SATELITNEWS.COM, LEBAK—Imbas konflik militer AS-Israel versus Iran cukup terasa di Tanah Air. Selain harga plastik yang mengalami lonjakan, harga kedelai juga ikut-ikutan melambung. Demi bisa bertahan, para perajin tempe pun terpaksa menyiasati dagangannya dengan memperkecil ukuran.
Di Kabupaten Lebak, kenaikan harga bahan baku dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya perajin tempe. Memperkecil ukuran pun menjadi alasan mereka agar usahanya bisa tetap bertahan.
Kondisi tersebut dialami Abah Momoy, pengrajin tempe asal Desa Mekarsari, Kecamatan Rangkasbitung. Ia mengaku, kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat drastis dan cukup menyulitkan pelaku usaha kecil seperti dirinya.
Menurutnya, harga kedelai yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp 400 ribu hingga Rp420 ribu per karung, kini melonjak menjadi sekitar Rp575 ribu per karung. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan karena terjadi dalam waktu relatif singkat.
Tidak hanya kedelai, harga plastik sebagai bahan pembungkus tempe juga ikut mengalami kenaikan. Dari sebelumnya sekitar Rp10 ribu per bungkus, kini naik menjadi Rp17 ribu per bungkus.“Ya agak susah juga cari solusinya. Dinaikin sedikit saja, konsumen tidak mengerti. Padahal minyak naik, kacang naik,” ujar Abah Momoy saat ditemui di tempat produksinya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam kondisi seperti saat ini, menaikkan harga jual tempe bukanlah pilihan yang mudah. Pasalnya, daya beli masyarakat dinilai masih terbatas, sehingga kenaikan harga berpotensi menurunkan jumlah pembeli. “Kalau harga tetap, konsumen juga komplain, kok kecil amat. Tapi kalau dinaikin, makin tidak laku. Jadi serba salah,” katanya.
Baca Juga: Karya Bakti TNI Skala Besar Tuntaskan Pembangunan Jalan 18 Km di Cimanggu Pandeglang
Untuk tetap bertahan, Abah Momoy memilih menyiasati kondisi tersebut dengan memperkecil ukuran tempe yang dijual, tanpa mengubah harga. Langkah ini diambil agar produknya tetap terjangkau oleh konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
Menurutnya, strategi tersebut merupakan jalan tengah yang terpaksa diambil di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Meski demikian, ia mengakui penjualan saat ini cenderung menurun dibandingkan kondisi normal. “Sekarang juga makin sepi, karena orang juga mungkin mikir-mikir beli. Tapi ya mau gimana lagi, tetap harus jalan,” ujarnya.
Abah Momoy menambahkan, usaha tempe yang ia jalankan bukan hanya menjadi sumber penghasilan utama bagi dirinya, tetapi juga menopang kebutuhan keluarga. Bahkan, usaha tersebut telah ia tekuni sejak masih muda hingga kini memiliki anak dan cucu.
Di tengah berbagai keterbatasan, ia tetap berusaha mempertahankan usahanya agar tetap berjalan. Produksi tempe masih dilakukan setiap hari, meskipun dengan perhitungan yang lebih ketat agar tidak merugi. Ia berharap, kondisi harga bahan baku dapat segera kembali stabil sehingga pelaku usaha kecil tidak terus terbebani. Selain itu, ia juga berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah terhadap UMKM yang saat ini terdampak kondisi ekonomi global. “Harapannya harga bisa normal lagi, dan ada perhatian juga dari pemerintah untuk usaha kecil seperti kami,” ucapnya.
Fenomena kenaikan harga bahan baku ini tidak hanya dirasakan oleh satu pelaku usaha, tetapi juga oleh banyak perajin tempe lainnya di Kabupaten Lebak. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan ekonomi yang terus berubah.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya solusi, bukan tidak mungkin sejumlah pelaku usaha kecil akan kesulitan bertahan. Oleh karena itu, stabilitas harga bahan baku dan dukungan kebijakan dinilai menjadi kunci agar sektor UMKM tetap bisa hidup dan berkembang.(mulyana)
Baca Juga: Tahun 2027, Anggran Mamin dan Perdin Pemprov Banten Dikurangi





















