026 pihaknya telah merujuk 17 warga Baduy yang dinyatakan positif TBC ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten untuk mendapatkan penanganan intensif. “Kami dari awal Januari sampai Februari 2026 merujuk warga Baduy positif TBC sebanyak 17 pasien ke RSUD Banten,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Menurut Arif, tingginya kasus TBC di kawasan permukiman masyarakat Baduy dipengaruhi sejumlah faktor. Minimnya ventilasi udara dan sanitasi rumah warga menjadi salah satu penyebab utama penyebaran penyakit menular tersebut. Selain itu, aturan adat yang berlaku juga turut memengaruhi pola hidup dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Ia menilai, skrining TBC secara serentak di kawasan Baduy sangat mendesak dilakukan guna memutus mata rantai penularan. Pasalnya, hingga saat ini belum pernah ada pemeriksaan massal di wilayah tersebut, sehingga jumlah pasti warga yang terpapar belum diketahui. “Selama ini kami hanya merujuk warga Baduy dalam kondisi sudah parah penderita TBC. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Arif juga menyoroti proses pengobatan lanjutan bagi pasien. Meski masyarakat Baduy bersedia menjalani pengobatan selama enam bulan dengan melibatkan keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO), mereka kerap mengalami kendala dalam memperoleh obat lanjutan dari puskesmas pendamping. “Ketersediaan obat di puskesmas pendamping perlu disederhanakan agar tidak membingungkan warga adat dalam proses pengobatan. Kami berharap ada kemudahan akses bagi pasien TBC,” katanya.
Sementara, Kepala Seksie (Kasie) Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Rohmat, memastikan layanan diagnosis dan pengobatan TBC tersedia dan diberikan secara gratis di seluruh puskesmas, termasuk puskesmas pendamping masyarakat Badui. “Kami menjamin ketersediaan pengobatan TBC tersedia di 43 puskesmas,” ujarnya. Dinas Kesehatan, lanjutnya, terus melakukan upaya pencegahan dan pengendalian TBC melalui edukasi serta penguatan layanan kesehatan, termasuk di wilayah adat dan daerah terpencil di Kabupaten Lebak. (mulyana)
Baca Juga: Sepuluh Bulan, 74 Warga Lebak Meninggal Akibat TBC
























