SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemkot Serang, meminta masyarakat untuk tidak mendirikan rumah di atas lahan negara. Pasalnya, dari berbagai kejadian banjir yang terus berulang, Bangunan Liar (Bangli) yang berdiri di sepanjang sepadan sungai, menjadi salah satu penyebabnya, selain sedimentasi lebar dan kedalaman sungai.
Walikota Serang Budi Rustandi mengatakan, banjir yang terjadi di Kecamatan Kasemen dan Perumahan Grand Sutera Kelurahan panancangan, Kecamatan Cipocok Jaya beberapa waktu lalu, penyebabnya sama, yakni sedimentasi Sungai Ciwaka dan Kalimati Kroya ditambah lagi banyaknya Bangli di sepanjang sepadang sungainya.
“Di Kalimati Kroya itu, sedimentasinya cukup parah, baik oleh tumpukan sampah maupun lumpur. Sehingga air yang datang dari hulu, tidak bisa langsung ke hilir, karena tersendat dan akhirnya meluber kepemukiman warga,” katanya, Rabu (11/3/2026).
Kemarin, ujar Budi, pihaknya sudah menurunkan alat berat untuk mengeruk tumpukan sampah dan lumpur itu. Saat ini, kondisinya sudah kembali normal dan aliran air di sana sudah lancar.
“Kondisinya memang sudah lama juga itu tidak diperhatikan,” tandasnya.
Sementara, untuk banjir yang di Grand Sutra, saat ini sedang dalam proses normalisasi Sungai Ciwaka.
Baca Juga: 200 Lebih Pedagang Ramaikan ‘Pasar Jedogan’ di Kawasan Pasar Lama Kota Serang
Akan tetapi, proses itu terganggu dengan banyaknya Bangli, sehingga alat-alat berat yang akan diturunkan tidak bisa masuk.
Untuk itu, Budi menegaskan kepada seluruh masyarakat agar tidak lagi membangun rumah di atas lahan negara, terutama di sepadan Sungai.
Selain beresiko terdampak banjir, Bangli itu juga mengganggu proses normalisasi sungai yang akan dilakukan secara berkala.
“Saya tegaskan sekali lagi, sepadan Sungai itu tidak boleh ada bangunan. Jadi mohon kerjasamanya semua pihak,” pungkasnya.
Pasalnya, bagaimanapun penanganan yang dilakukan Pemkot Serang, jika kesadaran masyarakat tidak terbangun akan sangat sulit mengatasi banjir. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama semua pihak.
Ia menambahkan, pemerintah saat ini tengah melakukan perencanaan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3), untuk membangun tanggul penahan air ke depannya.
Baca Juga: Jam Kerja ASN Pemkot Serang Tetap Normal, Budi: Libur Saja Kerja, Apalagi Saat Puasa
Namun, langkah tersebut membutuhkan kerja sama dan sikap kooperatif dari warga setempat.
“Ketika ada apa-apa, susah kita mengeksekusinya. Jangan cuma menyalahkan pemerintah, masyarakat juga harus sadar agar kita bisa berdiskusi menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” ujarnya.
Kepala BBWSC3 Dedi Yudha Lesmana menambahkan, kolaborasi lintas instansi ini membagi zonasi penanganan Sungai Ciwaka secara jelas. Dengan sinergi yang kuat antara Pemkot Serang,
Pemprov Banten, dan BBWSC3, penanganan banjir di kawasan Grand Sutera diharapkan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menghadirkan solusi permanen dengan tata ruang yang lebih tertata.
“Sebagai tanggap darurat, kita melakukan normalisasi di Sungai Ciwaka titik Kompleks Grand Sutera,” pungkasnya. (luthfi)



















